Apa dan Siapa Anak yang Sebenarnya?!

Setiap hari dunia bicara tentang anak. Anak sendiri, anak tetangga, anak orang lain, anak jalanan, dan anak-anak lainnya dengan berbagai topik, isu, dan masalahnya. Tidak termasuk kita sendiri, kan?! Berbagai usaha juga terus dilakukan untuk menyelesaikannya, namun tidak pernah juga bisa diselesaikan. Bagaimana bila kita memulai semuanya dengan mulai bertanya, “Apa dan siapa anak yang sebenarnya?!”

Perdebatan tentang usia anak, usia berapa anak bisa disebut anak, menarik perhatian saya. Bukan soal berapanya, tetapi yang saya pikirkan justru tentang pengklasifikasian dan pengkategorian manusia. Sebagai manusia, kita sepertinya memang sudah diklasifikasikan dan dikategorikan dalam kelompok-kelompok tertentu, ya. Biarpun kita semua selalu meributkan soal hak asasi. Pantas saja harus selalu ada yang memerdebatkannya.

Secara fisik, seseorang yang telah akil balik, bisa dikatakan sudah bukan anak-anak lagi. Namun, coba kalau tanya kepada orangtuanya kita sendiri, apakah kita masih disebut anak-anak oleh mereka?! Biar sudah tua dan bangkotan serta keriput sekalipun tetap saja menjadi anak dan anak-anak di mata mereka. Ya, kan?!

Satu lagi, nih. Salah satu kriteria yang sering disebutkan sebagai salah satu “syarat” seseorang masih bisa disebut sebagai anak adalah bila belum menikah. Bagi saya, ini bisa diartikan juga sebagai “belum melakukan hubungan seksual”. Kalau memang demikian, semua yang telah melakukannya, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun karena paksaaan, selama sudah melakukannya, bisa disebut sudah bukan anak-anak lagi. Apakah memang demikian?!

Secara psikologis, ini bisa saja menjadi benar. Pada fakta dan kenyataannya, sulit sekali manusia mencapai sebuah kedewasaan. Lebih enak jadi anak-anak mungkin, ya?! Ego yang tinggi untuk bisa mendapatkan segala sesuatunya untuk kepentingan pribadi adalah salah satu ciri seseorang bisa disebut belum dewasa, kan?! Nah, apakah mereka yang sudah masuk dalam klasifikasi dan kategori usia dewasa, bisa disebut dewasa?! Bukannya masih terlalu banyak yang masih anak-anak juga?!

Bila kita mengaitkannya dengan urusan mental, menurut saya, ini lebih parah lagi. Manusia dewasa seharusnya adalah sudah menjadi manusia yang mandiri. Dalam arti, mampu bertanggangjawab terhadap dirinya sendiri, baik di dalam kehidupan pribadinya, maupun dalam mengikuti takdirnya sebagai makhluk sosial. Sekarang, coba kita bertanya pada diri kita sendiri dulu, apakah kita memang seseorang yang mandiri?!

Keadaan sosial juga menuntut manusia kehilangan kemandirian itu sendiri. Kita semua menjadi terlalu manja, dimajakan dan juga memanjakan. Segala sesuatunya yang lebih mudah dan praktis, walaupun kita sendiri sadar bahwa itu tidak baik dan tidak benar, tetap saja itu yang menjadi pilihan pertama. Memang lebih enak, sih?! Mempermudah kehidupan, ya?! Soal menjerumuskan atau salahnya, sih, bagaimana nanti. Gitu, ya?!

Kita juga sering sekali bicara soal anak yang tersisihkan, terlantar, tersiksa, dan berbagai penderitaan lainnya. Kita semua terfokus kepada masalah sosial yang Nampak, tetapi terlalu sering melupakan masalah yang ada namun tidak nampak. Berapa banyak anak yang ada di dalam asuhan orang tuanya dan sepertinya mendapatkan segala kemewahan namun sebenarnya tersiksa dan terniaya?! Apakah patokan seseorang yang tersisihkan, terlantar, tersiksa, dan menderita hanya dilihat dari sisi ekonomi saja?! Bagaimana dengan sisi pandang yang lainnya?!

Saya pernah menulis tentang Mimpi Seorang Pemimpi dan juga Anak Haram Pun Bermimpi, ini adalah gambaran atas apa yang saya sebut sebagai penyisihan, penelantaran, dan penyiksaan yang membuat seseorang menderita biarpun berada di dalam segala kemewahan dan kemanjaan yang diberikan. Memiliki pengaruh yang juga sangat besar terhadap masa depan mereka yang mengalaminya dan juga masa depan kita semua. Berapa banyak di antara kita, jujur, ya, merasakan dan mengalami hal yang sama?!

Ini adalah fakta dan kenyataan yang ada, lalu bagaimana bila kita mengaitkannya dengan hak?! Bicara soal hak, bagi saya, harus selalu bicara juga soal kewajiban. Ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan karena merupakan sebuah keseimbangan. Bila hanya bicara soal salah satunya saja, maka, menurut saya, sebaiknya kita jangan teriak juga soal keadilan. Bila keadilan memang diabaikan, berarti tidak perlu juga bicara soal moral dan etika. Lupakan saja semua unsur yang menjadikan manusia menjadi manusia yang seutuhnya. Apa harus demikian?!

Seperti juga yang pernah saya tuliskan sebelumnya soal lalu, kini, dan juga nanti. Kini adalah lalu dan juga nanti. Nanti adalah lalu dan juga kini. Yang sekarang harus selalu kita pikirkan adala bagaimana yang lalu, bisa menjadi bekal untuk kita kini dan nanti. Apa yang harus kita lakukan kini untuk nanti?! Apa mimpi kita untuk nanti?! Bagaimana mewujudkannya?! Begitu juga soal anak untuk nanti.

Memperhatikan segala topik, isu, dan masalah tentang anak, membuat saya berpikir tentang semua ini. Masalahnya, banyak sekali usaha dan upaya telah dilakukan, tetapi tetap sulit untuk bisa menyelesaikannya. Sama seperti masalah-masalah yang ada sekarang ini, seperti masalah seks juga, sepertinya ada yang hilang di sini. Kita semua sepertinya belum memiliki kesamaan persepsi dan pandangan tentang apa yang disebut dengan anak. Apa dan siapa anak?!

Perbedaan inilah juga yang kemudian, menurut saya, menjadi faktor yang sangat mendasar atas apa yang dilakukan. Tujuan bisa sama, tetapi caranya kemudian menjadi berbeda, yang pada pelaksaannya seringkali justru malah tidak sinkron dan seringkali juga justru saling berseberangan. Bagi saya, ini yang paling menyedihkan. Betapa sia-sia semua usaha energi yang sudah dikeluarkan untuk semua ini?! Kenapa tidak dijadikan satu kesatuan dalam sebuah sinergi yang saya pikir bisa membuat semuanya menjadi lebih luar biasa?!

Anak adalah anak. Mereka adalah mereka. Mereka adalah individu. Mereka adalah manusia. Mereka adalah generasi penerus. Mereka adalah masa depan. Mereka adalah apa yang membuat kita semua melakukan apa yang kita lakukan kini. Mereka adalah apa yang menjadikan kita juga nanti. Oleh karena itulah, menurut saya, saya mendefiniskan apa dan siapa anak sebagai: “Manusia yang di masa depan“.

Mereka yang di masa depan adalah semua yang lalu dan kini nanti. Tidak ada yang tidak ada. Semuanya adalah semua. Ada dan pasti selalu ada.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

14 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s