Dunia Berputar Hidup Terus Berjalan

Sepucuk surat tergeletak di atas meja kerja. Membuat saya terkejut dan nafas pun terasa berhenti. Belum lagi saya membacanya, namun hati ini sudah tak karuan. Saya membaca nama pengirimnya dan tertulislah sebuah nama. Nama seorang pria yang sudah lama hilang dari kehidupan saya. Seorang pria yang pernah mengisi hari-hari dalam kehidupan saya.

Masih ada di dalam ingatan bagaimana dia duduk di ujung sebuah teras sembari bermain gitar. Tas ranselnya selalu menjadi bantalan untuknya bersandar di dinding. Selalu mengenakan celana jeans yang sedikit kumal dan sepatu boots. Kaus oblong dan kemeja yang kebesaran. Terkadang rambutnya yang panjang diikat, tak jarang juga dibiarkannya terurai. Wajahnya yang putih dan matanya yang lembut dengan bulumata yang lentik banyak membuat perempuan terpesona. Hanya saja dia bukan tipe pria yang hangat. Dia sangat dingin sekali. Terlalu menakutkan bagi perempuan untuk berani mendekatinya. Yah, dia memang jarang bicara, tetapi kalau tidak suka dia bisa sangat sinis sekali.

Entah kenapa saya selalu bisa merasakan kelembutan dan kehangatannya. Bila mata kami bertemu, dia selalu tersenyum meski dari kejauhan. Melambaikan tangannya dan memanggil nama saya. Saya pun biasanya segera menghampiri dia dan duduk di sampingnya. Merebahkan kepala sejenak di bahunya dan bernyanyi bersama. Aaaahhhh indahnya!!!

Setelah beberapa waktu kami saling mengenal, kami pun jadi sering bertukar surat cinta. Dia mengirimkan saya surat berisi puisi dan syair yang ditulis olehnya. Saya pun membalasnya dengan puisi dan cerita. Memang begitulah cara kami saling berkomunikasi. Bila bersama kami tidak banyak bicara. Lebih banyak bercerita lucu dan bercanda. Paling sering cerita tentang pelajaran kuliah, biarpun kami berbeda jurusan.

Hingga kemudian dia menyelesaikan sekolahnya dan tiba-tiba saja menghilang. Tanpa ada ucapan selamat tinggal atau apapun juga. Saya sangat bersedih hati dan ingin sekali bisa berjumpa lagi dengannya. Sempat saya mencarinya tetapi sepertinya dia sudah jauh. Menurut kabar dari teman-temannya, dia langsung meneruskan sekolah di sebuah negara di Eropa. Dia memang sepertinya terburu-buru, bahkan wisuda pun dia tidak datang.

Setelah dia pergi saya baru menyadari bahwa selama ini saya merasa sangat dekat sekali dengannya tetapi saya tidak mengenalnya. Saya tidak pernah tahu dia tinggal di mana, dia juga tidak pernah datang ke rumah saya atau menelpon saya. Saya tidak tahu dia anak siapa, berapa bersaudaranya atau di mana dulu dia sekolah. Yang hanya saya tahu dia kalau kuliah selalu naik mobil berwarna hitam. Surat pun biasanya kami berikan langsung saat bertemu di tempat kami kuliah. Kami benar-benar hanya bertemu di kampus saja. Anehnya, kenapa tidak terpikir sama sekali untuk bertanya. Hmmm….

Anyway, akhirnya saya membuka surat itu dan mulai membacanya. Yang ingin saya ketahui pertama kali adalah bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan alamat rumah saya. Kenapa juga dia tiba-tiba saja muncul dan mengirimkan surat?! Ada apakah gerangan yang terjadi?! Perasaan antara senang, takut, dan sedih beraduk campur menjadi satu.

Saya ambil intidari kata-kata dan kalimat dari suratnya yang panjang setelah saya translate dulu. Habis panjang banget dan bahasanya campur aduk. Masih mending kalau satu bahasa, ini tiga bahasa dibolak-balik. Pusing!!!

“Saya tahu kamu pasti terkejut mendapatkan surat ini, karena memang sudah lama kita tak pernah berhubungan. Saya pergi tanpa meninggalkan pesan dan tak pernah juga menghubungimu. Sebenarnya saya tidak pernah pergi meninggalkanmu, saya selalu mengikutimu ke manapun kamu pergi. Silahkan bertanya kepada salah seorang sahabatmu, di mana saya selalu mendapatkan informasi tentangmu darinya. Begitu juga dengan alamat rumahmu sekarang. Saya mendapatkannya dari dia. Fotomu pun ada banyak lho! Jangan marah, ya!”

Mungkin juga! Teman saya banyak yang kenal dia juga. Teman dia juga banyak yang menjadi sahabat saya. Tapi siapa, ya?!

Saya waktu itu pergi karena saya takut sekali. Saya telah jatuh cinta denganmu sementara saya tahu kamu sudah memiliki pacar. Saya tidak ingin merusak semuanya karena saya juga tahu kamu tidak menginginkannya. Lebih baik saya pergi daripada saya harus kehilanganmu. Maaf! Sekolah sekolah sekolah! Itu dulu, deh! Daripada saya pusing mikirin kamu!”

Aduh!!! Sudah saya duga pasti ini penyebabnya!!! Ternyata ada enak dan nggak enaknya punya pacar. Coba saja waktu itu dia terus terang!!! Hmmm….

“Nggak mungkin saya bisa lupa sewaktu kamu membelai rambut dan mengusap tangan saya sewaktu saya terjatuh dari tangga. Pasti kamu nggak sadar! Kamu memang suka begitu, tuh! Suka nggak sadar! Otomatis, ya? Kan, bikin geer orang saja! Biarin, deh, dibilang kegeeran juga. Pokoknya saya senang banget waktu itu. “

Masa, sih?! Yang benar saja?! Benar-benar nggak ingat!!!

“Saya sekarang sudah pulang ke Indonesia. Ketemu, dong! Saya ingin sekali bertemu denganmu lagi. Saya bawa gitar, deh! Biar kita bisa nyanyi-nyanyi lagi seperti dulu. Kan, asyik bisa dekat denganmu lagi. Kamu boleh, kok, manja-manja seperti biasanya. Saya senang setiap kali kamu bersandar di bahu saya. Rasanya seperti benar-benar sedang pacaran.”

Gombal banget!!! Dasar kelakuan!!! Ampun, deh!!!

“Saya harap kamu jangan salah duga atas semua ini, ya! Saya tidak bermaksud untuk mengganggu kamu. Saya sebenarnya ingin sekali meminta bantuanmu. Anak saya, dua-duanya, sekarang ini tinggal dengan ibunya. Sulit sekali saya bertemu dengan mereka karena ibunya tidak mengijinkan saya bertemu. Semua memang salah saya. Saya dulu bukan seorang pria baik-baik dan bukan seorang suami yang baik. Saya telah menyakiti mereka dan sekarang saya sangat menyesalinya.”

Duh!!!

“Perlu kamu tahu, sekarang ini saya sedang bingung sekali. Saya pulang ke Indonesia setelah saya tahu kalau saya mengidap HIV. Saya pun berani menghubungi kamu karena saya tahu profesimu sekarang ini. Kalau nggak, mana saya berani? Saya hanya ingin kamu bersedia menolong saya.”

Ya, ampun!!! Lemas banget rasanya!!! Kenapa, sih?! Aduuuhhhhhh!!! Apa juga yang bisa saya bantu?! Membuatnya sembuh?! Nggak mungkin!!! Saya paling hanya bisa menjadi temannya saja. Saya paling hanya bisa memberinya semangat untuk bisa bertahan. Itu pun kalau saya bisa.

Saya sampai saat ini masih belum bisa membalas suratnya. Saya masih terlalu terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Terlalu banyak kejadian yang sama. Penyesalan selalu datang belakangan. Kenapa manusia tidak juga mau belajar?! Untuk sementara ini saya memilih untuk berdoa saja dulu untuknya. Saya belum sanggup untuk menemuinya ataupun melakukan sesuatu yang lebih lagi. Saya masih harus berpikir apa yang terbaik yang bisa saya lakukan. Semoga saja ada terang dan jalan untuknya dan untuk kita semua.

Sungguh perjalanan hidup itu penuh dengan kejutan. Siapa yang pernah menyangka?! Siapa yang pernah tahu rencana dan rahasia Tuhan?! Selalulah berikan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga untuk semua. Janganlah pernah lagi ada penyesalan di kemudian hari.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

19 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s