Untuk Apa Iri hati, Dengki Dendam, dan Cemburu?

Lelah sekali rasanya menyaksikan betapa rasa iri hati, dengki dendam, dan cemburu itu terus saja ada. Apa tidak capek? Apa tidak ingin menjadi manusia merdeka yang dipenuhi dengan rasa bahagia yang mendamaikan jiwa? Bukankah semua ingin bahagia dan damai itu ada?!

“Wah, kalau ML, sih, enak! Semua punya! Teman dan sahabatnya juga orang terkenal dan berduit. Mana mungkin dia peduli dengan kita? Mana bisa dia merasakan semua susah dan derita? Bau keringat orang susah pun tidak tahu! Tahunya hanya kemewahan dan hura-hura! Orang hebat memang sombong, ya! Mana mungkin bisa objektif? Omong kosong! Tapi, biarin sajalah! Dia, kan, memang populer karena berani menjual lendirnya! Namanya juga ML Si Bintang Berlendir! Belahan paha dan dadanya saja terus diumbar! Dosa! Menjijikkan! Sampah! Pelacur murahan! Amit-amit, deh!” Hahaha…. Mantap!!!

Semua ini sudah bukan cerita baru lagi dan bahkan sudah sangat basi bagi saya. Semua ini saya anggap sebagai selingan yang selalu membuat saya tertawa. Sudah seperti tahu saja siapa saya?! Apa tahu bagaimana hidup saya dan seluruh perjuangan serta kerja keras yang saya harus hadapi dan jalani? Dari mana tahu saya menjual lendir? Sudah pernah belikah?! Hehehe….

Bukan hanya saya saja yang sering tertawa akan hal ini, banyak teman dan sahabat merasakan hal yang sama. Memangnya, salah bila terlahir dari keluarga yang bisa memberikan semua fasilitas dan kenyamanan? Apakah pernah ada bayi yang lahir meminta untuk mendapatkan tubuh yang menawan? Apakah ada yang keberhasilan tanpa perjuangan dan kerja keras?! Apakah kalau dianggap memiliki segala yang ada berarti tidak pernah merasakan susah, sakit, dan derita?! Apakah perempuan yang bicara dan menulis tentang seks pasti menjual dirinya?! Apakah seorang yang memilih untuk menutup isi hati dan isi kepalanya pasti pendosa dan lebih buruk dari yang menutup atas kepala dan sekujur tubuhnya?!

Lantas, apakah juga menjadi sebuah kesalahan bila memiliki teman dan sahabat dari kalangan tertentu?! Tidak boleh, ya, memasang foto dengan mereka bahkan di media jejaring sosial pun. Kenapa berteman dan bersahabat harus dibatasi? Bagaimana dengan kehebohan orang-orang lain yang bertemu dengan para pesohor? Kenapa mereka boleh heboh dan asyik membanggakan diri dan pamer sementara saya tidak boleh?!

Yah, memang mudah sekali untuk menunjuk jari, mencela, mencaci maki dan mencemooh serta membuat berbagai tudingan. Tidak mudah bisa memiliki nyali untuk bercermin dan mengakui dengan jujur apa dan siapa diri sebenarnya. Untuk mau menjalani proses perjalanan menuju puncak pun banyak yang tak mau! Maunya instan saja! Baru menulis saja sudah merasa penulis yang hebat dan mampu memberikan nilai lebih dari editor profesional dan kawakan. Keren!

Sungguh sangat menyedihkan sekali semua ini. Menjadi sebuah bukti yang jelas bagi saya bahwa materi, fisik, dan nilai manusia jauh lebih penting dibandingkan apa yang selalu dipuja dan “katanya” dihormati”. Buktinya, sudah berani melebihi Dia dengan menentukan dosa dan memberikan nilai. Apakah manusia berhak menentukannya?!

Sombong sekali manusia, ya! Pantas saja dunia itu terus saja kacau balau dan berantakan. Tidak mudah untuk mau merendahkan hati dengan benar-benar bersujud agar belajar itu benar belajar. Sudah tahu dan paling, sih!!!

Seseorang yang dipenuhi rasa iri hati, dengki dendam dan cemburu tentunya akan sangat sulit untuk dapat melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas dan dari berbagai sudut pandang berbeda. Diri dan hati yang diliputi kemarahan akan membuat diri menjadi terus sakit dan menderita dan dengan kesombongan serta tinggi hati membuatnya sulit untuk bisa melepaskan diri. Toh bersujud pun lebih mudah tampaknya saja bersujud, bagaimana dengan hati?!

Seandainya saja mau bercermin dan berkaca serta membuka semua topeng itu, berapa banyak kata-kata suci dan penampilan “alim” hanyalah sekedar kata dan penampilan untuk mendapatkan nilai baik di mata yang lain. Mengaku lebih baik, lebih benar, lebih suci, lebih bermoral dan beradab tetapi masih terus berusaha menjatuhkan yang lainnya hanya untuk memenuhi nafsu, ambisi, dan ego semata. Bagaimana dengan pemburuan cinta, perselingkuhan, dan foto-foto tanpa sehelai benang, chat seks, phone seks, dan penggadaian diri demi materi yang telah dilakukan?! Beranikah untuk mengakuinya?! Kalau pun berani, berapa banyak alasan dan pembenaran yang akan dibuat untuk mendapatkan pengakuan dan pembelaan diri?!

Ooppss!!! Sebelum saya melanjutkan, apa ada yg mau mengakui bahwa semua itu adalah rasa iri hati, dengki, dendam, cemburu serta marah dan kesombongan hati? Sulit ya! Tentunya lebih mudah memberikan banyak alasan dan pembenaran selanjutnya serta tuduhan, tudingan, dan cacian serta cemooh selanjutnya. Monggo! Silahkan lanjut! Siapakah saya hingga berhak menentukan pilihan orang lain?! Memangnya siapa yang akan mempertanggungjawabkannya nanti?! Siapa yang menanam pasti akan menuainya juga, kan?!

Jika saya diminta untuk berkata-kata terang-terangan dan tanpa menggunakan bahasa berbelit, saya akan berkata, “Jika memang saya adalah penjual lendir maka patutlah saya untuk merasa malu. Bagaimana jika saya tidak melakukannya?! Saya memang bukan orang yang suci, alim, dan merasa lebih baik, benar, bermoral ataupun beradab dibandingkan dengan yang lainnya. Bagi saya, semua itu sama saja dengan sebuah kesombongan hati yang merugikan diri saya sendiri. Jika saya sudah merasa “paling”, maka dengan sendirinya saya sudah melanggar apa yang sudah diajarkan dalam tuntutan dalam keyakinan saya.

Siapakah saya sehingga berani berbuat tidak adil dan melebihi Dia?! Sungguh saya sangat takut sekali melakukan semua itu karena saya pasti tidak akan sanggup mempertanggungjawabkannya.

Lagipula, saya hanya ingin bahagia. Saya ingin menjadi manusia yang merdeka tanpa harus memiliki segala susah akibat iri hati, dengki dendam, dan cemburu. Saya memilih untuk terus berusaha mencipta dan berkarya karena menurut saya, hanya manusia yang bisa mencipta dan berkarya. Saya ingin menjadi manusia sejati dengan terus mencipta dan berkarya secara kualitas dan bukan kuantitas.

Apapun yang saya lakukan, hanya saya dan Dia yang tahu. Saya hanya berusaha menghormati semua anugerah terindah yang diberikan Dia kepada saya dengan memberikan apa yang saya miliki untuk semua. Dan semua itu tak perlu harus saya gembar gemborkan agar mendapat pujian dan tak pernah juga saya ingin mendapatkan balasan.

Saya adalah saya dan bukan yang lain. Biarlah saya menjadi Bintang berlendir yang mengukir seks pada bintang di langit. Saya ingin seks itu dihargai dan dihormati sebagai anugerah terindah darinya dan bukan hanya menjadi seonggok daging di belahan paha dalam pikiran-pikiran kotor yang penuh dusta dan kemunafikan.

Maafkan saya bila memang saya salah. Semoga Tuhan mengampuni kita semua.”

Manusia memang tak ada yang sama dan perbedaan itulah yang menjadikan pelangi dalam kehidupan indah. Manusia menjadi sama dengan pilihan yang diberikan. Semua bebas memilih dan menentukan pilihan sehingga seharusnya siap dan berani menghadapi segala resiko dan konsekuensinya dengan penuh tanggungjawab.

Kata dan bahasa adalah buah pikir dan rasa seseorang yang tidak mungkin dipungkiri ataupun berdusta.

Jadilah manusia bebas dan merdeka yang dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian. Hidup terlalu indah dan terlalu singkat untuk disia-siakan dengan segala sesuatu yang negatif dan merusak diri sendiri.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Untuk Apa Iri hati, Dengki Dendam, dan Cemburu?

  1. nez says:

    ceritanya… wow mbak!
    tapi aku pribadi bebas, merdeka……….

  2. linda says:

    marilah kita berkaca bersama-sama.
    ada rasa iri, dengki yang terselip dalam hati, musnahkan.
    ada teman, kerabat yang iri dan selalu ‘nyolot’ di balik tembok , abaikan .
    ada orang yang sudah ‘dari sononya’ kaya, cantik, dikenal banyak orang, anak orang terkenal, syukurilah dan ikutlah berbahagia.
    tiap orang sudah punya porsinya dari Tuhan, bukan?

    tulisan yang menarik. terima kasih Mariska.
    kita mengalami hal-hal semacam ini.
    hanya saja, ada yang tidak berani mengakuinya, ada yang malu-malu, ada yang langsung sedih berurai air mata, ada pula yang jadi membuat penyakit beratnya yang diidap bertahun-tahun menjadi bertambah berat karena berduka atas ulah orang-orang dengki itu.
    semua itu ada upahnya dari DIA.
    sebab Tuhan tidak mengukur manusia dari tutupan fisik tubuh manusia semata, namun tutupan hati yang terbalut ikhlas dan penuh senyum.
    apabila kata-kata saya dianggap munafik, lebay, dusta, biarlah juga Tuhan pula yang memiliki hak atas segalanya yang menilai.
    semua kita kembalikan senantiasa kepada NYA bukan?

    salam, dan kita saling doa ya!

    • bilikml says:

      Terima kasih mbak! Bersyukurlah semua itu terjadi pada kita karena itulah yg membuat kita juga terus terlatih kan?!

      Selalu ada doa penuh cinta untukmu mbak sayang

  3. antee says:

    nice..ML memang bikin jelezz dgn segala kebebasannya…ketakutan pd bayangan sendirii memang selaluu menghantuii…apakah sebegituu takutnya manusia pd bentuknya sendirii….bayanganku…hufftt

  4. Bahagia Arbi says:

    Speechless..! Mari kita teruskan perjuangan bersama2. Biarkan mereka bicara ttg apapun yg berhubungan dgn kita.

    Love you forever, mia bella.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s