Menunjuk Jari Memang Mudah

Masa SMA

Apa juga mudah mempertanggungjawabkannya?! Iya kalau benar, bagaimana kalau salah?! Benar atau salah juga, kan, relatif. Siapa yang sebenarnya berhak menilai?! Apa berani mengangkat tangan dan menunjukkan jari juga?!

Ditunjuk jari bukan barang baru untuk saya. Saya sering ditunjuk dan juga sering ditunjuk-tunjuk. Marah?! Untuk apa?! Lucu!!! Saya justru ketawa keras-keras. Kasihan, deh!!! Hanya sampai segitu sajakah mereka melihat?! Kaca mata kudanya dipasang kuat-kuat barangkali, ya?!

Saya masih ingat sewaktu masih duduk di bangku sekolah dulu. Entah apa alasannya, bila ada teman pria yang putus dengan pacarnya, jari tunjuk langsung ditudingkan ke wajah saya. Tahu mereka pacaran pun tidak. Tahu ada yang suka pun tidak. Saya jarang memperdulikan yang satu ini. Untuk apa juga?! Saya punya dunia sendiri yang lebih menarik untuk dilihat. Urusan seperti ini, tidak terlalu penting untuk saya. Tulis menulis dan baca membaca jauh lebih penting. Plus main dan gaul, dong!!! Saya jadi bertanya, “Kok, bisa, ya, sampai ada gank Anti Mariska?!“. Masuk kategori perempuan paling matre pula. Hmmm…. Introspeksi diri!!!

Tidak saya pungkiri kalau saya memang senang berpenampilan seksi. Rambut saya selalu panjang terurai. Saya tidak pernah pakai kaus dalam. Rok seragam selalu paling mini. Jangan pernah berharap melihat saya saat itu mengenakan celana panjang. Celana pendek, sih, masih mungkin. Satu lagi, saya paling senang datang ke kantin yang paling banyak teman prianya. Genit?! Iya!!! Saya memang senang sekali menggoda para teman pria. Enak, kan, uang saku utuh!!! Cokelat hampir setiap hari ada. Surat cinta?! Hadiah cinta?! Antar jemput?! Jangan ditanya, dong?! Hehehe….

Risih dengan tatapan dan pandangan itu?! Hahaha…. Saya justru paling senang mempermainkan peran. Bagi saya, silahkan menilai. Saya tidak pernah takut dengan nilai. Apalah artinya nilai bila semuanya hanya semu semata. Diajak bermain yang lebih sehat di dalam kelas tidak berani?! Pintar tidak pintar bukan inti utama. Cantik tidak cantik bukan persoalan penting. Saya hanya lebih suka menjadi diri saya sendiri. Saya tidak suka menjadi yang lain hanya untuk mendapatkan nilai lebih di mata yang lain. Apa untungnya?!

Ada satu kejadian yang sangat berkesan untuk saya. Waktu itu saya sedang menunggu thesis saya selesai. Berhubung makan waktu tiga bulan lebih untuk memeriksanya, jadi, daripada bengong, ya, mendingan kerja. Saya kerja di toko baju gay dan lesbian. Saya juga mencari tambahan dengan menjadi guide untuk mereka yang gila belanja. Bergaul dengan beragam komunitas agar riset saya tentang seks bisa terus berlanjut secara diam-diam dan bertahap. Saya jadi sering keluar masuk wilayah pelacuran dan tempat berpesta pora dan bersenang-senang di malam hari. Sendiri pun saya tidak pernah takut ke sana. Kenal, sih?! Hehehe….

Sampai kemudian ada teman yang meminjam apartemen saya untuk merayakan pesta kelulusannya. Saya juga diminta tolong untuk memasak. Yah, sebisanya, deh!!! Lalu datanglah teman-teman teman saya itu. Mereka tampak sangat terpelajar dan suci sekali. Sebagai tuan rumah, saya harus sopan. Saya yang menaruh makanan di piring mereka. Tak sengaja, ada salah satu dari mereka, yang makanannya tersentuh tangan saya. Spontan dia berteriak, “Najis!!! Haram!!!“.Saya baru tahu kalau ternyata, selama ini saya dianggap najis dan haram. Tapi kenapa, dong, mau datang ke apartemen saya?! Kalau tidak saya sentuh, dimakan juga, kan?! Apa nggak tahu, ya, saya yang masak juga. Sudah pasti saya peganglah.

Bicara punya bicara, mereka akhirnya terkejut dan malu setelah teman-teman saya memberitahu mereka siapa saya, apa saya, dan di mana mereka. Tetap gengsi untuk meminta maaf. Hanya berbasa-basi saja. Saya yang meminta maaf kepada mereka, “Maaf, ya, saya tidak bisa menjadi seorang terpelajar, terhormat, suci dan tahu sopan santun seperti kalian. Kalian memang hebat dan luar biasa. Saya sungguh sangat terpesona. Semoga saja saya bisa tetap memiliki hati.” Hahaha….

Semakin parah setelah saya kemudian berani memproklamirkan diri terjun ke dunia seks dan relationship. Perempuan gitu, lho?! Nggak malu, ya, ngomongin-nya seks melulu?! Murahan barangkali, ya?! Pasti murahan, dong?! Gampanganlah, ya?! Apa, sih, yang nggak bisa dibayar dari seks?! Gratisan juga bisa, kok?! Anak dugem lagi?! Dikelilingi kemesraan para pria melulu pula. Seronok dan mengundang lagi. Wuiiihhhhhh!!! Number one di pasaran, deh!! Awas pacar dan suami!!! Huahahahahaha…. Seru!!!

Tulisan ini seperti curahan hati jadinya, ya?! Narcist pula!!! Hehehe….

Saya tidak tahu harus memberi contoh siapa soalnya untuk bisa menjelaskan apa yang saya maksudkan. Sebegitu mudahnya manusia menunjukkan jari. Tidak tahu pun menunjuk. Tidak mengerti juga menunjuk. Giliran diminta untuk menunjuk diri, waaahhhh...!!! Takutnya setengah mati!!! Sebegitu takutnya menertawakan diri sendiri. Takut dibilang bodoh dan hina. Takut tidak dianggap dan tidak mendapatkan posisi. Yang paling parah, takut dituding dan merasa bersalah!!! Yah, bagaimana, dong?! Maunya memang jadi paling terhormat, dianggap, pintar, suci, dan benar sampai lupa, deh, sama yang paling dari semuanya.

Bagi saya, biarlah semua menunjuk jari. Saya adalah saya. Saya adalah Mariska Lubis yang senang dan tergila-gila dengan seks. Saya adalah pecinta bercinta. Saya senang melukiskan desah. Saya suka dengan basah. Saya suka berguling dan bergoyang sampai menggelinjang!!! Saya adalah saya. Seks adalah hidup saya.

Siapa yang tahu saya sebenarnya selain saya sendiri. Siapa juga yang tahu dia dan mereka yang sebenarnya selain dia dan mereka sendiri. Apa semua harus dibuktikan?! Tidak penting!!!

Biarkan waktu yang bicara. Bagi saya, nilai dan kebenaran mutlak itu hanya dari Dia. Dia tahu persis apa yang saya perbuat dan apa yang sedang saya lakukan. Entah bagaimana dengan yang lain?! Pilihan semua tersedia. Saya hanya bisa berharap yang terbaik untuk semua. Itu saja.

Selamat memilih!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

12 Maret 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Menunjuk Jari Memang Mudah

  1. Bahagia Arbi says:

    Genk anti-arbimariska, mreka lucu! sudah tua masih anak2! i dont care! saya mo duet ama siapa jg urusan saya, mo ga dibca tulisan2 saya tak mengapa,krena saya tak suka diatur2 mereka! Tetap semangat yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s