Paraphilia

SADAR atau tidak kita sadari. Peduli atau tidak peduli. Merasa atau tidak merasakannya. Mereka selalu ada. Bisa kita yang membuat mereka seperti itu atau kita yang menjadi korbannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Membaca novel yang berjudul “Elle Eleanor” karya Zav Zanzad membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini. Bukan tentang buku itu tetapi esensi yang saya tangkap dari latar belakang penulisan buku itu, di mana di dalamnya diceritakan berbagai kasus kelainan seksual yang memang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang perempuan yang suka dengan pria daun muda, vouyerism, dan ekshibitionism yang jelas merupakan bagian dari penyimpangan psikologis seksual atau disebut dengan paraphilia.

Penelitian kecil pernah saya lakukan terhadap sekelompok pria homoseksual di daerah Jakarta. Usia mereka antara 20 sampai 35 tahun. Tergolong masih sangat muda, kan? Ya, mereka juga masih sangat aktif dalam melakukan kegiatan seksual. Tidak semuanya berganti-ganti pasangan, ada juga yang memang memiliki pasangan tetap selama bertahun-tahun. Yang ingin saya cari tahu adalah apa latar belakang mereka yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu.

Awalnya saya berasumsi bahwa ada hubungannya dengan “penerimaan” di dalam lingkungan. Persis seperti juga yang pernah saya bahas dalam tulisan “Predator Seksual Hewan”. Ternyata memang benar adanya. Tujuh dari sepuluh orang yang saya wawancarai, merasa sangat nyaman berada di dalam lingkungan homoseksual. Mereka merasa lebih bisa diterima dan lebih “dianggap”. Mereka juga bisa lebih bebas berekspresi. Tidak perlu takut untuk menjadi diri mereka sendiri. Wajar kalau kemudian berkembang mitos bahwa perilaku homoseksual itu adalah sebuah penyakit menular. Siapapun yang masuk ke dalam lingkungan itu, bisa terbawa arus dan tertular sehingga kemudian menjadi seorang pria homoseksual juga.

Sebuah kasus yang sangat menarik, saya dapatkan dari seorang pria homoseksual bernama Yulizar. Again, nama samaran, ya!!! Usianya 26 tahun. Awalnya dia mengaku bahwa dia bukanlah seorang pria homoseksual. Sama seperti pria “normal” lainnya, dia juga menyukai perempuan. Malah dia sempat beberapa kali pacaran dengan perempuan. Cantik-cantik pula! Soalnya, Yulizar memang ganteng. Badannya juga tinggi, tegap, berotot. Sampai kemudian pada suatu masa di mana dia merasa tidak diterima oleh teman-temannya. Dia sering sekali diperolok-olok dan dijadikan bulan-bulanan. Pernah sampai dia ditelanjangi ramai-ramai dan penisnya diolesi dengan balsem. Bisa terbayang, kan, bagaimana panas, sakit, dan perihnya?

Dia memang mengaku kalau selama ini dia seringkali berbohong kepada teman-temannya. Dia mengaku-ngaku kalau dia anak orang berada, sering pergi jalan-jalan ke luar negeri, dan tidak memiliki masalah apapun di rumahnya. Mungkin pada awalnya, teman-temannya itu percaya, mengingat dandannya yang selalu “wah” dan bermerk. Kebohongan lama-lama tercium juga, dan hal inilah yang mungkin menyebabkan teman-temannya menjadi sering mengganggu, memperolok, dan menghinanya. Yulizar sadar benar akan hal ini. Yang menjadi pertanyaan saya justru, kenapa, sih, harus diganggu, diperolok, dan dihina? Leluconkah? Bagi saya, kalau sampai kelewat batas, sudah tidak lucu lagi. Jahat!!!

‘Yulizar menjadi semakin larut dalam kepedihan. Dia semakin lama semakin merasa terasing dari lingkungannya. Dia benar-benar merasa tidak memiliki teman. Teman yang mau menerima dia apa adanya. Kemudian datanglah seorang teman lama, yang ternyata seorang pria homoseksual. Dia menjadi teman sekaligus sahabat yang sangat baik dan setia. Mulailah Yulizar berkenalan dengan lingkungan teman-temannya itu. Kenyamanan dan penerimaan luar biasa yang tidak pernah dirasakannya selama ini, membuat Yulizar pun kemudian memutuskan untuk menjadi seorang pria homoseksual. Dia pun merasa puas dengan keadaannya sekarang ini dan tidak pernah terpikir untuk berubah menjadi seorang pria “normal” kembali.

Terlepas dari perilaku yang mereka lakukan kemudian, tetapi cobalah kita merenungkannya kembali titik balik atau titik awal sehingga timbulnya sebuah permasalahan. Kalau sudah begini, siapakah yang salah? Dia, kita, atau mereka?

Ada banyak sekali kasus serupa seperti yang pernah saya ceritakan dalam tulisan yang berjudul “Predator Perempuan”. Menurut saya, kita bukan hanya harus mewaspadai mereka-mereka yang memiliki perilaku seksual menyimpang ini atau bahkan menghina, menghujat, dan menyingkirkan mereka. Bila memang ingin masalah ini tidak terus berlanjut, ada baiknya kita melhat diri kita sendiri terlebih dahulu. Apakah kita pernah berbuat sesuatu yang membuat mereka menjadi seperti itu? Bukanlah suatu hal yang tidak mungkin mengingat kita seringkali tidak sadar atas apa dampak serta efek dari perilaku kita sendiri terhadap orang lain. Malah seringkali kita justru mengabaikan dan mencari alasan serta pembenaran sendiri. Bahkan juga menyepelekan dan menganggap semua itu sebagai sebuah lelucon belaka.

Saya mengajak semua pembaca untuk bisa benar-benar mencoba selalu berpikir panjang atas segala sesuatu yang hendak kita lakukan. Ingatlah, semua aksi ada reaksi. Di mana ada reaksi maka akan ada aksi juga. Semua terus berputar dan berkesinambungan. Perhatikanlah lingkungan keluarga dan sekitar kita juga. Ajaklah bersama-sama untuk selalu berbuat kebajikan dan kebaikan. Semua ini bagi kepentingan kita bersama.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

19 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s