Bunga Wijayakusumah dan Kunang-kunang

Illustrasi: linda-rafly.blogspot.com

Di dalam temaram malam, di saat sepi dan kosong menghantui diri, bunga wijayakusumah bersemi dan kunang-kunang berkelap-kelip. Menebarkan pesona keindahannya untuk merebut dan meraih cinta yang diinginkan.  Menggelora bahana gairah penuh hasrat dan hawa nafsu yang berbalut dan berkerudung serta mengatasnamakan cinta. Meski hanya sesaat tidaklah pernah bisa hilang atau terhapuskan.

Perempuan dan pria menggoda dan tergoda. Mencari sesuatu yang lain dan berbeda dari yang selama ini pernah terjadi dan terbiasa. Dusta dan kemunafikan serta ketakutan membuat hati menjadi susah dan ingin lari serta melarikan diri. Bermimpi bahwa seolah di balik dinding yang lain ada kebahagiaan dan keindahan yang jauh lebih nyata terasa. Tidak disadari bahwa rumput tetangga selalu nampak lebih hijau dari rumput sendiri biarpun yang lain melihat rumput diri ini jauh lebih hijau lagi. Mimpi itu memang benar bukan hanya sekedar mimpi melainkan hanyalah mimpi di siang bolong.

“Say, sedang apakah kamu di sana?”

“Kenapa? Rindu, ya, say?!”

“Nggak tahu, deh! Tiba-tiba saja saya ingin menyapamu, say!”

“Memangnya kenapa? Ada apa dengan saya?”

“Memangnya nggak boleh, ya?”

“Boleh, sih! Cuma apa yang membuatmu selalu menyapa saya?”

“Jujur, nih! Boleh, nggak?”

“Jujur apa? Jujur kacang ijo?! Boleh saja tapi jangan lupa pakai susu bukan santan.”

“Gini, say. Tahukah kamu bahwa kamu memiliki sesuatu yang lain dari yang pernah saya rasakan dan miliki. Dari sanalah sebenarnya saya kenapa selalu ingin menyapamu. Tapi say….”

“Apaan, sih?!”

“Ya itu, say! Ah kamu pasti sudah tahu!”

“Apa, sih?! Yang jelas, dong!!!”

“Tahukah kamu, say. Kau adalah satu dari sekian puluh jenis bunga yang tumbuh di halaman itu. Belum pernah kusentuh tetapi keharumanmu telah sampai di sini. Aku yang tidak pernah melihat dan menyangka bahwa banyak kumbang yang menghampiri kau. Tersentak aku mendengar riuh suara para kumbang dan membuat bola mataku tertuju padamu. Tak sadar, kakiku melangkah dan tangan kananku meluncur deras ke depan seperti ingin menjangkaumu.”

“Kekasih pujaan jiwa, kutatap bayang wajahku di dalam cermin ruang kamarku ini. Oh, kau sang kumbang, kekasih jiwa, betapa merona wajah ini mendengar kata-katamu. Tetapi sesungguhnya hati ini tetap bertanya, engkaukah itu, kekasih jiwa yang penuh cinta?”

“Aih, jadi malu rasanya.”

Illustrasi: ngerumpi.com

Sejak saat itu semuanya terasa indah dan mimpi pun benar-benar nyata. Sementara apa yang sesungguhnya ditutupi oleh tirai dan selimut gelap yang seolah tak akan pernah akan terungkap. Waktu bisa bicara, tiada pesta yang tak pernah usai. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu waktu akan jatuh juga. Tirai itu pun tiada lagi bisa tak terbuka.

“Apa yang terjadi hingga dirimu berubah seketika?”

“Ah! Nggak, kok, say! Biasa saja. Hanya sedang capek saja. Kamu, kan, tahu saya baru saja pulang dari perjalanan jauh. Situasiku juga sedang sulit.”

“Situasi apa? Dengan perempuanmukah?”

“Kamu tahu nggak, say? Sewaktu aku di sana, dan aku merinduimu, kubuat sebuah tulisan kepadamu. Gilanya, say, itu tidak terkirim padamu. Aku baru sadar setelah bangun tidur karena semalam aku terlalu banyak minum.”

“Memangnya kamu nulis apa? Terus, kamu kirimnya ke mana?”

“Itu! Ke si itu, yang pernah kuceritakan itu!”

“Siapa? Dia? Dia yang mana? Istrimukah atau kekasihmu yang lain?!”

“Bukan istriku, tapi dia.”

“Kamu, sih, pakai mabuk segala! Sudah tahu sakit, masih juga minum! Tuh, kan, jadi salah ngirim SMS-nya! Kamu sayang nggak, sih, sebenarnya sama aku?”

Bunga wijayakusumah yang dikejar fajar karena akan segera layu bingung mencari kunang-kunang yang telah pergi menyembunyikan diri setelah puas bersanggama. Rasa percaya diri dan keyakinan itu pun runtuh karena sesungguhnya memang tak pernah ada. Dalam ingin selalu saja muncul ragu tetapi tetap saja kaki ingin melangkah.

Kunang-kunang pun takut melihat fajar sementara malam hampir sirna terbawa angin. Arus tiada terbendung, tenggelam atau hanyut menjadi pilihan. Tak memiliki daya untuk melawan arus dan menepi untuk menepis rasa bimbang karena sekali mendayung dua tiga pulau ingin dikuasainya. Kunang-kunang tak mampu meyakini malam dan dirinya karena sang fajar datang menjemput.

Fajar pun akhirnya tiba pada waktunya. Bunga wijayakusumah dan kunang-kunang saling berangkulan di dalam kebimbangan dan keraguan. Diam yang telah menguak tirai menghentikan segala langkah dan menghapuskan mimpi meskipun hasrat dan keinginan itu masih terus memburu dan mendera. Tidaklah mudah untuk menjadi jujur dan memiliki jiwa besar untuk mengakui semuanya. Keberanian untuk mengakui dan menerima fakta serta kenyataan yang sebenarnya telah tertutupi oleh ketakutan dan kemunafikan biarpun kesadaran akan arti sebuah nilai itu bukanlah milik mereka.

Sekali lagi, semua ini adalah pilihan. Yang pasti, apapun pilihan itu memiliki resikonya masing-masing. Ketetapan hati di dalam mengambil keputusan biarpun tidak menjawab masalah bunga wijayakusumah dan kunang-kunang yang sebelumnya telah menghantui namun paling tidak jalan menuju kebahagiaan yang selama ini dicari tidaklah perlu terlalu begitu sulit dan rumit untuk dilewati.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis dan Edysa Tarigan

Catatan:

Wahai bunga wijayakusumah, duhai kunang-kunang, alangkah indahnya bila kepribadian itu memang benar ada di kerumunan dan bukan kerumunan yang ada di kepribadian. Janganlah mengambil wajah dari bayang di atas air.

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s