Dawai Kehidupan Bercinta

Illustrasi: oroktumbilajadipamingpin.blogspot.com

Keinginan dan mimpi tidaklah boleh pernah hilang agar hidup terus diisi oleh usaha dan kerja keras namun terkadang keinginan dan mimpi itu seringkali menjadi sebuah obsesi yang menghanyutkan. Membuat diri menjadi lupa mana yang disebut dengan memberi dan mana yang disebut dengan mendapatkan, apalagi bila semua ini berhubungan erat dengan yang namanya cinta. Toh cinta itu sendiri seringkali tidak mudah dibedakan dengan hanya terpesona sesaat dan selalu ada nafsu yang mengiringinya.

Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara mendiskusikan tentang komitmen atas masa depan. Menjadi tidak mudah karena ada yang lain yang telah menjadi bagian dalam hidup dan merupakan masa depan itu sendiri. Menjadi lebih sulit lagi karena ada juga masa lalu yang selalu menghantui dan menjadi pemikiran. Sadar disadari, diakui tidak diakui.

“Apa yang menjadi tujuan?!”

“Bagaimana dengan menikmati dan menjalaninya. Biarkan waktu bicara.”

“Untuk bisa menghasilkan pohon yang kuat diperlukan akar yang kuat.”

“Namun diperlukan bibit yang sehat dan kuat sebelum ditanam. Dirimu ingin menjadi pohon apa?!”

“Saya ingin menjadi pohon kelapa yang bisa tumbuh di mana saja.  Dari akar hingga ujung daun memberikan banyak manfaat bagi semua.”

“Jadilah pohon kelapa yang bisa bertahan di mana saja dan bisa hidup di mana saja. Selalu memberi dan tanpa pernah berharap.”

“Terlampau ideal.”

“Apakah ideal itu berarti tidak mungkin sehingga tidak perlu diupayakan dan diusahakan?!”

“Bukankah hidup adalah sesuatu yang nyata dan terasa.”

“Bukankah hidup adalah juga mimpi yang antara ada dan tiada?!”

“Jika demikian, apakah landasan mimpi?!”

“Mimpi adalah keinginan yang berasal dari rekam jejak berupa memori, keinginan yang merupakan hasrat, pemikiran yang merupakan buah dari keduanya dan juga rasa yang diolah dari semuanya.”

“Jika itu adalah keinginan,  mengapa saya tidak boleh berharap?!”

“Harapan itu memang harus selalu ada tetapi jangan pernah lupakan tentang ketulusan dan keikhlasan. Di mana seringkali kita lupa bahwa harapan itulah yang seringkali membuat kita menjadi sakit dan menderita bila semua itu tak pernah tercapai, sementara di dalam cinta, tidak perlu harus ada rasa sakit ataupun penderitaan.  Mengapa tidak membebaskannya dan membiarkan dia dan diri menjadi terbebas dengan hanya memberikan cinta agar cinta itu tak memiliki batas dan cinta yang diberikan itulah yang mengisi semuanya.”

“Sayang, di atas kaki ini kita berpijak dan dengan kaki menapak bumi kita melangkah, sementara kepala berada di atasnya. Tahukah dirimu akan hal itu? Bukankah wajar jika kita hidup selain hanya memiliki mimpi juga memiliki harap?”

“Saya adalah perempuan di antara yang tiada hidup di bumi ataupun di atas langit. Tahukah dirimu bahwa semua ini adalah pilihan dan saya pun menghargai serta menghormati pilihanmu. Tentunya tidaklah mudah untuk bisa menghadapi dan menerima segala resiko dan konsekuensinya. Barangkali kita seharusnya bertanya pada diri masing-masing, sudah siapkah?! Mampukah menjalaninya?!”

“Raihlah tangan ini, genggam dan jangan pernah lepas lagi. Marilah kita melangkah bersama.”

“Saya raih tanganmu, saya genggam, dan saya tak akan pernah melepaskannya. Kita akan melangkah bersama namun untuk tujuan bersama dan semua bukan hanya untuk diri saya, dirimu, ataupun kita.”

“Ya, karena itulah fondasi kita dan itulah yang saya sebut dengan akar kehidupan kita.”

“Ya, dan tanpa harap itulah yang saya sebut sebagai sebuah cinta yang sebenar-benarnya dan merupakan benih yang sehat dan kuat.”

Setiap manusia memiliki sejarah di dalam perjalanan kehidupannya sebagai pembelajaran menuju kebahagiaan yang sejatinya. Setiap manusia pun diberikan keadilan untuk memiliki pilihan dan diberikan akal serta rasa untuk memiliki keberanian di dalam menghadapi segala resiko dan konsekuensinya. Rasa hormat, penghargaan, keadilan, dan juga kebebasan itu ada bila semua mau sama-sama menghargai, memberi, dan menerima. Bagaimana seharusnya pilihan itu diambil dan dipilih?!

Adalah sebuah kesadaran penuh di dalam menentukan pilihan dan diperlukan pengetahuan untuk dapat melihat banyaknya pilihan dan menentukannya. Diperlukan juga objektifitas untuk bisa melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang yang berbeda agar pilihan yang ditentukan itu bisa benar-benar merupakan sebuah hasil dari sebuah kesadaran penuh dan merupakan hasil dari pengetahuan yang dimiliki. Tidaklah mudah untuk bisa menjadi objektif karena seringkali ada rasa berupa nafsu dan keinginan baik berupa obsesi, harapan, ataupun mimpi itu sendiri. Tidak semua orang yang memiliki pengetahuan bisa menjadi objektif karena di dalam sebuah objektifitas maka tiada lagi harus ada rasa yang membelenggu dan membatasinya.

Sebuah kewajaran bila manusia ingin memiliki pasangan dan menghabiskan hidupnya bersama dengan kekasih hatinya. Siapa yang tidak menginginkan dan membutuhkan cinta?! Ditambah lagi di dalam dunia yang penuh dengan nilai, persepsi, asumsi, dan kesimpulan, tentunya memiliki pasangan dan berumah tangga adalah menjadi sesuatu yang sangat diinginkan dan diharapkan.

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa semua itu melewati proses yang tidak mudah  karena berumah tangga itu sendiri bukanlah menjadi sebuah solusi dan jawaban atas penyelesaian dari masalah yang sebelumnya ada. Harus disadari penuh bahwa berumah tangga memiliki kompleksitas kerumitan yang jauh lebih sulit dan komples lagi, hingga diperlukan sebuah kesiapan di dalam menghadapi dan menjalaninya.

Pertanyaannya, bagaimana bila salah satunya memang tidak siap dan bahkan tidak pernah menginginkannya?! Apakah harus ada yang dipaksakan?! Bila pun kemudian harus ada kesepakatan, kesepakatan seperti apakah yang sebenarnya dianggap adil?!

Tulisan ini hanyalah pemikiran dari hasil sebuah diskusi dan refleksi atas kehidupan dari dua insan yang sedang bercinta di mana masing-masing adalah pribadi yang memiliki karakter pemikiran dan mimpi. Apa yang akan dipilih dan ditentukan nantinya, hanyalah waktu yang bisa bicara.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis dan Edysa Tarigan

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s