Kebenaran Atau Pembenaran?

Sama-sama ada benarnya tapi belum tentu benar. Bisa saja benar bisa juga dibenar-benarkan. Sebegitu besar arti kata benar sehingga diperebutkan dan membuat bingung sendiri mana yang menjadi kebenaran, mana juga yang pembenaran. Semuanya benar-benar bisa dibolak-balik!!! Mudah lagi!!!

Ada yang suka marah nggak, kalau dibilang salah?! Padahal, kan, benar, ya?! Masa salah, sih?! Orang benar, kok?! Mereka saja, tuh, yang salah! Suka nggak jelas, deh?! Hehehe….

Padahal sudah nyata-nyata salah dan terbukti juga salah. Daripada gengsi jatuh dan muka hilang, yah, lebih baik dimulai lagi dengan kata-kata benar yang baru. Pembenaran atas kesalahan yang telah dibuat agar tidak menjadi salah dan malah menjadi benar. Diputar-putar, dibolak-balik, pokoknya harus benar. Tidak boleh salah!!! Hmmm…, seperti siapa, yah?!

Capek nggak kalau saya ajak berpikir?! Nggaklah, ya?! Kan, ganti-gantian sama bercinta. Habis seks dan bercinta, mikir lagi, terus seks dan bercinta lagi, dan mikir lagi. Jadinya biar menggairahkan selalu. Tahu, dong, kalau habis berpikir, kan, adrenalin dan libido meningkat. Oke?!

Benar itu apa, ya? Ya, iya, benar itu tidak salah!!! Kalau salah, ya, sudah pasti tidak benar. Gimana, toh?! Pakai nanya pula?! Bikin bingung saja!!!

Nah, bagaimana kalau adil? Tidak berat sebelah? Termasuk benar nggak?! Kalau lurus hati? Dapat dipercaya? Bisakah ini semua benar?! Benar juga bisa sangat, kan?!  Apa benar itu sangat?! Jangan-jangan sangat itu benar?! Yang mana yang benar kalau sudah begini?!

Bicara soal kebenaran tidak pernah lepas dari pemikiran yang sangat dalam. Hati juga harus benar-benar tulus. Susah bila kita bicara tentang kebenaran kalau tidak pintar dan hebat. Tidak mungkinlah seseorang bisa bicara tentang kebenaran. Meskipun kebenaran itu  cocok dengan keadaan yang sebenarnya dan harus benar-benar sungguh-sungguh. Tidak sepotong-sepotong. Harus benar-benar total. Tapi, kalau pas lagi tidak sengaja atau kebetulan, kan, bisa jadi, ya? Kebenaran ketemu, masa nggak boleh?!

Bicara soal proses bagaimana kebenaran ini menjadi benar dan tidak pernah salah adalah apa yang menjadikannya pembenaran. Dibilang sulit juga nggak, dibilang mudah juga tidak. Semua tergantung tingkatan kebenaran dan pembenarannya itu. Juga tergantung kepada siapa yang membenarkannya itu. Amat sangat tergantung kepadanya.

Pusing, nggak?! Kalau pusing, buka kamus besar Bahasa Indonesia, ya!!! Baca yang benar!!! Benar-benar baca!!! Biar benar!!! Hehehe….

Kenapa, sih, harus selalu benar?! Kenapa tidak boleh salah?! Kalau salah memangnya kenapa?! Belum siap mempertanggungjawabkannya atau tidak berani mempertanggungjawabkannya?! Atau takut dijadikan bahan untuk menutupi kesalahan yang lain agar kesalahan yang lain itu tidak mucul ke permukaan?! Biasalah, kalau ada kesempatan dalam kesempitan, biarpun sempit tetap saja dipaksakan. Iya, nggak?! Kalau sudah begini, apa bedanya dengan pembodohan, ya?! Hmmm…. Kalau sudah bodoh mungkin tidak masalah, tapi kalau yang tidak mau dibodohi bagaimana?! Bisa ribut, nih?! Jangan sampai ribut, dong, ya?! Kita pakai cara dan strategi yang lebih halus saja. Bagaimana kalau kita munculkan kebenaran lewat pembenaran?!

Pembenaran kemudian muncul sebagai usaha untuk memutarbalikkan keadaan. Segala upaya dicari untuk bisa mencapai kata benar dan semua orang mengakui kalau itu benar. Mulai dari alasan karena waktu itu sedang tidak fokus, dijebak, capek, tidak mood, bahkan sampai ada juga yang menghubung-hubungkannya dengan urusan mistis. Diguna-gunalah, dipeletlah, ya, pokoknya ada saja alasannya.

Kebenaran juga sering dijadikan tameng atas segala kesalahan dan juga pembenaran yang dilakukan. Saya suka bingung juga kalau sampai ada yang melakukannya. Kok, bisa-bisanya ya, menjual kebenaran dengan sebegitu mudahnya. Ditambah dengan surga dan neraka, pahala dan dosa pula. Seperti mengerti saja arti dari kebenaran yang dijadikannya tameng itu. Kalau benar-benar mengerti, tidak mungkinlah bicara soal dosa dan pahala sampai sedemikian hebatnya. Yah, mungkin juga karena sudah merasa lebih dari yang menciptakan. Lupa diri kalau kita semua hanya yang diciptakan.

Kenapa?! Masih tidak terima juga?! Masih harus benar juga?! Hehehe…. Harus mulai dengan pembenaran baru, dong?! Kebenaran apa lagi yang mau dijadikan tameng?! Hahaha…. (Benar-benar ngakak, nih, saya!!! Huahahhahahahahhahahahahahhahaa…. Nggak bisa tahan!!!)

Ini tulisan hanya sekedar iseng saja. Lucu soalnya melihat keadaan negara sekarang ini. Mau masyarakatnya, mau pemimpinnya,ya sama saja. Sama-sama senang sekali berputar-putar sampai akhirnya lupa pada duduk masalah yang sebenarnya. Semuanya terlalu sibuk rebutan untuk menjadi yang paling benar, sih?! Coba kalau mau sama-sama berpikir dengan baik dan tenang. Tidak juga mencari yang benar tetapi untuk berpikir bagaimana melakukan yang benar. Kebenaran itu sudah ada, kok. Tinggal mau benar-benar dipahami atau tidak. Dipahami memakai hati yang penuh cinta akan sangat membantu, lho!!!

Yuk, kita sama-sama berpikir yang benar untuk bisa melakukan yang benar!!! Ada yang mau ikut?! Kita mulai dari seks dan cinta dulu, deh!!! Mau, ya?! Mau, dong!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

19 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s