Pejuang Pembual Menjual

Pasti laris manis. Namanya juga menjual bualan. Yang tertarik banyaklah. Apalagi bila bualannya tentang sedih dan derita serta susah dan nestapa. Banyak yang beli. Banyak banget!!!

Saya melihat sekarang ini sepertinya banyak sekali yang berdiri tegak dan tampil sebagai seorang pejuang. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Terselubung atau terang-terangan. Baik dalam bentuk kegiatan politik, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, dan juga dalam karya seni dan lainnya. Seru!!! Emang hebat banget kalau bisa disebut pejuang. Syukur-syukur bisa jadi pahlawan, ya?! Keren!!! Hebat!!!

Nah, yang paling hebatnya dari para pejuang ini adalah kemampuannya dalam menjual. Padahal yang dijual itu hanyalah bualan!!! Bualan cerita tentang masa lalu pula. Sedih banget!!! Miris!!! Wuiiihhhh!!!! Apalagi kalau dijualnya kepada mereka yang sok tahu dan pura-pura tahu. Belinya banyak, deh!!! Mantap!!!

Saya masih ingat pernah datang ke sebuah acara di mana yang menjadi pembicaranya adalah seorang yang berani mengaku sebagai seorang pejuang kebebasan dan keadilan. Bercerita tentang bagaimana dia direndam di dalam air dingin, dipukuli, ditahan, dan diasingkan hanya demi membela apa yang disebutnya sebagai kebebasan, keadilan, dan demokrasi tentunya. Apalagi?! Hehehe,,,

Wajar saja kalau jualannya laku. Siapa yang tidak terenyuh dengan kisah sedih atas penderitaan seorang pejuang kebebasan, keadilan, dan demokrasi?! Makanya, bisa dapat uang banyak. Berbual saja pernah disiksa dan ditindas di negeri orang, pulang bisalah beli sepetak dua petak rumah sangat sederhana, sih!!! Dollar, lho!!! Lumayan banget!!! Lagipula siapa yang tahu kebebasan, keadilan, dan demokrasi seperti apa yang sebenarnya diperjuangkan. Yang penting anti, berbeda, dan berkoar!!! Yang benar sebenar-benarnya, sih, bagaimana nanti!!! Asumsinya, toh, manusia paling sering hanya melihat dari satu sisi pandang saja. Mudah, kan?!

Ada juga seseorang yang mengaku kuat dan memiliki daya juang tinggi. Seorang pejuang yang pantang menyerah. Menjual bualan tentang segala perjuangan atas keadilan dan juga kebenaran. Namun pada fakta dan kenyataannya hanya menjual kemiskinan dan penderitaan. Mengemis belas kasihan hanya untuk dapat memenuhi ambisi dan kebutuhan pribadi semata. Tidak memperdulikan siapa yang memberikan kasih sayang dan bantuan. Sama sekali tidak memiliki rasa hormat kepada mereka yang telah menjadikannya. Yang penting bisa mendapatkan pujian. Enak, ya?! Memang enak!!! Pantaslah kalau disebut sebagai seorang pejuang. Pejuang bodoh yang memperjuangkan pembodohan dan pembenaran. Ooopsss!!!

Yang paling luar biasanya, para pejuang ini ternyata sangat siap saat mendapatkan apa yang dianggapnya sebagai serangan balik. Harus siap dan siaga selalu, dong?! Pembenaran atas nama kebenaran lainnya selalu sudah disiapkan. Bualan berikutnya maksudnya. Cepat tanggaplah untuk urusan yang satu ini, sih?! Kalau sudah mentok, ya, menangis, merajuk, dan merengek. Mudah, kok!!! Fakta tinggal diputarbalikkan saja. Keciiilllll!!! Mana juga konsumennya tahu?! Namanya juga sok tahu dan pura-pura tahu!!! Konsumen seperti ini yang paling asyik!!! Promosinya paling hot!!! Lumayan!!!

Wajarlah kalau semua ini bisa sampai terjadi. Namanya juga pejuang, ya, harus berjuanglah. Strategi selalu ada. Mau membual apa jujur sama saja. Namun yang membedakan seorang pejuang sejati dan seorang pejuang pembual sejati adalah tujuan dari perjuangannya. Apa yang menjadi target dan hasil akhirnya. Seorang pejuang sejati tidak akan pernah berjuang untuk dan atas nama dirinya sendiri ataupun hanya segelintir kelompok saja. Pandangannya selalu ke depan. Kini dan lalu hanyalah sebagai acuan dan juga proses. Memikirkan hanya apa yang penting untuk dipikirkan dan seharusnya dipikirkan. Seorang pejuang pembual sejati selalu membutuhkan eksistesi dan pengakuan diri atas apa yang telah dilakukannya. Pandangannya selalu ke kini dan lalu. Nanti adalah suram dan menjadi sebuah kegelapan. Sibuk dengan yang terlalu “penting” meskipun hanya dipentingkan.

Saya berterima kasih kepada para pejuang ini. Pejuang sejati dan juga pejuang pembual sejati. Bagi pejuang sejati, saya berterima kasih atas segala perjuangannya dalam terus berusaha menjadikan masa depan lebih baik dan lebih indah lagi. Memberikan banyak harapan dan juga semangat untuk terus menggapai mimpi. Bagi para pejuang pembual sejati, saya berterima kasih atas segala perjuangannya membuat mereka yang sok tahu dan pura-pura tahu bisa merasakan efek dari kesoktahuan dan juga kepura-puraannya. Suatu saat pasti akan menyadarinya, kan?! Menjual bualan memangnya bisa bertahan berapa lama, sih?!

Yah, semua, kan, ada hikmahnya. Semua yang kita terima ini selalu adalah yang terbaik yang diberikan oleh-Nya. Sekarang tinggal mau-maunya kita saja. Apa yang kita mau?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

3 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pejuang Pembual Menjual

  1. Ngatidjo says:

    jual bualan, tanpa sekolah tanpa kuliah bisa jual bualan, modalnya hanya punya mulut, sering mendengarkan forum2 diskusi, bahkan bisa bisa lebih menarik dan asyik didengarnya dari pada narasumbernya. maka melaui internet jualan tanpa modal bisa untung secara materi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s