Pandangan Rasional dan Irasional Tentang Seks

MENJADI rasional adalah kebanggaan dan seringkali dibanggakan. Oleh karenanya merasa menjadi benar dan pintar. Menjadi irasional adalah dianggap menjadi sebuah kebodohan. Sepertinya tidak pantas dilakukan oleh manusia yang diberkahi dengan otak dan kemampuan untuk berpikir. Bagaimana dengan pandangan rasional dan irasional tentang seks?! Apakah yang rasional sudah benar?! Apakah yang irasional salah?!

Rasional adalah sesuatu yang menurut dengan pikiran dan pertimbangan yang logis, di mana logis itu sendiri bisa diartikan sebagai sesuatu yang masuk akal atau sesuai dengan logika. Lebih jauh lagi, logika itu sendiri merupakan jalan pikiran yang menggunakan kaidah berpikir. Namun, rasional memerlukan pikiran yang sehat dan sesuai dengan kepatutan, yang juga bisa merupakan sebuah hasil perbandingan.

Sekarang yang menjadi pertanyaan saya, bila pemikiran rasional dilakukan oleh akal yang tidak sehat, apa bisa tetap menjadi rasional?! Apa sudah menggunakan kaidah berpikir yang benar?! Apa yang menjadi pembandingnya sehingga memang sesuai dan patut juga dijadikan rasional dan atau bahkan rasionalisasi?! Bukankah ini yang disebut dengan irasional?!

Kalau memang demikian adanya, mana yang rasional, mana yang irasional?! Memandang seks sebagai sebagai sesuatu yang nikmat, apakah ini rasional atau irasional?! Merasakan dan menikmati seks sejak masih anak-anak apakah ini irasional?! Memandang seks sebagai titik awal kehidupan dan kehidupan sendiri apakah ini rasional?! Mari kita pikirkan bersama-sama.

Seks menjadi nikmat karena dihubungkan dengan berhubungan seksual dan juga bercinta. Keduanya memang nikmat namun memiliki kenikmatan yang berbeda. Mana yang lebih nikmat?! Apakah karena kenikmatan ini maka berhubungan seksual dan ataupun bercinta menjadi rasional?!

Kita mulai dengan kata seks itu sendiri. Mendengarnya saja bisa membuat jantung berdegup kencang dan aliran darah pun semakin deras. Membuat pikiran melayang-layang dan tubuh bergetar. Sampai kemudian hubungan seksual dan ataupun bercinta dilakukan. Puncak kenikmatan pun diraih. Puas, deh!!! Alurnya demikian, kan?! Masuk di akal nggak?! Masuk, dong, ya!!!

Lantas, bagaimana bila sebelum mencapai orgasme, terjadi terlebih dahulu transaksi jual beli?! Apakah puncak kenikmatan itu benar diraih?! Kenikmatan atas seks itu sendiri atau kenikmatan atas kemampuan membelinya?! Atau kemampuan bisa mendominasinya?! Kalau memang demikian alurnya, apakah masuk di akal bila seks dipandang sebagai sesuatu yang nikmat?! Bukan seksnya yang nikmat, kok?!

Sejak kita dilahirkan, kita sudah memiliki organ-organ seksual termasuk juga segala hormon dan pemicu serta pengaturnya. Semua itu terbentuk sejak terjadi pembuahan dan pembelahan sel di dalam rahim, di mana semua ini memang sudah diatur dari sananya. Nah, karena kita memang hanya bisa memahami sedikit tentang alur terbentuknya semua itu, maka bila menikmati seks sejak lahir dikatakan irasional?! Atau karena menikmati seks berarti sama dengan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan melakukan perbuatan seksual sehingga tidak mungkin dilakukan oleh anak-anak, maka ini menjadi irasional?!

Perhatikan bayi laki-laki kecil yang sedang mandi dan tengkurap. Apa yang dilakukannya?! Bila dia memang sehat, pantatnya otomatis akan naik turun, persis seperti pria dewasa yang sedang melakukan hubungan seksual. Ini ada hubungannya dengan kepekaan dan nalurinya sebagai seorang pejantan, di mana bila terjadi sentuhan terhadap organ seksualnya, maka dia akan bereaksi. Bila ditelaah secara medis, maka akan alurnya akan terlihat dengan sangat jelas. Lalu, apakah ini menjadikan pandangan bahwa anak-anak bisa menikmati seks sebagai sesuatu yang rasional?! Masuk di akal nggak alurnya?!

Manusia berkembang biak dengan cara melahirkan anak yang sebelumnya tentunya, harus ada terjadi pembuahan terlebih dulu. Pembuahan hanya bisa dilakukan dengan cara melakukan hubungan seksual, meskipun sekarang bisa dengan buatan, namun tetap ada proses yang berhubungan dengan melakukan perbuatan seksualnya terlebih dulu. Sperma keluarnya gimana?! Nah, ada pengecualian untuk Adam dan Hawa tentunya. Kita semua sepakat, kan, kalau mereka adalah manusia pertama yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi?! Oke, lanjut!!!

Sejak ketertarikan Adam terhadap Hawa, proses kehidupan manusia mulai berlangsung. Ketertarikan bisa terjadi karena ada daya tarik seksual., yang kemudian dilanjutkan dengan proses selanjutnya sehingga ada manusia-manusia lainnya di bumi ini, sampai saat ini dan juga nanti. Sehingga kemudian juga peradaban pun terus berlangsung di muka bumi. Bila demikian, apakah pandangan bahwa seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan ini sendiri bisa diterima oleh akal sehat?!

Bagaimana dengan perasaan yang juga merupakan salah satu faktor yang menjadikana terlahirnya manusia-manusia baru?! Bila faktor perasaan ini diabaikan, maka apakah bisa disebut sebagai bagian dari proses pembentukan kehidupan baru yang sesuai dengan akal sehat?! Apakah perasaan hanya terbentuk dari pengaruh hormonal atau perubahan kimia dalam tubuh saja?! Kan, manusia memiliki hati dan juga kemampuan untuk merasakan. Kalau begitu, apa masih bisa disebut rasional?!

Susah, ya, jadinya!!! Hehehe….

Menurut saya. rasional dan irasional adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa saling diabaikan. Menjadi rasional saja belum tentu benar, demikian juga sebaliknya. Di mana ada rasional maka selalu ada faktor irasionalnya, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itulah, saya tidak mau menjadi orang yang disebut rasional ataupun irasional. Saya juga tidak mau menilai yang lain demikian. Semua harus dilihat dari dasar pemikirannya itu sendiri. Segala sudut pandang harus benar-benar diperhatikan. Ini semua tidak terlepas dari dasar pemikiran saya sendiri, bahwa manusia harus selalu menjadi manusia yang seutuhnya, di mana, semuanya ada di dalam manusia. Semua tergantung bagaimana kemudian kita memilihnya saja.

Satu lagi, nih, apa benar akal kita sudah sehat?! Mari kita tanya pada diri kita masing-masing, ya?! Jangan pernah sombong dan tinggi hati, ya! Apalagi kemudian merasa “lebih” dan berani menunjukkan jari kepada yang lain tanpa mau berkaca dan bercermin.  Selalu ingat kita adalah “hanya manusia” yang tidak pernah “pintar”.

Selamat berpikir dan semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

24 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s