Pesan Terakhir Seorang Sahabat

Tulisan ini adalah sebuah kenangan atas seorang sahabat yang saya panggil “Jeff”. Dia adalah kawan saya sewaktu mengambil kuliah lanjutan. Kami memang beda kampus dan beda jurusan namun kami sering bertemu di sebuah taman yang indah untuk bicara panjang lebar.

Jeff tidak berasal dari Indonesia tetapi fasih berbahasa Indonesia karena pernah tinggal di Yogyakarta selama dua tahun. Dia memang gado-gado banget. Saya sendiri bingung dia sebenarnya orang mana. Saya hanya tahu dia warga negara Australia, sementara ayah dan ibunya berasal dari mana-mana. Nggak terlalu penting juga untuk saya dia dari mana. Bagi saya yang paling penting dia adalah sahabat yang sangat mengasyikkan untuk diajak bicara.

Awal pertemuan kami adalah ketika saya dan dia diundang ke sebuah pesta yang diadakan oleh teman-teman mahasiswa jurusan cinematography dari berbagai negara. Di mana pada pesta itu, semua teman memamerkan hasil karya mereka kepada teman-temannya yang lain sebelum mereka pameran. Biasalah, sekalian bersenang-senang sebelum stres. Hahaha

Tak sengaja, kami berdiri bersebelahan di salah satu ruangan dan di sanalah kami kemudian saling menyapa dan berbincang. Seru sekali!!! Saya masih ingat perbincangan kami adalah dengan topik “Mungkinkah manusia kalah dengan semut merah?”. Mungkin buat sebagian ini perbincangan yang sama sekali tidak menarik ataupun menggelikan, tetapi bagi kami berdua, ini sangat menarik. Kocak, bodoh, dan seru banget!!!

Sejak malam itu, kami jadi sering menyempatkan diri untuk bertemu. Biasanya pas makan siang sebelum atau setelah kuliah. Kami biasanya sama-sama membawa bekal masing-masing dan duduk di atas rumput sambil memandangi bebek-bebek dan burung-burung yang beterbangan di atas kolam. Sesekali saya atau dia saling tukar makanan. Saya suka membuatkannya nasi goreng dan lumpia goreng. Dia suka membawakan makanan bila dia baru pulang dari luar kota atau dari tempat ibunya. Kalau disuruh masak, sih, dia nggak bisa. Hehehe….

Setelah sekian lama kami tidak bertemu, dia memang sibuk keliling dunia untuk penelitiannya, dan saya juga sibuk dengan dunia saya, dia tiba-tiba saja mengirim email. “Hi dear, is that you?! Are you my Mariska?!” – “Hai sayang, apakah itu kamu?! Apakah kamu Mariska saya?!”

Waduh, kagetnya setengah mati!!! Langsung saja saya balas dengan sejuta cerita untuknya. Hahaha….

Dia ternyata memang coba-coba kirim email, takut salah juga. Dia mendapatkan email saya dari pencarian di internet. Tentunya dia senang sekali ternyata benar. Saya juga senang banget dia mencari saya.

Dia pun kemudian bercerita kalau dia bekerja di salah satu organisasi sebagai peneliti masalah urbanisasi. Dia memang sangat pintar. Dia dua tahun lebih tua dari saya, tetapi waktu kami kuliah dulu, dia gelar S1-nya sudah dua dan gelar S-2nya pun sudah mau tambah satu lagi. Waktu saya pulang ke Indonesia, dia sedang mengambil S-3. Beda-beda jurusan lagi. Sewaktu dia baru saja menginjak usia 30 tahun, dia sudah menerbitkan 3 makalah penting yang diakui peneliti dunia dan dibukukan, juga sudah menjadi dosen utama di salah satu universitas terkemuka. Salut banget, deh!!!

Anyway, jadi panjang, nih, ceritanya. Saya sebetulnya ingin bercerita bahwa Jeff meminta saya untuk menemaninya ke sebuah tempat yang dia inginkan sebagai rumah terakhirnya. Sayang sekali waktu itu saya menolak permintaanya karena saya memang tidak bisa. Saya waktu itu sedang hamil besar dan akan segera melahirkan. Dia memang kemudian beristirahat dengan tenang selamanya di sana. Di rumah terakhirnya. Di sebuah tempat yang saya tahu sangat indah karena kami pernah pergi ke sana.

Jeff meninggal dunia beberapa waktu yang lalu karena mengidap HIV dan TBC akut, gagal ginjal serta berbagai penyakit komplikasi lainnya.

HIV diperolehnya dari pacar lamanya dan TBC dia derita setelah pulang dari Afrika. Sedangkan gagal ginjalnya disebabkan oleh berbagai komplikasi akibat hidup tidak sehat. Jeff juga seorang biseksual. Dia suka perempuan dan juga suka pria. Namun saya minta, janganlah ini dijadikan penilaian terhadap dirinya ataupun mensyukuri atas apa yang dideritanya. Jangan juga kemudian menyalahkan atas apa yang telah dilakukannya.

Sengaja saya tuliskan ini semua agar semua juga tahu bahwa janganlah pernah menilai atas apa yang kita anggap negatif tetapi cobalah untuk melihat sisi positif atas apa yang telah dicapainya. Hasil penelitiannya sangat berharga sekali demi masa depan kita semua.

Kita juga bisa belajar dari pengalaman hidupnya. Dia sangat menyesali telah terlalu “bebas” dan tidak juga mau menyadari kesalahannya selama ini. Baru setelah sakit parah, dia menyesal kemudian.

Dalam pesan terakhirnya kepada saya di sebuah kartu pos, dia menulis:

My time has end, you have to continue your journey. Keep on going my sweet darling. Tell the world that it is about time to heal. Nothing could change the world but its own. I will always be with you sweetheart. ” – “Waktu saya telah habis, kamu harus meneruskan perjalanan. Teruslah maju sayangku. Beritakan kepada dunia bahwa sekarang adalah waktunya untuk menyembuhkan diri. Tidak ada yang bisa mengubah dunia selain dunia itu sendiri. Saya akan selalu bersamamu sayangku”

Duuuhhhh!!! Nangis banget, deh!!! Sejadi-jadinya nangis!!!

“Jeff, wherever you are… I will… always be with me…” – “Jeff, di manapun kamu berada… Saya pasti akan melakukannya…. temani saya selalu….”

Semoga kamu tersenyum di sana, ya!!! I love you, Jeff!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

7 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pesan Terakhir Seorang Sahabat

  1. Inspiring dan sungguh mengharukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s