Tiga Pria Satu Desah Di Kota Cinta

Dua pria...Malam terus merangkak dan panas tak henti menyengat namun tak menghentikan langkah untuk tetap menyatukan hati untuk sebuah desahan. Di sebuah sudut di kota cinta, tiga pria pun bertemu. Dari cinta oleh cinta dan untuk cinta.

Rasa cinta begitu kuatnya mendorong aspirasi untuk menyatukan sekaligus berbagi. Siapa yang mampu menghentikannya meski banyak yang enggan, ragu, takut, dan bahkan barangkali mencibir dan menghujat. Tak pernah ada keraguan bila cinta itu memang benar adanya. Tak ada takut atau bahkan segan dan enggan serta mundur hanya karena nilai manusia semata. Dia yang mempertemukan, Dia yang memberi jalan, dan Dia pula yang menjadikan.

Tiga pria tiga dunia tiga generasi sepuluh tahun untuk sebuah desahan dan mimpi yang sama. Cinta pada bangsa dan Negara itu sedemikian kuat dan luar biasanya. Proses dijalani hanya dengan sebuah satu keyakinan pada diri sendiri dan atas apa yang telah diberikan. Tujuan itu bukanlah sebuah mimpi, solusi selalu dicari, dan penyatuan itu adalah yang menjadi harapan.

Seorang perempuan dari sebuah dunia entah antah berantah pun berkata bahwa, “Kata mengubah dunia, dan hanya lewat kata dan bahasa kita semua bisa bersatu. Bahkan  kata cinta pun bisa mengubah dunia menjadi penuh sesak oleh manusia.”

“Saya ingin semua menjadi sadar bahwa kita ini memiliki segala keindahan itu sehingga seharusnya kita menjadi manusia merdeka yang terbebas dari segala penjajahan dan kekuasaan dalam bentuk apapun juga.”

“Sudah sepatutnya kita berbangga pada apa yang kita miliki dan mengibarkannya ke segala penjuru dunia agar semua tahu betapa besar dan hebatnya rasa cinta kita ini.”

“Jadilah matahari yang selalu memberikan terang dalam gelap dan menjadikan gelap itu terang.”

“Semua memiliki keinginan dan semua juga memiliki usaha, tetapi semua itu menjadi tidak mungkin bila kita memiliki kata dan bahasa yang berbeda karena kata dan bahasa itu tak lagi memiliki arti dan makna.”

“Perbedaan menjadi sedemikian besarnya padahal pelangi itu terdiri dari berbagai ragam warna yang bersatu di dalam sebuah keindahan, menjadi indah karena mereka bersatu dan menjadi pelangi.”

“Kita pernah salah di dalam berbuat dan tidak ada yang bisa menjadi benar bila kita sendiri tidak pernah mengakuinya. Kala apa yang benar itu memang benar dan bukan hanya sekedar kepentingan, ambisi, dan nafsu pribadi serta segelintir kelompok maka seharusnya tidak ada yang bisa menghalangi.”

“Bersujud pun hanya sekedar bersujud dan beragama itu pun hanya sekedar beragama dan bahkan hanya karena turunan semata. Tidak mudah untuk bisa merendahkan hati bahkan untuk Dia sekalipun.”

“Yah bagaimana dengan diri ini yang memiliki orang tua berbeda ras dan suku, berbeda agama, berbeda pula status sosial dan tingkat pendidikan?! Siapakah diri ini bila semua hanya bisa menghukum dan menghakimi?! Patutkah untuk berdiam diri dan pasrah tanpa melakukan sesuatu untuk paling tidak mempertahankan diri dengan selalu berusaha menjadi diri sendiri?!”

“Etika, norma, moral, apakah itu semua bila tak ada lagi rasa hormat dan menghargai?!”

“Semua menuntut untuk dihormati dan dihargai sementara rasa hormat dan penghargaan itu akan datang dengan sendirinya bila kita sudah mampu menghormati dan menghargai yang lainnya.”

“Kala semua hanya bisa menuntut haknya sementara kewajiban itu sendiri tidak lagi menjadi sebuah prioritas, dan nyali itu hanya ada pada saat kerumunan ada, maka tidak akan pernah ada perubahan dalam arti menjadi lebih baik.”

“Tidak mudah untuk menjadi pribadi di antara kerumunan karena jauh lebih mudah untuk memiliki kerumunan dalam kepribadian. Dibutuhkan komitmen, kerja keras, fokus, keberanian, dan yang terpenting adalah ketulusan di dalam melakukan segala sesuatunya.”

“Dibutuhkan ketegasan untuk bisa memiliki sikap dan menjadi diri sendiri.”

“Biarkan mereka kita lawan dengan bunga mawar merah.”

Pria ketiga...

Berjuta nuansa menghidupi malam yang sedang menantikan fajar.  Semangat justru kian membara karena inspirasi cinta telah mendorong semuanya untuk menjadi lebih hidup dan terus hidup. Gairah tiada akan pernah mati dan padam di dalam cinta. Jatuh cinta itu pun akan terus berkali-kali dan bahkan saat terkubur dan tenggelam pun akan terus hidup dan membara.

“Tidak ada yang tidak mungkin bila semua bersatu dalam cinta. Penghargaan atas sebuah proses dan keberanian di dalam menjalankan komitmen berikut menghadapi segala resiko dan konsekuensinya adalah yang utama. Biarlah manusia berkata dan melarang semua kegilaan serta mengubur semua mimpi, karena hanya kegilaan yang bisa mengubah dan mimpi bukanlah mimpi bagi mereka yang percaya dan mau memperjuangkannya.  Bunga bukanlah bunga, melati di tepian jalan pun tak pernah berhenti berusaha untuk menebarkan keharumannya bagi semua. Marilah kita sama-sama mengasah diri menggunakan cinta agar cinta itu ada dan ada selalu.”

Tiga pria satu desah di kota cinta, nantikan diri ini kembali membawa dan memberikan cinta untuk semua. Sungguh kerinduan ini meliputi diri menantikan kehangatan cinta yang telah diberikan. Desahan cinta itu telah membangkitkan diri ini.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

Catatan:

Tulisan ini saya persembahkan bagi Pak Hans Poerwanto, Bang Itock Van Diera, dan Bang Edysa Tarigan Girsang. Tiga pria yang dipenuhi cinta dan memiliki pesona cinta.

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Dari Hati, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tiga Pria Satu Desah Di Kota Cinta

  1. Selamat mendesah, dan salam untuk ketiga pria yang penuh pesona.

    salam
    Omjay

  2. Ihsan Fauzi says:

    semakin berumur kakak semakin manja. hehehe…
    Sukses Kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s