“Mana Enak Pakai Kondom?!”

Illustrasi: penissehat.wordpress.com

Tak peduli apakah kemudian nanti terkena penyakit ataupun terjadi kehamilan yang tak diinginkan, yang penting enaknya dulu. Jika pun kemudian sampai terjadi sesuatu, ya, itu bagaimana nanti saja dan takdir pun disalahkan. Padahal, memakai tidaknya adalah pilihan sendiri, kan?!

Segala sesuatu yang alami tentunya memang lebih nikmat, saya pun tidak bisa memungkirinya. Apalagi yang namanya bersetubuh, di mana bila dilakukan secara alami, maka keindahannya akan lebih terasa. Hanya saja, itu bila memang benar persetubuhan, bagaimana bila hanya merupakan pelampiasan atas nafsu semata?!

Sosialiasi penggunaan kondom di daerah lokalisasi bukanlah hal yang mudah. Banyak para Pekerja Seks Komersial yang mengaku kesulitan untuk meminta pelanggannya menggunakan kondom. Resiko untuk terkena dan menyebarkan penyakit pun menjadi lebih besar. Tak heran bila peningkatan jumlah penderita HIV dan AIDS terus bertambah pesat, apalagi ATM kondom yang disediakan sebagai pencegahan justru dianggap menjerumuskan atas nama kebenaran. Aneh!!!

Beginilah bila pikiran kotor masih terus saja tidak mau diakui dan malah ditutupi oleh beragam pembenaran yang seolah-olah memang benar. Herannya lagi, itu pula yang diyakini oleh manusia penonton karena terlalu malas dan terlalu tinggi hati untuk mau belajar. Kondom yang berupa alat kontrasepsi dan sebagai alat untuk mencegah penyebaran penyakit kelamin menular pun dijadikan sasaran. Padahal, kondom hanyalah benda mati, sementara manusialah yang diberi otak untuk berpikir dan hati nurani untuk bisa merasakan.

Ada tidak adanya kondom, yang namanya seks bebas tetap saja bisa dilakukan. Siapa yang bisa membatasi dan melarangnya selain diri sendiri?! Siapa juga yang bisa memberantas penjualan seks secara komersial?! Sebutkan belahan bumi sebelah mana yang tidak memiliki masalah dengan yang satu ini meskipun di Negara yang dianggap ketat dan sangat taat di dalam menjalankan perintah Tuhannya. Pekerjaan tertua di dunia ini tidak akan pernah bisa diberantas, yang ada hanya bagaimana cara untuk bisa mengontrol dan mengendalikannya saja.

Lokalisasi ditutup dengan berbagai alasan yang dianggap penuh dengan moral dan etika. Siapa yang berani bertanggungjawab atas mereka yang bekerja di sana dan siapa yang bisa menjamin bahwa mereka akan berubah sesuai dengan yang diinginkan?! Buktinya, penyebaran mereka semakin menggila dan tak terkendali. Rumah-rumah biasa pun dijadikan tempat untuk bertransaksi, dan bahkan rumah tersebut terisi oleh anak-anak mereka serta “suami-suami” mereka untuk bisa mengelabui bila terjadi razia. Bagaimana cara petugas kesehatan bisa memberikan penyuluhan dan pengobatan kepada mereka?!

Yang selalu dipermasalahkan adalah para Pekerja Seks Komersialnya itu saja, tanpa juga mau melihat sisi yang lain yaitu para pengguna dan pembeli mereka. Justru orang-orang inilah yang paling sulit dikendalikan dan paling berbahaya. Mereka bisa siapa saja dan berperilaku serta bersikap seperti bagaimana saja tanpa diketahui oleh istri, keluarga, dan kerabat mereka. Mudah untuk bersikap seolah-olah baik dan alim, siapa yang tahu sebenarnya hanya diri mereka sendiri. Tahu-tahu istri terkena penyakit dan anak pun seringkali menjadi korban, seperti cacat sejak lahir karena terserang virus. Siapa-yang berani  dan bisa memberantas mereka?! Semua kalangan ada, kok!!!

 Nah, yang lebih anehnya lagi menurut saya, ada banyak sekali dana yang keluar untuk mengatasi masalah ini tetapi masalah bukannya semakin selesai tetapi malah semakin memburuk. Buktinya, penderita HIV dan AIDS di Indonesia meningkat 600 persen pada tahun 2010, tuh!!! Jika memang demikian, apakah bisa dikatakan ada keberhasilan di dalam penerapan dan menjalankan program yang ada?!

Kendalanya belum tentu pada mereka yang memiliki program dan menjalankannya, tetapi masyarakat umum juga sering menjadi hambatan utama. Mau mengadakan seminar dan pelatihan untuk Para Pekerja Seks Komersial, termasuk waria, pun sudah langsung dihajar dan dibantai duluan tanpa mau mengerti dan memahami maksud dan tujuannya. Niat baik itu malah dituduh dan dituding sebagai perbuatan tak bermoral dan mereka yang melakukannya dituduh sebagai para pendosa. Kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, bagaimana dengan masa depan?!

Ada banyak juga solusi yang dilakukan hanya sifatnya simbolis belaka. Seperti penutupan lokalisasi yang dianggap bisa mengatasi dan menyelesaikan masalah.  Sungguh memprihatinkan sekali, di mana kita justru tidak diajarkan untuk menjadi lebih baik lewat solusi yang benar dan tepat, tetapi malah dibuat untuk menjadi manusia yang munafik dan terus melakukan pembodohan. Mana ada manusia yang bisa menjadi malaikat?! Tidak ada satu orang pun manusia yang bisa berubah bila tidak dilakukan oleh dirinya sendiri.

Penyeruan dan sosialisasi penggunaan kondom tidak akan mungkin bisa dilakukan bila pemerintah tidak turut campur dalam hal ini. Haruskah pemerintah bersikap naïf dan terus membiarkan masyarakatnya menjadi semakin hancur?! Masyarakat juga hendaknya membantu, paling tidak, dengan mau menerima fakta dan kenyataan serta mau melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang lain. Objektifitas sangat diperlukan di sini, karena bila terbatas dan dibatasi, maka tidak akan pernah ada solusi yang tepat.

Saya sendiri menganjurkan agar para penyuluh bukan hanya mensosialisasikan teknik penggunaan kondom dengan beragam nasehat yang membuat bosan. Bagus bila memiliki pengaruh, bila tidak?! Bagaimana bila mengajarkan kepada para Pekerja Seks Komersial itu, cara berkomunikasi yang baik dengan pelanggannya agar mereka mau menggunakan kondom. Ajarilah mereka berbagai permainan menarik dan yang menggairahkan pelanggan. Tujuan utamanya, kan, agar pelanggan mau mengenakan kondom, ya, jadi harus dibuat bagaimana kondom itu menjadi menarik bagi mereka untuk digunakan.

Untuk bisa lebih tegas lagi, sebaiknya pemerintah juga mengatur peraturan dan hukum yang berkaitan dengan penggunaan kondom ini. Seperti yang dilakukan di Negara-negara lain, di mana semua pelanggan dan pengguna diwajibkan menggunakan kondom. Bila mereka tidak mau mengenakannya dan memaksa melakukan hubungan seksual tanpa kondom, maka akan diberikan sangsi berupa hukuman pidana. Semua ini dilakukan untuk kepentingan bersama dan masa depan.

Penting juga untuk diterapkan, yaitu, jangan pernah memberikan “kondom asal” yang gampang robek, rusak, dan membuat tidak nyaman secara gratis atau murah kepada masyarakat luas. Tentunya hal ini bukan hanya membuat orang semakin malas menggunakan kondom, tetapi juga sudah merugikan. Ke mana dana yang sudah dianggarkan untuk membuat kondom berkualitas itu?! Sayangilah bangsa dan Negara ini. Sebegitu teganyakah mengorbankan bangsa, Negara, dan rakyatnya sendiri dan juga kehidupan di masa mendatang?!

Tidak perlulah buang-buang uang dengan membuat patung kondom ataupun segala aksesoris penghias sebagai pertanda peduli dan ingin melakukan perubahan. Uang yang ada sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang tepat dan benar memberikan banyak manfaat. Bantulah mendidik semua dengan tidak berpikiran kotor tentang kondom. Hentikan semua komersial dan promosi yang membuat orang menjadi semakin berpikiran kotor. Apa memang tidak ingin, ya, memiliki masa depan yang lebih baik?!

Enak tak enak pakai kondom itu hanya masalah selera semata. Yang patut diingat adalah masa depan dan bukan hanya kenikmatan sesaat. Seperti yang sering saya ucapkan bagi para pria, “Wahai pria!!! Penismu adalah dirimu. Jaga, rawat, dan hormati dia!!!” Yah, habis, pria kalau sudah sangat bergairah, darah pindah berkumpul di dalam penis, sih!!! Apa mungkin masih bisa berpikir dengan benar?! Hehehe….

Yuk, mari kita sama-sama melakukan yang benar dengan berpikir benar. Jangan mementingkan diri sendiri tetapi selalu berikanlah yang terbaik untuk semua. Bukankah sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk melakukan yang benar dengan sebenar-benarnya; bukan berupa pembenaran tetapi kebenaran itu sendiri. Rendahkanlah hati agar bisa selalu belajar dan benar belajar. Tak akan pernah ada yang bisa belajar bila yang dikejar hanyalah pengakuan dan eksistensi diri.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

07 Juni 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to “Mana Enak Pakai Kondom?!”

  1. ibeng says:

    mantab. suka sy bacanya. salam ibeng

  2. pada akhirnya emang kembali lagi ke diri masing2 dan ketegasan pemerintah, bukannya ngawang yang mana menghasilkan uang dialah yang pasti menang.
    sepakat sama mbak ML😀

  3. safprada says:

    salam knl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s