Cinta dan Rindu di Kota Cinta Yogyakarta

Dialog Budaya dan Gelar Seni "Yogya Semesta"

Sebegitu besar cinta dan rindu yang ada di Kota Cinta, Yogyakarta. Ada banyak mimpi dan juga keinginan untuk bisa mewujudkan segala sesuatunya agar keindahan itu benar ada. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang benar untuk dilakukan?! Ada apa dengan cinta dan rindu yang selama ini ada?!

Setiap pagi, perempuan-perempuan paruh baya dan tua berkebaya dan berkonde duduk di tepian jalan di depan pasar Beringharjo dan sepanjang jalan Malioboro. Bercanda, tertawa dan saling bertukar kisah sambil merapikan dan menata barang dagangan. Di sela-sela waktu, mereka memupuri wajah dan memakai gincu sambil memandangi kaca kecil di tangan mereka. Sisir besar atau kecil bergigi rapat terselip di antara rambut.  Cantik sekali mereka! Benar-benar wajah dan pemandangan perempuan Jawa yang sangat Indonesia.

Sayang sekali, pemandangan itu sudah tidak ada lagi. Masih banyak perempuan yang duduk dan bekerja menjadi kuli angkut, tetapi mereka tak lagi berhias. Mereka telah tua, renta, dan keriput tak terurus. Tak sedikit yang bungkuk, sulit mendengar, dan tampak jelas bagaimana mata-mata itu tertutup selaput putih yang semakin lama semakin membuat mereka sulit untuk melihat. Yah, generasi baru sekarang sudah menggantikan mereka dengan gaya dan perilaku yang sungguh jauh berbeda.

Perkembangan jaman dan apa yang dibanggakan sebagai modernisasi memang telah mengikis semua yang pernah ada. Yang lalu selalu dianggap primitif dan tak pantas untuk dijaga, dirawat, atau bahkan dikembangkan sekalipun. Jati diri yang menjadi ciri khas dan merupakan kepribadian itu pun berangsur-angsur lenyap. Banyak yang lebih bangga menjadi “yang lain” dan bahkan tampil seperti bangsa lain untuk mendapatkan nilai di mata manusia lainnya. Budaya itu pun hanya sekedar budaya yang tak memiliki arti dan makna sesungguhnya.

Miris hati ini melihat bagaimana para pengamen jalanan berlomba menyanyi dan mengemis di sepanjang jalan. Kebebasan berekspresi diuraikan lewat kata dan bahasa sehari-hari yang dianggap benar karena biasa dan sudah menjadi kebiasaan. Pakaian dan gaya berdandan itu pun sudah seperti orang Jepang dan para Punk padahal mungkin hanya sedikit dari mereka atau bahkan tidak ada di antara mereka yang mengerti kisah dan cerita tentang apa yang mereka anggap sebagai “gaya ekspresif dan kebebasan”.

Kebetulan, saya diundang oleh teman-teman tercinta dari Kota Cinta untuk menghadiri Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri ke-43 dengan tema “Transformasi Sosial Budaya Menuju Kebangkitan Nasional Kedua”. Acara yang digelar di bangsal Kepatihan Yogyakarta ini menghadirkan beberapa nara sumber penting seperti Prof. Dr. Sjafri Sairin, MA, Guru BEsar FIB UGM, Prof. Dr. Eddy Suandi Hamid, M.Ec, Rektor UII/Guru Besar FE UII, Prof. Drs. Purwo Santosa, MA, PhD, Guru Besar Fisipol UGM, dan Prof. Wihana Kirana Jaya, MSosSc, PhD, Guru Besar FEB UGM, dengan moderator Bapak Hari Dendi, yang menjadi Pengasuh Komunitas Budaya “Yogya Semesta”. Diisi juga dengan pertunjukkan Wayang Republik yang menarik dengan lakon “Lahirnya Boedi Oetomo” , yang dipentaskan oleh dalang Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro

Sewaktu saya diceritakan tentang acara ini sebelumnya, saya langsung tertarik untuk hadir. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dibahas dan apa yang akan dibicarakan. Ternyata memang benar, kegundahan yang ada di dalam diri saya ini pun dirasakan oleh semua, dan menjadi pembahasan di acara tersebut. Teknologi yang dianggap sebagai ciri penting dari sebuah modernisasi telah mengubah segalanya. Tak dapat dihindari tetapi telah mengubah budaya dan keadaan sosial terutama pada perilaku masyarakat pada umumnya. Yang paling membuat saya prihatin adalah sekali lagi, hilangnya jati diri dan kepribadian.

Hal ini tentunya membuat resah dan gelisah para pihak yang peduli. Oleh karena itulah, banyak yang terus berusaha mencari solusi dengan mengingatkan kembali tentang sejarah dan masa lalu. Seperti juga dengan yang sedang banyak dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai Politisi dan Pemimpin, di mana “Mengembalikan Pancasila dan UUD ‘45” dianggap sebagai sebuah solusi yang bisa menghantarkan bangsa Indonesia kembali pada kehidupan yang lebih baik. Paham-paham sosialisme banyak dibahas dan dianggap sebagai sebuah paham yang bisa menyelesaikan semua masalah yang ada sekarang ini.  Revolusi itu pun perlu dilakukan agar semua pihak bisa mendapatkan haknya dan keutuhan bangsa serta Negara bisa terjaga.

Saya tidak menyanggah ataupun menolak semua ide dan solusi ini, namun sejauh mana hal ini bisa diterapkan?! Banyak yang sudah mencoba tetapi hanya bisa dilakukan di dalam komunitas yang kecil dan sulit untuk berkembang. Meskipun juga ada banyak sekali usaha untuk menyatukan semuanya karena hanya dengan persatuanlah maka tujuan dan mimpi bersama itu baru bisa tercapai. Apa sebetulnya yang menjadi akar permasalahan di sini?!

Kita semua sadar dan menyadari bahwa kita memang sudah terpecah belah. Masing-masing kelompok selalu merasa yang paling benar dan paling hebat. Hanya masalah mana yang paling banyak dan paling besar saja. Mereka yang kecil, berbeda, meskipun benar akan selalu menjadi salah dan disingkirkan. Lihatlah bagaimana bangsa ini sudah menjadi bangsa lain dan bangga berbudaya bangsa lain atas nama kebenaran atau karena pengaruh industrialisasi dan komersialisasi. Mereka yang benar Indonesia?!

Nilai-nilai yang ada hanyalah sekedar fisik dan nilai yang diyakini oleh masyarakat secara luas dan banyak; bukan pada arti dan makna serta nilai yang sesungguhnya. Membaca dan mengkaji hanya sekedar membaca aksara dan menghafal, bukan benar-benar berusaha untuk mempelajarinya secara lebih mendalam. Budaya yang dianggap turunan itu pun hanya menjadi sebuah kebiasaan yang harus diikuti bukan dijiwai dan benar-benar dihayati.

Di sisi lain, banyak yang merasa pintar dan hebat tetapi bukannya memberikan solusi meski merasa sudah memberikan banyak. Bicara saja rumit dan menulis pun ruwet. Semakin rumit dan ruwet, semakin sulit orang mengerti, maka semakin pintar dan hebat rasanya. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik dan menyampaikan apa maksud dan tujuan itu bila semua masih berkutat pada kompleksitas primordial pemikiran manusia yang masing-masing berkata dan berbahasa hanya untuk diri sendiri dan kelompoknya saja?!

Berteriak tentang perubahan dan segala macam solusinya pun tidak akan pernah berarti bila tidak memiliki kesiapan terhadap perubahan itu sendiri. Mana mereka yang mengaku sebagai pejuang dan reformis?! Beranikah bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan?! Apakah benar telah berjuang dan mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi?! Seberapa beranikah mengakui apa yang telah salah dan berusaha keras untuk memperbaikinya?!

Mereka yang berteriak tentang Pancasila dan UUD 45 pun hanya memanfaatkannya saja untuk berbagai kepentingan pribadi dan kelompoknya. Berapa banyak yang mengerti apa isi dan makna yang terkandung dari keduanya?! Siapakah yang pernah berusaha menghilangkan dan menghapuskannya lewat berbagai pembenaran?! Kenapa sekarang berlagak seperti pahlawan bila sebelumnya sudah memulai usaha penghapusan jati diri dan landasan dasar bangsa dan Negara ini?! Pantaskah menjadi pejuang dan disebut pahlawan?!

Bila memang belajar dari sejarah dan menghormati perjuangan serta apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan sejati terdahulu, maka seharusnya kita semua mengerti sekali betapa pentingnya kita bersatu. Bahasa Indonesia yang telah disepakati sebagai bahasa persatuan itu pun tidak diindahkan lagi, bahkan oleh mereka yang mengaku pemimpin bangsa dan para pendidik bangsa. Lebih bangga dan lebih keren kalau berbahasa asing, kan?! Sementara bahasa sendiri tidak dipelajari dengan baik dan justru dibuat semakin hancur dan tak karuan saja. Sebuah kelanjutan dari pembodohan akibat dari terlalu tinggi hati dan sombongnya diri untuk mengakui kebodohan diri.

Bahasa adalah identitas dan jati diri bangsa. Bangsa yang hancur dan kacau balau bahasanya menunjukkan bagaimana keadaan bangsa dan masyarakat sesungguhnya. Kata memang bisa berdusta tetapi tidak ada yang bisa dipungkiri bila semuanya mau membuka mata dan melihat dengan jelas. Bagaimana kita bisa bersatu bila tidak menggunakan bahasa yang satu yang telah disepakati sebelumnya?! Aturan dan peraturan yang ada pun tidak diindahkan meski berteriak anti tirani dan hegemoni. Mengerti pun barangkali tidak apa itu tiran, tirani, dan hegemon karena sudah menjadi tiran, tirani, dan hegemon atas nama hak asasi, kebebasan, demokrasi, dan segala pembenarannya.

Sungguh saya tidak habis pikir, betapa hak asasi itu selalu diprioritaskan sementara yang namanya kewajiban itu selalu diabaikan. Hebat sekali rasanya bila sudah memperjuangkannya dan ditambah pula dengan menuntut kewajiban dari yang lain serta terus menunjuk jari dan menjatuhkan tanpa memiliki nyali untuk bercermin. Adil dan keadilan yang diperjuangkan justru malah membuat semakin jelas bahwa tidak adanya adil dan keadilan di dalam perjuangan itu sendiri. Jika memang adil maka kewajiban itulah yang seharusnya diprioritaskan. Hak itu akan bisa dimiliki bila kewajiban memang benar sudah dilakukan dan ditunaikan.

Hebatnya lagi, mereka yang mengaku berpaham sosialisme malah semakin rancu dengan apa arti dan makna dari sosialisme itu sendiri. Berusaha mengikuti apa yang telah dilakukan Deng Xiaoping lewat revolusi budayanya yang berhasil membangkitkan rasa nasionalisme dan sama rata, tetapi tetap tidak juga belajar untuk berkata dan berbahasa dengan baik dan benar. Memangnya, Deng melakukan revolusi budaya menggunakan alat apa?! Apa yang pertama kali dilakukannya adalah mengembalikan kata dan bahasa pada tempatnya agar benar memiliki arti dan makna. Bahasa nasional menjadi bahasa persatuan dan bahasa daerah menjadi ciri khas yang merupakan bagian penting dari setiap individu di dalam masyarakatnya. Nah, di sini?! Wow! Terus saja asyik mengubah kata dan bahasa seenaknya, yang penting enak didengar dan terdengar asyik serta keren, kan?! Kata-kata yang indah itu pun hanya sekedar terdengar indah, toh yang mengaku mengerti pun tak memiliki arti dan makna.

Memang betul bahwa tidak mudah melakukan semua ini karena diperlukan sosialisasi yang menyeluruh dan mau dilakukan oleh semua. Apa yang mudah di dalam sebuah perjuangan?! Ini hanyalah masalah komitmen, usaha, dan kerja keras. Beranikah untuk berkomitmen dan berusaha tanpa henti tanpa melihat hasilnya tetapi fokus pada tujuan dan menghargai semua proses yang ada. Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah dunia bila diri sendiri pun belum berubah.

Teruslah berkata dan berbahasa tanpa memiliki arti dan makna meski itu yang sudah menjadi kebiasaan dan dianggap biasa ataupun hebat bila memang itu yang diinginkan. Jadilah tiran, tirani, dan hegemoni yang menguasai dan berkuasa atas kebodohan dan pembodohan. Pakailah terus jubah teater lelakon Sang Maha dan jadilah penguasa kunci surga dan neraka yang paling berhak menentukan nilai dan memberikan nilai. Memang cinta itu hanya untuk diri sendiri saja dan bukan untuk semua. Keinginan untuk menjadi yang paling dengan segala pengakuan agar mendapat penghormatan dan penghargaan telah mengalahkan rasa hormat dan penghargaan itu sendiri. Jadilah pengecut yang tidak pernah berani untuk benar berjuang tanpa perlu membual dan menjual bualan. Biarkan bangsa dan Negara ini hancur dan tiada lagi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Anak, cucu, dan kehidupan nanti?! Siapa yang peduli?! Yang penting kini dan sekarang bukan?!

Yah, ini sekedar catatan kecil dari analisa, introspeksi, dan pemikiran saya saja selama berada di Kota Cinta. Ada banyak sekali kerinduan tetapi ada banyak sekali juga mimpi yang hanya menjadi mimpi di siang bolong. Landasan dan pondasi yang seharusnya dibuat kokoh itu tidaklah diprioritaskan, karena bunga dan buah yang tumbuh secara instant itu, meski hanya sesaat, itulah yang selalu dikedepankan.

Pertanyaannya, “Mau sampai kapan?!”.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

07 Juni 2011

ML Yogya

Bersama teman dan sahabat di Hotel Permata Dagen, Yogyakarta

Catatan:

Terima kasih atas segala cinta yang telah diberikan dari teman-teman dan sahabat yang penuh dengan pesona cinta di kota Cinta. Terima kasih Pak Hans Poerwanto, Pak Hari Dendi dan istri, Bang Itock Van Diera, Mbak Tyas Enka dan Mas Made, Aji dan Ira Fauzi, Mbak Ipung BuRW, Mas Hanung, Mas Yudi, Mas Kenyot, Bang Edysa Tarigan, dan semua. Teruslah berjuang dan bermimpi karena mimpi adalah nyata bagi mereka yang percaya dan mau memperjuangkannya. Bintang itu akan menjadi indah oleh mereka yang tidak pernah berhenti mengukirnya dengan sepenuh hati dan jiwa. Semoga cinta dan rindu itu selalu ada dan ada selalu agar apa yang menjadi mimpi bersama itu bisa terwujud. Maaf bila ada kata dan bahasa serta perilaku dan perbuatan yang tidak berkenan.

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s