Anak Sering Jadi Korban Pelecehan?!

Waaaahhhhh!!! Sering banget!!! Bukan hanya dilakukan secara sadar tetapi jauh lebih banyak yang tidak menyadarinya. Merasa tidak melakukannya, padahal telah melakukan sebuah perbuatan yang sangat mempengaruhi masa depan anak itu. Bahkan mereka adalah yang diakui sebagai anak kandung sendiri.

Saya teringat dengan sebuah kejadian di masa lalu yang selama ini saya simpan sendiri. Sebuah kejadian yang menurut saya sangat menjijikkan dan sangat menghina saya. Mungkin ini tidak terlalu berpengaruh bagi yang lain, tetapi bagi saya, amat sangat berpengaruh.

Waktu itu saya masih duduk di kelas satu bangku Sekolah Dasar. Sewaktu sedang berjalan melintas sebuah jalan, dekat dengan rumah orang tua saya tinggal, ada segerombolan pemuda yang meneriaki saya dengan ucapan-ucapan tidak pantas. Saya lupa bahasa Sundanya bagaimana, karena memang kejadiannya di Bandung dan bahasa Sunda saya memang payah sekali, tapi kurang lebih dalam bahasa Indonesianya, mereka bilang, “Nah, yang seperti ini patut ditunggu gedenya atau sekarang saja kita culik dan perkosa. “

Saya ketakutan setengah mati apalagi ada salah seorang dari mereka yang menyentuh dada saya. Saya takut sekali!!! Sampai saya tidak berani untuk cerita. Saya takut juga dimarahi. Ngerti, kan, bagaimana biasanya orang tua. Anak lebih sering dibuat bersalah walaupun maksudnya tidak demikian.

Ada satu kejadian lagi yang sampai sekarang tidak pernah saya lupakan juga. Kali ini kejadiannya setelah saya sudah remaja dan beranjak dewasa. Baru juga punya pacar yang dianggap “sangat ideal” oleh keluarga dan teman-teman.karena  ganteng, pintar, romantis, dan sudah pasti memiliki masa depan penuh harapan hidup senang dan sangat berkecukupan. Melihat dan memperhatikan saya yang biarpun sudah punya pacar namun masih sering bermain dengan teman-teman pria, seseorang berkata kepada saya, “Kalau saya, tidak akan pernah mau pacaran dengan perempuan seperti kamu yang kerjanya selalu pergi bermain dengan laki-laki!!! Sudah seperti perempuan murahan saja!!! Mana ada laki-laki yang bisa tahan dengan kelakuan kamu?!”.

Waktu itu saya sedih sekali bahkan sampai sekarang pun saya masih bersedih setiap kali mengingatnya. Bagi saya, itu adalah sebuah pelecehan yang sangat dalam biarpun yang mengucapkannya pasti tidak merasa melakukan perbuatan yang tidak benar ataupun mau mengakuinya. Saya merasa sangat terhina sekali dan sangat membekas dalam diri saya. Saya seringkali merasa tidak pantas atau layak untuk dijadikan pacar ataupun istri sehingga saya lebih sering mengalah. Mengalah dalam arti mencoba mengerti dan mengikuti apa yang menjadi keinginan orang tua, keluarga, dan orang lain tanpa mengindahkan apa yang sebetulnya saya inginkan. Mungkin ada  juga yang berpendapat bahwa ini benar, namun bagi saya ini adalah juga sesuatu yang saya sadari sebagai sebuah kesalahan. Anak adalah anak. Manusia adalah manusia. Apa dan siapa anak yang sebenarnya?! Apa dan bagaimana manusia yang seharusnya?! Kenapa nilai di mata manusia sebegitu pentingnya sampai lupa bahwa nilai dan kebenaran mutlak itu hanya ada pada Dia?!

Kejadian yang saya alami adalah contoh dari sebenarnya apa yang banyak terjadi. Berapa banyak di antara kita yang pernah mengalami hal yang sama dan atau lebih parah lagi?! Berapa banyak yang pernah disentuh guru renangnya?! Berapa banyak yang pernah dicium oleh sepupu atau Oom dan tante sendiri?! Berapa banyak yang pernah disuruh memegang alat kelamin ataupun bagian tubuh lainnya oleh tetangga, teman, ataupun kerabat dekat?! Berapa banyak yang mau mengakuinya?! Berapa banyak yang sampai sekarang masih dilanda ketakutan dan juga merasa terus bersalah?!

Saya tidak habis pikir bila masih ada yang sampai sekarang ini belum juga mau berpikir dan melakukan yang benar. Terus saja berkutat pada segala pembenaran dan pembenaran yang berikutnya dan selanjutnya. Takut, ya?! Takut dengan kebenaran yang sebenarnya?! Memangnya tidak punya rasa sedikit pun untuk masa depan?! Untuk kehidupan di masa depan?! Halllooooooooo….!!!

Seringkali kita semua memang merasa telah melakukan sesuatu tetapi menurut saya, merasa itu tidak cukup. Bukti pun bagi saya kalau hanya sekedar “pernah”, tidak memiliki arti apa-apa. Masalah kita sudah terlalu rumit. Semuanya sudah sangat berantakan. Masa depan bukan hanya sekedar memberikan donasi, membantu memberikan beasiswa, menyediakan rumah, dan berbagai usaha dan kegiatan sosial lainnya. Ini memang sangat berarti namun banyak yang sifatnya hanya jangka pendek saja sementara perbaikan untuk semua ini adalah jangka panjang. Sangaaatttt puuuuaaannnnjjjaaannngggg!!!

Menurut saya, tidak mudah untuk mau melakukannya. Maka dari itu, sudahlah. Kita juga tidak boleh tenggelam dan larut atas apa yang lalu. Jadikanlah yang lalu itu sebagai sebuah pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Bagaimana kalau kita mulai dari lembaran baru lagi sekarang ini. Mulailah dengan jujur pada diri sendiri saja dulu. Mau mengakui siapa diri kita sebenarnya. Ini juga bila mau. Soalnya, menurut saya juga, hanya dengan cara inilah kita semua bisa memberikan sesuatu yang benar untuk masa depan. Mau?!

Ini pendapat saya pribadi, ya!!! Bagaimana dengan pendapat yang lain?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

22 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s