Segala Bahagia Untuk Cinta

Illustrasi: anasrikandii.blogspot.com

Air mata ini sudah mengering saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Gejolak marah dengan berbagai tudingan dan tuduhan itu pun membuat diri menjadi malu. Melihat sisi yang lain tanpa ada rasa tidaklah mudah, tetapi benar-benar memberikan kebahagiaan.

Mengingat hari dan tanggal yang seolah pernah menjadi penentu masa depan. Harapan menjadi pupus saat waktu tak bisa dikejar dan bayang-bayang menghadapi segala resiko serta konsekuensinya membuat ketakutan. Marah karena tiada bisa berbuat dan merasa seperti tiada juga pernah bisa memberikan arti. Menutup buku yang selama ini diisi dengan berbagai kisah dan cerita sungguh membuat air mata tiada bisa berhenti berderai.

“Egois! Keras kepala! Sabar?! Mana kesabaran yang katanya memang dirimu?! Tidakkah ada rasa penghargaan sedikit pun atas apa yang sedang dilakukan?! Sia-sia saja semuanya!!!”, kata dan tanya itu terus berputar di kepala dan semakin lama semakin membuat kesedihan terus semakin menenggelamkan.

“Nggak boleh! Nggak mau! Jangan pergi! Bagaimana diri ini tanpa dirimu?! Jangan!”, teriak dalam hati yang keras penuh dengan hasrat.

Saat tangis itu berhenti, nafas panjang dan dalam ditarik dan dihembuskan, seekor kupu-kupu yang indah datang menyapa seolah tersenyum. Bintang tergenit di sudut senja pun muncul dengan kelap-kelip kedipan kilaunya meski dari kejauhan. Angin yang bertiup dengan lembut itu pun berbisik, “Beruang madu sedang melakukan hibernasi di musim dingin hingga musim semi itu tiba kembali. Saat peri pengayun tongkat untuk membangunkan mereka yang tertidur itu berpikir, beruang madu itu akan terbangun dan kembali berdiri bahkan berlari.”

Jauh di seberang lautan, pejalan sunyi yang tertutup dari segala doa pun berkata, “Saya sudah mati. Saya tidak memiliki apa-apa lagi.”

Semerbak harum bunga yang bersama angin kembali berbisik, “Biarlah mereka dan dia menilai, tetapi apa yang ada akan selalu ada, tetap hidup dan member kehidupan. Apa yang tidak ada bukan berarti kosong dan tak terisi. Dunia ini berputar, dan roda kehidupan terus berjalan. Semua ada masa dan waktunya.”

“Saya sedang diputar.”

“Dirimu tak memerlukan apa-apa. Senyummu pun sudah membuat bunga-bunga merona.”

“Ah, dirimu bisa saja. Seperti memang betul.”

“Kata bisa bicara, namun masih bisa terlihat bagaimana senyum itu ada.” “Hehehe….”

“Maafkan diri yang telah menuduh dan menuding. Diam menjadi pilihan agar bisa lebih banyak mendengar dan di dalam sunyi, segala sesuatunya lebih dekat dan terasa. Buku itu saya baca berulang-ulang, lagi-dan lagi agar mampu melihat dan mengerti. Egois hanyalah penilaian dari sebuah sisi yang penuh kemarahan, karena tidak mudah untuk mencabut kata dan bahasa. Lebih mudah menghukum dan mendapatkan hukuman dari yang lain dibandingkan dengan memiliki kebesaran jiwa untuk menghukum diri sendiri. Keras itu pun bukan terhadap yang lain tetapi keras terhadap diri sendiri. Lebih banyak yang memberikan bukti dengan alasannya untuk membenarkan diri. Butuh nyali dan keberanian untuk mau merendahkan diri dan memulai segalanya kembali. Saya menjadi bahagia karena semua ini. Salam hormat selalu untukmu.”

“Tak ada hormat pun tak mengapa, saya akan selalu menghormatimu.”

“Biarkan diri ini melihat apa yang dirasakan. Tak mengapa bukan?!”

“Ya, bebas saja.”

Seketika jiwa ini seperti ingin menari dan tertawa. Kedamaian itu memang benar datang pada diri yang bahagia dan merdeka. Tak perlu ada susah dan sedih karena apa yang terjadi bukanlah pencobaan tetapi pembelajaran. Segala yang terbaik dan terindah selalu diberikan.

Seringkali kita merasa memiliki cinta untuk diberikan namun sesungguhnya semua cinta itu tidak untuk diberikan kepada yang diakui dicintai sekalipun. Cinta itu hanyalah untuk diri sendiri dan bahkan bahagianya pun adalah yang menurut diri kita bahagia, bukan yang membuatnya bahagia. Hasrat yang sudah membelenggu diri, ketidaksiapan dan ketidakmampuan untuk menerima hilangnya harapan, membuat marah dan kesal itu pun semakin membuat cinta itu hilang.

Cinta tak perlu harus selalu bersama. Bahagianya adalah yang membuat diri bahagia. Susah dan senang menjadi sama karena segala sesuatunya memiliki beragam sudut pandang yang berbeda. Susah bisa menjadi senang sementara senang itu pun bisa menjadi susah, tergantung dari mana kita melihatnya. Semua ada posisi, waktu, dan tempatnya yang tepat dan sesuai. Hanya masalah bagaimana kita mampu menempatkannya dengan tepat saja, kan?!

Untuk apa memaksakan diri dan memaksanya karena tidak akan pernah ada yang indah dihasilkan dari pemaksaan dan keterpaksaan. Dibutuhkan keingingan dan ketulusan di dalam menjalani apa yang disebut dengan “Kita”, bila ada salah satu yang tidak ingin, maka untuk apa juga dipaksakan. Hidup ini adalah pilihan dan semua diberikan kebebasan untuk memilih tanpa harus dipaksa. Bila benar memang cinta, maka tak akan pernah ada yang hilang.

Penggalan kata di dalam buku itu terungkap. Di dalamnya, kata dan kalimat yang pernah terurai kembali terbaca. “Kau hanya akan mendapati apa yang kamu ketahui jika mempelajari diriku. Kau akan mendapatkan lebih dari itu jika kau merasakan kehadiranku. Aku ini sang matahari, malam dan mimpi yang kala kau dekati akan semakin bermisteri, tetapi akan selalu hadir jika kau terima kehadirannya sekalipun dia sangat jauh.”

Semoga saja musim semi itu segera datang datang dan pelukan kehangatan matahari akan segera meluluhkan sekaligus membangkitkan.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

9 Juni 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Dari Hati, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s