Sensualitas Seks Ekonomis

PSK jalanan dan rumahan semakin meningkat, hingga kapan penutupan lokalisasi dianggap solusi dan membuat moral meningkat? Illustrasi: beritabatavia.com

Hari gini, semua juga mengencangkan tali pinggang. Kalau tidak punya uang yang sangat berlebih, selalu berusaha mencari yang paling ekonomis. Begitu juga halnya dengan urusan seks. Semakin murah semakin seksi sekarang ini. Sensualitasnya semakin tinggi. Wow!!! Asyik, ya?!

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat jalan-jalan lewat tengah malam menyusuri satu jalan besar di kota Bandung. Yah, tahulah, ke mana saya paling suka pergi. Pastinya ke tempat di mana seks berada. Di mana ada seks di sana ada sensualitas yang sangat luar biasa menariknya untuk saya. Seru, sih!!!

Benar saja, tidak perlu capek-capek atau berlama-lama untuk bisa mendapatkan sesuatu yang menarik seputar seks di sana. Saya memergoki sebuah transaksi jual beli kenikmatan sesaat yang dilakukan oleh seorang pekerja seks komersial dan tiga orang pria belia berkendaraan roda empat di tepi jalan besar itu.

Goban!!!” – Lima puluh ribu

“Bertiga, ya!!!”

“Bertiga?!

“Mau nggak?! Nggak mau, ya sudah!!!”

“Jangan pakai lama, ya!!!”

“Naik!!!”

Waduuhhh!!! Rambut saya benar-benar jadi gatal seketika. Rasanya uban pun langsung tambah seratus helai. Aduuuhhh!!! Hahaha….

Saya tidak bisa melakukan apa-apa melihat kejadian itu. Bagi saya, ya, sudah. Percuma juga saya melakukan sesuatu saat itu. Apa mungkin saya bisa menghentikannya?! Sama sekali tidak mungkin. Mungkin hanya saat itu saja tapi kalau saya tidak ada, bagaimana?! Sama saja bohong, kan?! Lagipula saya pikir lebih baik saya melakukan sesuatunya nanti saja. Pada waktu dan saat yang lebih tepat. Mengikuti emosi dan nafsu seringkali malah tidak menghasilkan apa-apa. Biarpun hati rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya.

Esok harinya saya menelpon seseorang yang dikenal sebagai salah satu “mami”. Mengajaknya untuk berjumpa di sebuah café untuk berbincang-bincang. Mungkin bagi sebagian besar orang, ini adalah hal yang aneh, tapi buat saya, biasa saja. Memang sudah biasa. Mainan sehari-hari saya seperti ini.

Kami pun berjumpa. Ada sejuta pertanyaan dalam kepala yang ingin saya tanyakan kepadanya. Saya ingin tahu bagaimana keadaan prostitusi sekarang ini. Tentu saja berkaitan dengan apa yang saya saksikan sebelumnya.

Dari percakapan kami, saya menarik kesimpulan bahwa memang pada kondisi sekarang ini, harga sudah tidak lagi bisa seperti sebelum-sebelumnya. Permintaan memang melonjak, tetapi persaingan harga sangat berat. Jumlah pekerja seks komersial semakin banyak dan kemampuan daya beli berkurang. Di lain pihak, kebutuhan semakin besar pula. Kalau tidak banting harga, dari mana bisa mendapatkan penghasilan?! Jadi, daripada nggak makan, ya, terpaksa, deh!!!

Ini menarik sekali untuk saya. Pertama adalah soal jumlah pekerja seks komersial yang semakin banyak jumlahnya. Apalagi banyak sekali yang terselubung. Bukan di jalan-jalan atau tempat-tempat tertentu, yang bekerja di rumah pun banyak. Makanya, ini juga menyebabkan sulitnya melakukan koordinasi dan juga pemantauan. Sangat tersebar dan tertutup, sih?! Mau mendata saja susah, apalagi mau memberikan obat dan penyuluhan bagi mereka. Berbeda dengan dulu, di mana ada lokalisasi. Tempatnya sudah hampir bisa dipastikan biarpun ada tempat-tempat terselubung lainnya. Data lebih mudah didapatkan. Pengobatan dan penyuluhan bisa terus dilakukan. Sekarang?! Susah banget!!! Jadi, jangan heran kalau penyebaran penyakit kelamin pun semakin menjadi-jadi. Terima nasib saja?!

Yang kedua adalah jumlah permintaan yang semakin meningkat pula. Saya yakin ini ada hubungannya dengan kondisi dan situasi sekarang ini di mana tingkat stress juga sangat tinggi. Keharmonisan rumah tangga sangat menurun. Jumlah perceraian semakin tinggi. Sementara mereka yang masih muda dan belum menikah pun tidak memiliki banyak sarana untuk bisa melakukan kegiatan yang lebih sehat dan bermanfaat. Mau main sepak bola dan basket saja harus mengeluarkan uang yang cukup lumayan. Mau kursus ataupun ikut pelatihan, dana pas-pasan juga. Kalau iseng dan rasa sepi sudah menghantui, pelampiasan dengan seks adalah jalan singkat yang paling sering ditempuh. Iya, kan?!

Sekarang pertanyaannya, kenapa uangnya lalu dihabiskan untuk membeli kenikmatan sesaat?! Begitu, kan?! Pada kenyataannya, memang bisa lebih murah, kok!!! Itu tadi, dengan lima puluh ribu saja, bisa bertiga. Berarti satu orang cukup membayar sekitar Rp.17.500,- saja. Lebih-lebih dikit buat tips lah, ya!!! Murah, kan?! Coba bandingkan dengan nongkrong di warung kopi. Minimal Rp. 25.000,- harus ada di kantong. Gimana, dong?!

Kembali lagi ke masalah perekonomian. Para pekerja seksual ini juga kena imbas dari tingginya harga barang-barang kebutuhan pokok. Maunya, sih, pastinya, menaikkan harga, dong, ya!!! Tapi, nggak mungkin juga. Mau nggak mau, terpaksa nggak terpaksa, pada akhirnya jadi mau juga. Malah sekarang banyak pekerja seksual yang sedang hamil besar pun tetap bekerja. Apa ada alternatif lain?! Kalau hanya untuk ditangkap, dijadikan bulan-bulanan publik, dan diberikan penyuluhan seadanya, sih, tidak terlalu sulit namun apa ini bisa menyelesaikan masalah?! Ada yang bisa memberikan mereka lowongan kerja dan memberikan mereka penghasilan yang cukup memadai?! Kalaupun ada, bisa untuk berapa banyak?! Kerjanya apa?!

Sensualitas seks ekonomis tidak bisa dihindarkan lagi kalau sudah begini. Kalau dibiarkan terus pasti akan semakin parah. Apalagi bila kondisi dan situasi semakin memburuk. Ditambah lagi dengan adanya sebagian masyarakat yang terlalu mementingkan kepentingan pribadi dan golongan saja. Hanya bisa menuding dan menunjuk jari tapi tidak juga membantu memberikan solusi yang terbaik. Memerikan nilai dan juga kecaman serta ancaman.  Enak di situ, nggak enak di yang lain. Apa ini harus dibiarkan?! Masa harus kena batunya dulu, sih?!

Jangan bosan, ya, kalau saya terus-terusan menghimbau kepada semua untuk selalu melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi pandang yang berbeda. Selalu ada sisi lain di balik sisi yang satu. Ini semua demi kita juga. Demi masa depan yang selalu kita impikan dan idam-idamkan.

Semoga saja kita semua tetap memiliki hati untuk terus bahu membahu memperjuangkan semua ini. Masa depan adalah kini. Apa yang kita lakukan sekarang adalah untuk nanti. Yuk, kita sama-sama berusaha, ya!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

29 Maret 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sensualitas Seks Ekonomis

  1. Ardian Sad says:

    Semua rasa bercmpur aduk baca artikel kakak. Rasanya mau nangis, ketawa, prihatin, pokoknya campur aduk sampe tak cukup di samakan dengan es goder yang pake macam-macam itu …

    Salut untuk kakak, turun ke jalan. Lihat langsung apa yang sebenarnya terjadi …

  2. Nurul Amin says:

    Secarut marut apapu masalah prostitusi, akarnya tetap saja masalah ekonomi.
    Dalam sebuah riwayat ” Kebodohan membawa Kemiskinan, Kemiskinan membawa pada kekufuran”. Hal ini menurut sy berlaku jg dalam masalah prostitusi mbak. Banyak PSK yang lebih rajin beribadah daripada pelanggannya. Ini kan Ironis, artinya masalah prostitusi tidak berakar dari moral, tapi ekonomi.

    • bilikml says:

      Masalah prostitusi memang selalu berawal dari ekonomi yang kemudian bisa menjadi budaya… dan hendaknnya semua ini disadari penuh karena untuk menyelesaikannya sangatlah tidak mudah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s