Cinta Menerjang Suara Sumbang

Illustrasi: devian art

Genderang suara sumbang ditabuh pertanda perang. Langit memerah  dan burung-burung memekik. Jerit dan tangis pun tidak didengar  seolah telinga tak lagi bergenderang. Kemarahan pun kian menggelegar tiada memiliki ampun. Tiada celah untuk berlari, ke mana pun selalu ada teriakan dan tebasan. Sungguh menyedihkan, semua ini justru dilakukan atas nama cinta oleh mereka yang mengaku memiliki cinta dan sangat mencintai. Apakah cinta yang sesungguhnya?!

Entah angin dari mana yang telah mengoyak kepala dan menghalau hati hingga tak berbekas. Cinta yang luhur dan sedemikian indahnya itu pun diperkosa dan dilecehkan sedemikian rupa hingga tiada ada rasa hormat dan penghargaan. Kata dan bahasa hanya terisi oleh nyanyian racau kesumbangan nada. Mungkinkah semua karena cinta atau memang cinta itu sesungguhnya tak pernah ada?!

“Saya sangat mencintaimu.  Saya sangat merindukanmu. Dirimu adalah yang terbaik dan terindah.”

“Ah! Semua juga begitu kalau sedang dilanda dan mabuk asmara. Coba kalau semua cinta itu hilang ditelan lautan. Masihkah dirimu akan berkata yang sama?!”

“Tidak akan pernah! Saya akan selalu mencintaimu sepanjang hidup dan hayat.”

“Banyak yang merasa seolah memang benar cinta, tetapi sesungguhnya hanyalah keterpesonaan dan keterpanaan sesaat. Rasa penasaran, tantangan, dan juga ambisi serta hasrat seringkali ditutupi oleh selimut bernama cinta.”

“Tetapi tidak diri ini padamu. Rasa cinta yang ada ini adalah benar adanya.”

“Siapa yang tahu hari esok?!”

“Tidak ada yang tahu hari esok tetapi semua itu harus dihadapi dengan segala keyakinan yang ada. Cinta tak akan pernah hilang bila selalu dijaga dan dirawat.”

“Bagaimana bisa dijaga dan dirawat bila memang tak pernah ada cinta?!”

Bahkan mereka yang mengaku paling dekat dan paling cinta, mereka yang merasa paling mengerti dan tahu sekalipun,  sesungguhnya tidak memiliki cinta untuk diberikan. Tidak pernah tahu sehingga tidak pernah mengerti. Apa yang benar hanyalah apa yang menurut mereka benar. Apa yang membuat bahagia adalah apa yang membahagiakan mereka saja. Jika tidak, apa yang terjadi?!

“Jika memang benar cinta dan sayang dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, mengapa harus ada timbal balik dan kewajiban untuk mengembalikan?!”

“Tidak ada kewajiban di dalam memberikan cinta. Tidak juga ada hak untuk menuntut pengembalian.”

“Bagaimana dengan larangan, batasan, cemburu, kepemilikan, dan juga segala keinginan serta harapan itu?! Bukankah itu menjadi sebuah kewajiban yang bila tidak dilakukan, diberikan, ataupun diwujudkan maka semuanya akan menjadi salah?!”

“Cinta tak pernah memiliki dan membatasi. Cemburu itu bukanlah karena cinta tetapi karena rasa takut dan ketidakyakinan terhadap diri sendiri dan juga yang lainnya. Mimpi dan harapan itu ada tetapi kemudian menjadi yang menyakitkan bila semua itu menjadi tak ada lagi.”

“Lantas, haruskah ada hukuman dan kutukan serta sumpah serapah dan makian bila semua itu terjadi?!”

“Benar seperti apa yang pernah diajarkan oleh seseorang penuh cinta bahwa banyak orang yang melompat kegirangan saat bisa memenangkan sebuah perkara tetapi sesungguhnya lebih banyak orang yang justru jauh lebih bahagia saat menerima dan menjalani semua hukuman.”

“Yah, memang rasanya selalu melegakan bila mampu memberikan hukuman di setiap pengadilan biarpun sebenarnya hati kecil itu tahu bahwa tidak ada yang salah, tidaklah mudah juga untuk memiliki kebesaran jiwa mengakui segala kesalahan karena lebih mudah menunjuk jari. Yang lebih sulit lagi adalah untuk bisa menghadapi kenyataan atas segala kesalahan yang diperbuat dan memberikan hukuman pada diri sendiri agar menjadi lebih baik. Tidak ada yang bisa berubah selain diri sendiri bukan?!”

Alangkah indahnya bila cinta itu benar ada. Tidak perlu ada perang dengan segala dukanya. Tidak perlu ada teriakan ataupun segala tebasan. Tetapi, bila semua itu tidak pernah terjadi, bagaimana bisa belajar untuk mengerti dan memahami cinta yang sesungguhnya?! Bagaimana, dijalani, dan dihadapi karena merupakan proses pembelajaran dalam kehidupan?!

Ya, kita memang tak tahu tentang hari esok , bagaimana, akan ke mana, dan apa yang akan tejadi. Tapi yang harus kita miliki adalah sebuah keyakinan, sebuah keyakinan yang dipandu oleh akal sehat kita, mau apa, mau kemana, berbuat apa dan bagaimana kita nanti. Itulah yang kita sebut sebagai sebuah rencana dalam hidup. Demikian pula halnya dengan mencintai. Ia pun membutuhkan akal sehat, agar kita mampu menemukan keikhlasan atas cinta, menerima semua konsekuensi atas semua pilihan yang kita jalani.

Tak terbayang  apa jadinya jika hanya mampu berkata tapi tak tahu apa dan bagaimana kita mencintai. Dan benar kita tak tahu apakah kita akan terus bersama dengan orang-orang yang kita cintai, toh kita hanya bisa menjalankannya dan terus berusaha menjaga serta terus memupuk rasa cinta agar tak layu dimakan jaman. Ya, hanya berusaha dan sekali lagi berusaha terus berusaha.”

Ibarat dua ekor ikan bertemu di dalam sungai berarus deras di mana sampah-sampah buah perbuatan orang  tak berakal dan tak berbudi telah mencemari seisi sungai itu. Mereka berdua saling bercerita dan berbagi tentang kehidupan yang harus mereka hadapi dan jalani. Mereka hanya ingin bisa memiliki kehidupan dan meneruskan kehidupan, sayangnya menjadi semakin sulit akibat ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Melawan arus yang deras dan untuk bisa bertahan pun sudah sulit, mengapa harus ditambah lagi beban dan kesusahan?! Berlari menghindar pun tiada guna karena tak ada lagi tempat untuk bernaung. Di mana pun sama saja, tak ada pilihan lain kecuali menghadapinya. Berusaha keras dan terus berusaha merupakan cinta mereka dan rasa hormat serta penghargaan mereka kepada cinta.

Genderang perang bisa terus ditabuh oleh siapapun juga dengan sekeras apapun juga, namun cinta akan tetap mampu menerjang suara sumbang meski tanpa harus melawan dengan kekerasan selain perang melawan diri sendiri dan keras terhadap diri sendiri. Semakin keras suara itu, semakin penuh juga diri oleh cinta. Berbahagialah mereka yang harus menghadapi dan menjalaninya tanpa beban karena cinta itu ada dan ada selalu. Yang terbaik dan terindah selalu diberikan oleh-Nya karena cinta mengalahkan segalanya.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis dan Edysa Tarigan

15 Juni 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s