Merindukan Fajar Berteman Angin Malam

Illustrasi: shirah-music.com

Hembusan semilir angin malam mengurung diri yang sedang diliputi kerinduan. Hati yang dipenuhi cinta  menjadi kian penuh dan membuat sesak di dada. Ada banyak yang ingin sekali  diberikan untuk cinta dan rindu.

Beberapa saat yang lalu, dia masih ada di samping. Memeluk, mendekap, dan mencium penuh sejuta kehangatan cinta. Sekarang, dia sedang dalam perjalanan menuju tempatnya harus berada. Hati siapa yang tak gundah gulana saat kerinduan itu hadir meliputi diri?! Bersama selalu dan selalu bersama dengannya adalah mimpi dan harapan.

Menelusuri perjalanan pulang setelah mengantar kekasih hati pergi, dunia terasa seperti kosong dan hampa. Meskipun tahu perpisahan ini hanya sesaat dan tak lama lagi pun akan ada pertemuan kembali, tetapi entah mengapa, selalu saja berat untuk berpisah. Meski juga ini bukan yang pertama kali dan

Tak terasa air mata ini menetes setitik saat melihat tempatnya biasa berada dan mencium sisa-sisa aroma tubuhnya. “Ya, Tuhan! Berikanlah kami kesempatan untuk bisa selalu bersama dan bersama selalu. Saya ingin selalu bersama dengannya  menghabiskan setiap saat dan waktu tersisa sepanjang hidup dan hayat.”

“Rindu dan pertemuan, mimpi dan harapan akan selalu menghiasi perjalanan cinta kita. Kau tahu duhai juwita malam, berat rasanya diri melangkahkan kaki meninggalkanmu. Sementara kita tahu bersama dan dalam kebersamaan selalu menjadi kerinduan. Ah! Indahnya cintamu!!!”

Sepanjang malam sebelumnya sudah banyak yang dibicarakan bagaimana tentang “KITA”, bagaimana menjalaninya, bagaimana menempatkan posisi, waktu, dan tempat yang menjunjung tinggi adil, keadilam dan kesetaraan, serta prioritas yang harus didahulukan di dalam menunaikan kewajiban bersama dan juga pribadi. Langkah yang sebaiknya diambil dan tantangan yang harus dihadapi. Semuanya demi dan untuk cinta, mimpi, serta harapan “KITA”.

“Ada waktunya menjadi kekasih, ada waktunya menjadi teman dan sahabat, ada waktunya menjadi orang tua, ada waktunya juga menjadi anak dan saudara.”

Terkadang ada rasa kesal dan marah karena setiap pembicaraan yang ada. Tak sedikit juga gelak tawa dan keceriaan. Sesekali ada tangis kesedihan dan juga tangis keharuan bahagia. Semua itu menjadi ingatan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, bahkan menjadi inspirasi untuk bisa melakukan serta memberikan lebih banyak lagi.

“Entahlah, yang pasti, keberadaanmu di samping setiap saat dan waktu selalu saja membuat diri ini menjadi bahagia. Apapun, bagaimana pun, dan kapan pun.”

Marah karena sebuah kejujuran jauh lebih baik agar bisa lebih saling kenal dan mendekatkan satu dengan yang lainnya. Sungguh berbeda bila suara-suara yang menghujam itu justru datang dari yang lain. Suara-suara yang terus saja mengganggu untuk merusak segala keyakinan yang dimiliki. Semakin keras dan semakin menggelegar justru pada saat sedang sendiri.

“Sabar, ya! Ada saatnya nanti bahagia itu datang. Yakinlah!!!”

Rasa takut yang ada bukanlah takut kehilangan tetapi takut tidak memiliki daya untuk bisa mengatasi segala persoalan dan masalah yang harus dihadapi. Bukan masalah antara berdua tetapi masalah dengan yang lainnya. Terbayang bagaimana mereka akan berteriak mengetahui bagaimana yang sebenarnya dan yang sesungguhnya. Sebelumnya pun mereka sudah berteriak sekencang-kencangnya dengan suara-suara sumbang yang membuat hati tersayat-sayat.

“Biarkan mereka menjadi bahagia karena telah menghukum dan menjadi pemenang. Ajarilah mereka dengan kesabaran dan ketenangan. Tidak ada yang perlu ditakutkan ataupun dikhawatirkan, saya akan selalu ada untukmu. Bersama kita akan menghadapinya dan bersama kita juga akan melaluinya. “

“Saya hanya ingin mereka bahagia. Semua orang berhak untuk mendapatkan yang terbaik dan menjadi bahagia.”

“Sama juga halnya dengan dirimu. Biarkan mereka bahagia dengan caranya mereka sendiri namun jangan biarkan mereka merebut kebahagiaanmu dengan memaksakan cara mereka kepadamu.”

“Ah! Tak sabar rasanya menanti saat itu tiba. Saat di mana kita hanya berdua dan selalu bersama.”

“Selalu akan ada pertemuan demi pertemuan yang akan kita lalui hingga akhirnya kita akan selalu bersama. Pergi pun, saya membawa cinta.”

Angin malam terus menemani malam yang sedang menantikan fajar untuk datang kembali dan membawanya pada terang. Rasa dingin yang dihantarkannya membawa kerinduan kepada yang semakin mendalam. Seolah ada banyak sekali pesan yang ingin disampaikannya kepada malam untuk disampaikan kepada fajar. Pesan yang dipenuhi dengan rasa cinta dan kerinduan.

“Saat jauh dari sang kekasih hati, anak manusia terbuai dalam rindu menanti. Duhai kau juwitaku, rindu ini tak tertahan padamu.”

“Malam menatap buaian angin bertiup mesra merayu rembulan. Wahai kekasih jiwaku, betapa rindu menguasai diriku.”

“Desahan angin membelai wajahku sekan menghantar kabar darimu. Walau hati gundah gulana berharap kekasih bahagia di sana.”

“Sepi sendiri menantikan fajar di teras cinta. Tiada bahagia yang paling membahagiakan selain bersama kekasih tercinta.”

“Burung malam terbang kian ke mari berputar mengelilingi langit. Duhai kau kekasih hati, janganlah engkau gusar walaupun semenit. Berilah senyummu yang tergenit.”

“Kelelawar menari melesungkan pipit di kaki langit. Tiada ada marah meski kecewa itu kian melejit. Memaksakan senyum di balik duka hanya akan menambah hati menjerit.”

“Cemara tersenyum menatap langit, di sini pun hati gelisah terasa. Wahai engkau juwita kekasih hati, tiada diri sampai hati bermaksud memaksa.”

“Tak usah gundah dan gulana. Langit malam pun kian mempesona. Diri ini selalu bahagia dipenuhi cinta darimu yang tiada berbatas.”

“Kekasih hati, juwita malamku, bahagianya hati jika selalu bersamamu.”

Perjalanan cinta penuh dengan kerikil yang tajam dengan segala lubang yang siap menghancurkan dan menjerumuskan. Tidak ada yang mudah tetapi semuanya bisa menjadi mudah bila memang benar cinta itu ada. Hanya cinta yang bisa mengalahkan segalanya dan hanya cinta jugalah yang akan terus menjadikan segalanya indah dipenuhi keindahan.

 “Jagalah rindumu kekasih. Biarlah hati kita tetap menyatu. Pupuklah selalu maka cinta akan senantiasa bersemayan di sana. Juga ada cinta dan rindu untukmu.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis dan Edysa Tarigan

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Dari Hati, Mimpi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s