Hening Pun Lebih Banyak Berbicara

Illustrasi: anzeviiara.blogspot.com

Saat semua tertidur lelap dan tidak ada suara lagi yang mengganggu, jiwa ini selalu terpanggil untuk bicara. Menguraikan kata demi kata lewat tulisan, mengungkap segala rasa dan pemikiran sebagai buah cinta dari persetubuhan keduanya. Keheningan ternyata memang lebih banyak bersuara dan lebih banyak pula memiliki arti dan makna. Suara keras dan bising itu hanyalah menjadi kekerasan dan kegaduhan yang mendistorsi hati serta kepala sehingga semuanya menjadi sia-sia belaka.

Sekarang ini sepertinya memang sedang trend di mana setiap orang merasa memiliki hak untuk bicara sekeras dan selantang mungkin. Meneriakkan apa yang membuatnya marah, sedih, ataupun kecewa tanpa pandang posisi, waktu, dan tempat. Tanpa juga mengindahkan tata karma serta etika ataupun peraturan dan aturan sehingga tidak ada lagi yang namanya adil dan keadilan ataupun rasa hormat menghormati dan saling menghargai. Suka-suka, begitu, kan?!

Media massa pun malah mendorong semua ini terjadi dan membuat segalanya semakin semrawut. Membuat provokasi yang mengarahkan masyarakat ke dalam pola pikir dan cara pandang yang subjektif karena tidak menampilkan berita ataupun opini secara objektif. Tergantung pada siapa yang berkuasa dan kepentingan. Begitukah?!

Seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, betapa terkejutnya saya melihat sebuah media jejaring sosial yang besar dan ternama mengirimkan tweet berisi tulisan yang sangat provokatif dan menjerumuskan. Sama sekali tidak bermanfaat dan bisa mendorong masyarakat ke arah perpecahan dan berbuat tidak baik. Meskipun itu adalah sebuah jejaring sosial berupa blog yang membebaskan setiap anggotanya untuk menulis, bukankah sudah ada aturan dan peraturan yang diterapkan bahwa segala tulisan yang mengandung unsur SARA tidak diijinkan?! Mengapa kemudian hal ini dilanggar sendiri?!

Apakah karena tulisan itu memang benar bermoral karena sudah menghukum kaum homoseksual?! Apakah karena mereka kaum homoseksual maka mereka berhak diperlakukan secara tidak adil dan manusiawi?! Bila alasannya adalah karena mereka kaum pendosa dan sudah seperti binatang, lantas mengapa tidak membuat mereka menjadi manusia dengan cara yang manusiawi?! Apakah dengan memperlakukan mereka seperti binatang maka sudah merasa diri lebih manusia dibandingkan mereka dan para binatang?! Tunggu dulu!!!

Bagaimana seseorang bisa mengaku lebih bermoral dibandingkan manusia lainnya bila sudah berlaku tidak adil dan tidak menegakkan keadilan?! Bagaimana seseorang bisa merasa lebih baik dan suci dibandingkan yang lainnya bila terus menghukum dan menjatuhkan?! Bagaimana seseorang bisa mengatasnamakan kebebasan bila sudah membelenggu yang lainnya?! Bagaimana bisa seseorang mengatasnamakan hak asasi dan demokrasi bila kemudian juga berteriak menentang hak orang lain dan mematikan demokrasi?!   Bagaiamana bisa seseorang berteriak anti tirani dan hegemoni bila diri sendiri tidak mengindahkan aturan dan peraturan dengan seenaknya membuat aturan dan peraturan sendiri atau mengabaikan aturan dan peraturan yang telah ada dan menjadi tiran dan hegemon?!

Tidak usahlah bicara soal perbaikan, masa depan, dan kehidupan yang lebih baik. Untuk mau belajar merendahkan hati dan belajar lebih banyak pun tak mau. Selalu merasa lebih dan paling dan bahkan melebihi Dia dengan memiliki kunci yang menentukan surga dan neraka. Merasa diri pahlawan yang benar harum dan benar memberikan keharuman namun tetap saja tidak membuat perubahan dan malah membuat semuanya semakin busuk dan membusuk. Jika benar sudah melakukan sebuah perubahan, apa pantas kemudian merasa diri sebagai seorang malaikat yang dipuja dan dipuji?! Di mana cinta dan ketulusan yang katanya ada itu?! Bersujud pun hanya tubuh yang melakukannya apalagi nyali untuk bercermin dan mengakui segala kesalahan dengan jujur dan jiwa besar, ya?!

Entahlah, bagi saya semua ini sungguh sangat memprihatinkan. Suara yang keras dan bising itu memang mendominasi dan menjadi mayoritas. Salah atau benar bukan yang menjadi intinya, tetapi yang terpenting adalah yang paling bisa dianggap benar. Segala cara, daya, dan upaya boleh dilakukan untuk mendapatkan pengakuan. Membuat yang lain menjadi yakin dan kemudian sama-sama percaya serta mau melakukan apa yang dianggap benar itu tanpa harus berpikir lebih panjang lagi. Sungguh sebuah pembodohan yang menyesatkan; dan yang paling menyedihkannya lagi, masih saja terus dilanjutkan karena sudah merasa “paling”.

Saya adalah salah satu anggota masyarakat yang sangat tidak setuju dengan demontrasi atau penggiringan massa. Mengapa?! Karena terbukti bahwa demonstrasi yang selama ini ada hanyalah untuk memanfaatkan  kepentingan pribadi dan segelintir kelompok saja. Jika memang benar bisa memberikan perubahan, maka solusi yang ditawarkan itu tidak perlu dinegosiasikan. Tidak ada kompromi di dalam sebuah idealisme. Jika sampai semua itu tidak terjadi, maka sebaiknya bertanya pada diri sendiri, sekokoh apa landasan dan dasarnya?! Apa sebenarnya maksud dan tujuan yang sebenarnya?!

Apalagi kemudian mengumpulkan segala macam dukungan lewat petisi dengan menjual keburukan bangsa dan Negara di hadapan bangsa dan Negara lain. Duh! Hina sekali bagi saya!!! Bila memang benar cinta pada bangsa dan Negara ini, maka mulailah dari bangsa dan Negara ini dan jangan pernah merusak bangsa dan Negara ini di mata bangsa dan Negara yang lain. Harga diri bangsa dan Negara ini ada di tangan diri sendiri dan bukan di tangan yang lain. Merendahkan diri pada yang lain sama artinya dengan merendahkan diri sendiri dengan alasan apapun juga.

Sungguh saya juga tidak mengerti, mengapa orang-orang yang seperti ini justru yang dipuja puji dan mendapatkan segala kehormatan?! Meskipun benar pemikiran dan analisanya, tetapi di manakah hati dan nurani?! Apakah segala sesuatu yang logis dan rasional itu sudah pasti benar?! Sudah jelas mereka tidak cinta pada bangsa dan Negara ini, serta hanya mementingkan diri sendiri, kok, malah didukung?!

Barangkali saya saja, ya, yang aneh dan terlalu ekstrem. Ya, saya memang sangat tidak menyukai suara keras dan bising. Bagi saya, semua itu hanya akan merusak pikiran dan menghilangkan hati nurani saya.   Di dalam keheningan itu, suara di dalam hati akan jauh bisa lebih keras terdengar dan saya membiarkan nya menuntun jiwa dan roh saya untuk menuliskannya lewat kata dan bahasa. Lebih baik saya tetap berada di dalam keheningan dan tetap berusaha untuk menjadi diri sendiri dengan segala resiko serta konsekuensinya. Saya selalu yakin bahwa nilai itu hanya milik Dia dan surga adalah milik semua.

Tidak ada yang perlu ditakutkan di dalam keheningan karena di dalam sepi itu pun sebenarnya tidak sendiri jika kita mau membuka diri dan menerima semuanya dengan tangan terbuka. Tidak perlu merasa paling karena bila demikian maka akan selalu ada ketakutan atas nilai, persepsi, dan pandangan yang pada akhirnya membuat diri menjadi terbatas. Memang tidak mudah untuk bisa menghadapi diri sendiri dan melepaskan diri dari lingkaran yang sudah membuat diri merasa nyaman meski tahu bahwa lingkaran itulah yang telah membuat diri menjadi bodoh dan menjadi korban pembodohan. Menjadi jujur jauh lebih sulit dibandingkan menjadi pendusta dan manusia yang munafik.

Sebegitu sulitnyakah merendahkan hati untuk mau belajar dengan benar belajar untuk menghormati dan menghargai semua anugerah terindah yang diberikan oleh-Nya sebagai seorang manusia?! Apa dan siapakah diri ini?!

Seperti yang sering saya ucapkan pada seseorang yang sangat saya cintai, “Dirimu menjadi jauh lebih indah dan mempesona justru pada saat bibirmu itu tertutup dan terdiam untuk sesaat. Pada saat itulah  keningmu itu pun menjadi berkerut karena berpikir dan hatimu itu pun membisikkan yang terindah.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

18 Juni 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Hening Pun Lebih Banyak Berbicara

  1. Nurul Amin says:

    Keheningan berisi banyak nasehat

  2. Mimin says:

    mimin suka dengan keheningan
    cuman kadang rada kikuh kalau terlalu heing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s