Hormat dan Cinta Untuk Mbak Linda Djalil

Tidak mudah menjadi seorang perempuan yang sejatinya dengan segala kekuatan dan keperkasaannya. Terlalu mudah untuk bisa menjadi bulan-bulanan oleh mereka yang tak menghargai proses dan perjalanan waktu. Terlalu mudah juga untuk menjadi bahan cibiran dan cemooh bagi mereka yang selalu ingin berusaha untuk menjatuhkannya. Sementara waktu terus berjalan dan waktu juga bicara.

Saya masih ingat waktu pertama kali berjumpa dengan Mbak Linda Djalil, di mana saya langsung jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta dalam arti, saya merasa bahwa beliau memiliki banyak sekali keindahan yang bagi saya sungguh luar biasa. Saya sebagai seorang perempuan, tetap memiliki kerinduan bisa melihat sosok perempuan cantik, pintar, dan sangat keras terhadap dirinya sendiri namun pantang menyerah dan terus memberikan segala yang terbaik yang dimilikinya. Tidak pernah menangis dan selalu memberikan banyak senyum tanpa harus ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Benar saja, kami bisa dengan mudahnya langsung bisa mengakrabkan diri.  Beliau menjadi seorang kakak sekaligus teman yang bisa menjadi tempat untuk berbagi rasa dan bertukar pikiran. Semuanya bisa dilakukan dengan tenang dan tanpa harus ada caci maki, dendam, ataupun segala hal yang buruk.  Yah, mungkin karena latar belakang kehidupan dan juga cara kami dididik serupa sehingga kami sama-sama paham dan mengerti posisi, waktu, dan tempat kami masing-masing. Tidak ada juga keinginan apa-apa dari kami berdua selain saling mengisi dan memberi karena memang kami tidak pernah saling meminta.

Yang paling seru adalah sewaktu Mbak Linda mendapatkan tawaran untuk membukukan tulisan-tulisannya. Tentunya hal ini membuat saya pun riang gembira. Bilapun saya tidak kenal dan dekat dengan beliau, tulisan siapapun yang memang patut untuk dibukukan, bila dibukukan tentunya membuat hati saya gembira. Saya pun mendukung beliau seratus persen. Tidak peduli banyaknya omongan miring di belakang sana. Maklumlah, iri hati dan dengki akan selalu ada dan itu menjadi bagian dari proses perjalanan.

Anehnya kemudian, justru buku saya duluan yang dipublikasikan padahal beliaulah yang terlebih dahulu ditawarkan. Ini menjadi tanda tanya besar bagi saya pribadi. Sebenarnya ada apa di balik sana?! Bukanlah tidak mungkin bila terjadi konspirasi dan persekongkolan karena segala sesuatunya mungkin saja terjadi, kan?! Tidak perlu membahas semua itu, biarlah apa yang terjadi, ya terjadi saja. Mau bilang apa juga?! Semua pasti ada masa dan waktunya, kok!

Hingga kemudian, saya mendapat pemberitahuan bahwa buku Mbak Linda akan dipublikasikan oleh penerbit di luar dari tempat yang seharusnya. Saya pun menanyakannya kepada beliau dan semua itu tidak disangkalnya. Bukankah sebelumnya sudah ditawarkan?! Lalu mengapa sampai harus diterbitkan oleh penerbit lain?! Apa masalahnya?! Tidakkah ada satu pun dari “tempat” itu yang memiliki rasa hormat dan penghargaan atas apa yang telah diperbuat oleh seorang Linda Djalil?!

Barangkali memang Mbak Linda bukan siapa-siapa dan tidak pantas untuk mendapatkan segala kehormatan dan penghargaan itu, anggap saja ini bagian dari permainan bisnis semata. Adalah kerugian besar bila “tempat” itu tidak memberikan segala yang terbaik bagi seorang Linda Djalil. Bagaimana malunya bila pada harinya tiba nanti, beliaulah yang akan menyerahkan  apa yang dimiliki oleh keluarganya kepada mereka yang sudah tidak menghormati dan menghargainya. Bisnis, kan?! Tahu, dong bagaimana etika di dalam bisnis?!

Lucunya, pada saat semua ini diketahui oleh pemilik tempat tersebut, terjadilah kemarahan besar. Justru pemilik ini yang tahu persis apa yang seharusnya dilakukan sehingga harus turun tangan langsung. Mungkin karena memang beliau seorang pemilik, jadinya memiliki keterikatan kuat dengan apa yang dibangun dan dimilikinya. Belum tentu mereka yang lain, meski selalu berbangga hati dan membusungkan dada karena “bekerja” di tempat itu, memiliki kemampuan serta “rasa” yang sama dengan pemiliknya. Ya, kan?!

Nah, yang paling seru justru semakin banyaknya racau dan kicauan yang tak jelas dari mereka yang merasa tahu dan paling. Prosesnya saja tidak tahu tetapi sudah meracau dan berkicau dengan berbagai suara sumbangnya. Yah, bisa dimaklumi juga. Mereka yang tidak tahu dan tahunya hanya separuh-separuh biasanya lebih keras suaranya. Bagi sebagian besar masyarakat, suara yang paling keras adalah yang selalu dianggap benar.  Apa yang ditonton itu sudah langsung saja diyakini karena terlalu malas dan tinggi hati untuk mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya.

Ah! Sudahlah! Sekarang semua itu sudah berlalu dan semuanya sudah dibuktikan dengan jelas dan sejelas-jelasnya.  Tidak perlu Mbak Linda memberitahukan kepada semua apa dan siapa dirinya yang sebenarnya. Tidak perlu juga menceritakan kepada semua apa yang telah dilakukan dan diperbuatnya. Tidak perlu juga harus mendapatkan penghormatan dan penghargaan karena semua itu sudah datang dengan sendirinya. Mereka yang benar tahu dan benar penuh cinta dengan segala ketulusannya,  tentunya akan memberikan rasa hormat dan penghargaan yang sebesar-besarnya bagi seorang Linda Djalil.

Saya menuliskan ini semua sebagai ungkapan suka cita atas peluncuran buku kakak saya tersayang, Mbak Linda Djalil sekaligus permintaan maaf karena tidak dapat hadir pada saat peluncuran.  “Mbak! Benar, kan?! Tidak ada pesta yang tak pernah usai dan semua ada masa dan waktunya. Waktu bicara. Biarkan mereka memberikan nilai karena semua itu tidak akan menyurutkan seorang perempuan perkasa untuk tidak memberikan segala yang terbaik dan terindah bagi semua. Bunga terindah akan selalu indah dan akan terus menjadi indah dan memberikan keindahannya. Teruslah berjuang! Jangan takut! Segala yang terbaik dan terindah selalu diberikan oleh-Nya. Selalu ada banyak cinta untukmu!”

Lewat tulisan ini juga saya berharap agar semua bisa belajar bahwa di dalam menulis, tidak perlu harus ada rasa iri hati ataupun dengki. Energi akan habis bila dihabiskan untuk hal-hal yang demikian padahal seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bisa berkarya dengan lebih baik dan indah lagi. Fokus pada tujuan akan jauh lebih baik dan mau merendahkan hati dengan terus belajar dan menghargai proses akan jauh lebih baik lagi. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada masa depan namun kita semua sadar bahwa masa depan ditentukan oleh pilihan kita sekarang.

Menulis dan berkaryalah dengan segala ketulusan dan keikhlasan. Beban ambisi dan keinginan tidak akan menjadikannya indah. Tak perlu berharap untuk bisa diterbitkan karena semua tergantung pada diri kita sendiri juga. Perjuangan tidak akan pernah berhenti bagi mereka yang benar memiliki mimpi dan mau berjuang keras untuk mewujudkannya. Bila memang sudah waktu dan saatnya, maka semua itu akan tiba.

Semoga saja semua ini bisa benar dibaca bukan hanya oleh mata.

Salam hormat dan peluk cium penuh cinta saya untuk Mbak Linda Djalil.

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hormat dan Cinta Untuk Mbak Linda Djalil

  1. Bahagia Arbi says:

    Menulis dan berkaryalah dengan segala ketulusan dan keikhlasan. Beban ambisi dan keinginan tidak akan menjadikannya indah. Tak perlu berharap untuk bisa diterbitkan karena semua tergantung pada diri kita sendiri juga. Perjuangan tidak akan pernah berhenti bagi mereka yang benar memiliki mimpi dan mau berjuang keras untuk mewujudkannya. Bila memang sudah waktu dan saatnya, maka semua itu akan tiba.

    paragraf terakhir ini luarbisa..! Thanks utk tulisan penuh pesan moral ini My Sista. Semoga dikau selalu sehat dlm lindungan yg kuasa. Sabar ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s