Seks adalah Tujuan?!

Banyak, kan, yang menjadikan seks sebagai tujuan?! Putar sana putar sini, guling sana guling sini, toh, pada akhirnya ketahuan juga. Tidak ada yang lain tujuannya, selain seks. Seks lagi, seks lagi. Memangnya nggak ada yang lain?!

Saya masih ingat ada yang pernah bertanya kepada saya, “Apakah seks memang merupakan tujuan Mbak ML?” Aduuhhhh!!! Pertanyaan yang lugu namun bisa sangat disalahartikan, ya. Hahaha….

Jika seks memang menjadi tujuan saya, ngapain juga menulis tentang seks. Comot saja daun muda ganteng atau daun tua seksi menggairahkan. Rayu sedikit pun bisa. Kacau!!!

Seorang pria yang telah berpisah beberapa tahun dengan istrinya dan memiliki sepasang anak remaja bercerita kepada saya kalau dia memang seringkali menjadikan seks sebagai tujuan. Pacarnya banyak dan sering ganti-ganti. Kalau sudah bosan, ya, ganti lagi. Yang penting tujuannya sudah dia dapatkan dulu. Ganti yang baru lagi untuk mendapatkan tujuan yang sama dengan rasa dan cara yang berbeda. Hmmm….

Tumben ada yang mengaku.”

“Yah, iyalah. Untuk apa ditutupi. Memang kebanyakan begitu, kan?!”

“Iya, sih!!! Memang begitu hanya saya cukup kaget juga karena ada yang mau mengaku duluan sebelum saya tanya.”

“Tahu sendirilah. Banyak pria yang memang melakukannya.”

Nggak hanya pria, perempuan pun sama saja.”

“Betul juga.”

“Sering, kan, bapak dapat yang gratisan. Tidak perlu dijadikan pacar. Tahu sama tahu saja. Iya, kan?!”

“Iya ada. Tapi kalau yang seperti itu, buat saya kurang menantang. Kurang menarik!!!”

“Oh, ya?! Memangnya bapak sukanya seperti apa?!”

“Semakin sulit semakin menantang.”

Hahaha…. Kacau banget Si Bapak!!!”

“Jangan salah!!! Kalau sudah dapat, rasanya jadi luar biasa!!!”

“Waduh, Pak?!”

“Sama saja, kan, kalau kamu sedang ingin barang tapi susah banget dapatnya. Begitu dapat, rasanya gimana, gitu.”

“Iya, Pak. Hanya bedanya, kan, kalau barang lalu saya simpan dan saya sayang-sayang.”

“Tapi yang namanya manusia, mana ada yang pernah puas. Kamu juga pasti ingin barang yang lainnya lagi.”

“Tapi yang sebelumnya, kan, nggak saya buang begitu saja, Pak!”

“Saya juga nggak buang, kok!!! Sekali-kali masih ada juga yang saya tengokin.”

“Ampun, Pak!!! Hahaha…..”

Jujur, nih. Mendengarkan bapak yang satu ini cerita, saya langsung merasa nggak enak badan. Bagaimana, ya, rasanya jadi perempuan-perempuan itu?! Jadi takut sendiri juga. Jangan-jangan saya sendiri pun pernah mengalaminya. Ngakunya cinta dan sayang, tapi ternyata hanya ingin yang satu itu saja. Banyak, kan, yang merayu seperti itu?! Apalagi tahu kalau saya tukang seks. Tidak mengada-ada, tapi memang banyak yang sepertinya “ingin mencoba”. Mungkin dipikir mereka kalau tukang seks tujuannya cuma seks juga atau ingin tahu bagaimana “rasanya” kalau sama tukang seks. Dasar!!!

Dari pembicaraan yang saya lakukan dengan Bapak itu, saya bisa menangkap apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Saya yakin sekali kalau memang seks adalah tujuannya namun yang sebenarnya dia cari bukan itu. Yah, dia kesepian saja. Mau nikah lagi juga sama siapa?! Belum ketemu yang sesuai. Takut juga kalau sampai gagal lagi. Kalau menurut saya, dia belum bertemu saja dengan memang yang bisa mengisi hatinya. Nanti kalau sudah bertemu juga akan berbeda. Mudah-mudahan tapi, ya!!! Nggak janji juga!!! Kalau sudah terbiasa dan menjadi kebiasaan, susah juga buat berubah.

Kesimpulan ini saya ambil karena berdasarkan dari pengalaman saya saja. Rata-rata orang yang menjadikan seks sebagai tujuan adalah mereka yang tidak memiliki kegiatan yang bisa mengalihkan perhatiannya dan menyingkirkannya dari segala ketakutan yang selama ini menghantui mereka. Bisa juga karena memang sudah ada kelainan kejiwaan. Memang sudah ada kelainan dalam perilaku seksual mereka. Buat saya, mereka yang ketagihan melakukan hubungan seksual tanpa ada rasa cinta ataupun sayang, masuk ke dalam kategori memiliki kelainan. Tak sedikit yang memang juga sudah akut dan bisa disebut sebagai seseorang pengidap “Seks Maniak“.

Yang paling berat dalam hal ini adalah untuk mau mengakuinya. Mengaku seks sebagai tujuan, itu tidak terlalu sulit, tetapi mengakui apa yang menyebabkannya, ini yang sulit banget. Sekali lagi, diperlukan kejujuran pada diri sendiri untuk mau mengakuinya. Dan harus juga diingat bahwa untuk jujur, sangat diperlukan keberanian. Berani terhadap hal yang lain bisa saja, tetapi keberanian yang ditujukan untuk diri sendiri, wuiiihhhh, sulitnya!!! Banyak sekali alasannya, ya?!

Terus terang dan mengaku sajalah, ya!!! Kalau semua ini terus berlanjut, yang rugi diri sendiri juga. Kalau sampai ada apa-apa, berani tanggung jawab?! Kalau memang ingin berubah, ya, bagus. Hanya saya ingin agar perubahan itu terjadi karena kesadaran atas diri sendiri, bukan karena saya ataupun karena orang lain. Bukan juga karena bertemu dengan seseorang. Bukan juga karena memang diterapi atau karena melakukan terapi. Semua harus dari diri sendiri!!!

Ini juga merupakan masukan bagi semua. Hati-hatilah, ya!!! Jaga diri dan jangan mudah tergoda oleh rayuan dan janji palsu!!! Jangan juga terlalu mudah mengobral diri. Rugi!!! Sayangilah dirimu!!! Hormatilah dirimu!!! Siapa lagi yang paling bisa menyayangi dan menghormati diri sendiri selain diri sendiri?! Apa ada yang lain?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

Catatan:

Terima kasih, ya, Pak, kisah Bapak boleh saya tulis dan ceritakan untuk semua. Semoga saja tulisan ini juga bisa terus menjadi pengingat atas apa yang Bapak inginkan.”

31 Maret 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Seks adalah Tujuan?!

  1. Nurul Amin says:

    Hmmm…..jadi merasa sesuatu nih😦

  2. kadang bingung sih, diajak serius untuk seks after merid, gak siap merid, tapi tetep aja klo lagi mau mah minta, kan repot. seks kadang bukan tujuan, hanya pengikat utu mencapai tujuan katanya, tapi klo gak mau serius juga, gak salah kan kita cari yang serius, walaupun tetep ada seks-nya hehehe

  3. firama says:

    seru ceritanya mbak🙂

  4. adrea arie aa says:

    seks bukan tujuan tetapi yang dituju ahirnya ya ML juga.
    apa yg saya alami sewaktu ce yg ak senengi dan kupacari ku ajak nikah dia menolak.
    setelah lama pisah dan ak sdh nikah suatu hari ak ketemu lagi sama dia berhubungan lagi walau curi curi ahirnya suatu hari kami melakukan ML.
    so….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s