Bercerai atau Mempertahankan?!

Illustrasi: sex-question-answered.sexinformations.com

Bisa bercerai bisa juga bertahan. Semua tergantung dari kondisi dan keadaan. Kita tidak bisa menyamaratakan semuanya menjadi baik ataupun buruk. Semua memiliki resiko dan konsekuensi masing-masing. Ini adalah sebuah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.

Saya sebetulnya paling tidak suka membahas masalah yang satu ini, mengingat saya sendiri pun mengalaminya. Bagi saya, ini bukanlah sesuatu yang harus saya tutupi karena bukanlah sebuah aib bagi saya untuk menceritakannya. Ini adalah fakta dan kenyataan yang tidak harus saya sembunyikan. Apa adanya sajalah, ya. Biarlah yang lalu menjadi lalu, sekarang tinggal bagaimana kita semua menghadapi masa yang akan datang. Bagi saya juga, biarlah pengalaman saya ini bisa dibagikan agar bisa memberikan manfaat kepada yang lain karena segala sesuatunya pasti selalu ada hikmah dan manfaatnya.

Bercerai adalah pilihan yang sangat sulit untuk dilakukan oleh setiap pasangan. Seberapa pun rumitnya masalah dan seberapa pun kacaunya suasana, tetap saja sulit. Terlalu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Apalagi jika sudah menyangkut anak. Wah, ini benar-benar harus dipikirkan matang-matang.

Salah satu kasus yang cukup rumit yang pernah saya tangani adalah kasus kekerasan yang terjadi pada sebuah rumah tangga, di mana sang suami sangat ringan tangan terhadap istrinya. Istri ingin bercerai namun takut karena tidak memiliki penghasilan sementara ada tiga anak yang masih butuh biaya besar. Sebuah dilema rumah tangga yang sangat memerlukan kerja keras untuk bisa menyelesaikannya. Mana yang lebih baik, bertahan atau bercerai?!

Satu hal penting yang harus selalu diingat dalam menghadapi masalah hubungan dengan pasangan yang sedang di ujung tanduk, yaitu adalah ketetapan hati. Apapun keputusan yang diambil haruslah merupakan keputusan bersama. Waktu nikahnya juga keputusan dan kesepakatan bersama, masa pas cerainya tidak bisa?! Jangan egois dan keras kepala, ya?! Ini adalah untuk kepentingan bersama juga.

Bila memang keputusan terpaksa diambil oleh salah satu pihak, sebaiknya tetap selalu menjaga agar tidak ada keributan besar nantinya. Saling tuding dan menyalahkan, lalu kemudian menjadi perselisihan tiada akhir. Siapa yang menjadi korban dalam hal ini?! Anak bukan?! Ingatlah selalu bahwa kesalahan yang dibuat adalah kesalahan dua-duanya, bukan hanya salah satu!!! Dengan dan oleh alasan apapun juga. Sebaik-baiknya istri ataupun suami, bila memang sampai terjadi masalah, berarti adalah kesalahan berdua. Bukan kesalahan salah satu!!! Introspeksi dirilah!!!

Ketetapan hati ini juga berhubungan erat dengan kesiapan atas apa yang akan terjadi di masa yang akan datang bila perceraian terjadi. Bagaimana kemudian menjaga sang buah hati agar bisa tetap memiliki kedua orang tuanya?! Bagaimana juga bila kemudian menikah lagi?! Bagaimana dengan biaya pendidikan dan kesehatan anak?! Belum lagi omongan dan persepsi miring terhadap mereka yang bercerai. Duda, janda?! Masih banyak, kan, yang berpikir negatif tentang hal ini?! Siap, nggak?!

Saya sangat menyarankan agar kedua orang tua mau berbesar hati untuk tetap menjaga hubungan baik demi anak. Biar bagaimanapun anak adalah anak. Bekas istri atau bekas suami ada, tapi tidak ada yang namanya “bekas anak”. Jangan hanya karena orang tua yang berbuat kesalahan lalu anak yang harus memilih salah satu. Ini sangat merusak perkembangan jiwanya. Semua yang jujur dan transparan akan lebih baik hasilnya daripada menutupinya. Tanggung jawab anak adalah bersama. Hak anak harus diprioritaskan.

Saya juga ingin menghimbau agar selalu ingat bahwa ini adalah masalah suami dan istri bukan orang tua ataupun mertua. Yang merasakannya adalah sendiri. Sulit bagi mereka untuk menjadi objektif dan kita sendiri pun cenderung manja dengan mencari perlindungan di balik mereka. Anak dan cucu yang kemudian seringkali menjadi korbannya. Bila merasa dewasa, beranilah menghadapinya. Bila merasa sayang dan cinta pada anak dan cucu, cintailah mereka seutuhnya. Mereka bukan milik siapapun.

Menyoroti soal tanggung jawab, ini juga menurut saya harus segera dibenahi bersama. Saya sudah bosan melihat para janda dan anak yang ditinggalkan begitu saja oleh mantan suaminya tanpa ada tanggung jawabnya sama sekali. Tidak memberi nafkah dan juga pendidikan kepada anaknya. Enak saja!!! Begitu juga dengan para perempuan yang sibuk dengan urusannya sendiri dan melupakan anak yang telah dilahirkannya sendiri. Menjadikan mereka untuk berpisah dari ayah kandungnya hanya karena marah dan tidak suka serta dendam bukanlah perbuatan yang baik!!!

Begitu juga bila memutuskan untuk bertahan. Harus benar-benar mantap untuk membina hubungan rumah tangga yang baik. Jangan kira hanya dengan bertahan berarti sudah mengorbankan diri untuk anak. Jangan salah!!! Anak seringkali justru malah semakin tertekan bila tahu orang tuanya memiliki masalah yang tidak ada hentinya, biarpun tetap menyatu dalam sebuah ikatan perkawinan dan biarpun selalu disembunyikan. Rasa dan hati tidak bisa disembunyikan. Oleh karena itulah, sebaiknya dipikirkan matang-matang sekali hal ini. Niat baik kita untuk tetap bertahan terkadang malah banyak yang justru menjerumuskan.

Saya sangat menyarankan agar pasangan yang memilih untuk tetap bertahan untuk benar-benar mencoba dan berusaha untuk membina keharmonisan rumah tangga. Mengatasi masalah dengan baik dan melakukan segala perbaikan serta kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Semua masalah bisa diselesaikan bila memang mau dihadapi bersama dan diselesaikan bersama. Komunikasi menjadi kunci utama dalam hal ini.

Saya juga memperhatikan sekali bahwa tingkat perceraian sekarang ini sangatlah tinggi. Saya yakin ini ada hubungannya dengan keadaan sosial masyarakat sekarang ini di mana kondisinya memang sangat sulit dan memprihatinkan. Ditambah lagi dengan peraturan dan perundangan yang mengatur masalah perkawinan dan perceraian yang semakin tidak jelas, sehingga secara tidak disadari atau memang sengaja dilakukan, menyebabkan perceraian menjadi sangat tinggi.

Kita sebaiknya sama-sama menyadari bahwa perkawinan dan perceraian bukanlah sesuatu yang seharusnya dianggap mudah. Ini menyangkut masa depan kita semua. Bila memang terus dibiarkan seperti sekarang ini, apa yang akan terjadi dengan masa depan?! Saya tidak ingin generasi penerus harus menanggung beban yang lebih berat lagi atas apa yang kita lakukan sekarang ini. Tegakah kita membiarkan mereka demikian?! Bertanggungjawabkah kita?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

6 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s