Haruskah Perbedaan Mengorbankan Kehidupan Masa Depan?!

Illustrasi: redbubble.com

Dunia ini penuh dengan warna dan warni di mana semua inilah yang menjadikannya sangat indah. Namun entah kenapa, warna-dan warni ini juga yang kemudian menjadikan semuanya menjadi tidak indah. Perbedaan selalu diutamakan dan yang dijadikan alasan, sementara persamaannya sendiri kemudian diabaikan. Haruskah semua ini terus terjadi?! Haruskah kehidupan masa depan hancur hanya karena perbedaan ini?!

Seorang perempuan yang baru saja melahirkan anaknya mendesah sangat dalam. Pria yang berjanji menikahinya ternyata ingkar janji. Pernikahan yang seharusnya bisa menyelesaikan semua masalah, ternyata sulit untuk dilakukan. Semua hanya karena perbedaaan.

“Hari terakhir saya berada di rumah sakit setelah melahirkan, dia berkata pada mama bahwa dia belum siap menikahi saya bila harus mengikuti agama dan keyakinan saya. Dia menginginkan pernikahan beda agama, sementara saya sendiri ingin pernikahan kami dilakukan sesuai dengan agama dan keyakinan saya.

Hari itu, dia menyerahkan anak kami untuk saya urus sendiri. Dia pun berkata, “Rawatlah anak ini. Saya tahu dia akan mengikuti agama dan keyakinanmu”.

Saya marah, merasa dibohongi, tidak dicintai, dibuang, dan juga kecewa. Namun di sisi lain saya juga berpikir bahwa saya tidak bisa memaksakan suatu keyakinan kepada yang lain. Bingung. Ingin rasanya saya marah kepada Tuhan, kenapa kami harus diciptakan berbeda? Apakah anak kami harus menjadi korban atas apa yang kami putuskan. Kami hanya sama-sama ingin tetap berjalan di jalan Tuhan.

Belakangan ini hubungan kami memburuk terlebih lagi dengan keluarga besar kami. Dia merasa saya menjauhkan dia dari anaknya, dan saya hanya seorang perempuan biasa, Mariska. Saya ternyata juga semakin merasa terbuang karena dia tidak menikahi saya. Saya jadi berpikir ulang untuk mempertemukan dia dengan anak kami.

Terakhir kami bertemu pada hari Sabtu yang lalu. Kami bicara dan saling berteriak satu sama lain. Sepertinya cinta yang dulu ada sekarang hilang begitu saja. Meskipun itu yang dulu kami utamakan dan itu juga yang kami rasakan.

Prasangka antara keluarga besar kami tidak bisa lagi dihindarkan. Dia berkata bahwa keluarga saya telah menyakiti dia dan keluarganya dengan melarang dia bertemu anaknya. Apa dia tidak berpikir juga bahwa dia tidak menyakiti saya dan keluarga saya?

Alasan kami sebetulnya sama, kami dan keluarga kami sama-sama kecewa.

Entahlah, Mariska. Yang jelas, dia membuat saya merasa bersalah karena tidak mempertemukan dia dengan anaknya. Dia berhasil membuat saya berpikir, “Tuhan!!! Apakah saya harus harus menyalahkanmu untuk sesuatu yang tidak bisa saya lakukan?!”

Sungguh saya sangat terpana dengan desahan perempuan itu. Saya sampai tidak bisa menjawabnya segera dan berjanji kepadanya untuk menuliskan apa yang saya pikirkan tentang hal ini untuknya.

Saya bisa memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh perempuan itu dan juga pasangannya. Mereka berdua memang sama-sama sedang bingung dan menurut saya, penyebab utamanya adalah karena sama-sama merasa bersalah telah melakukan perbuatan yang tercela di mata banyak orang lain, terutama keluarga besar mereka. Hampir dipastikan ada rasa dari keduanya untuk bisa diterima kembali oleh keluarga mereka masing-masing dan juga mengembalikan “muka” keluarga masing-masing juga.

Saya sendiri soalnya sering mempertanyakan, kenapa sampai harus terjadi seperti ini?! Apakah memang manusia harus berjodoh hanya dengan yang memiliki satu keyakinan dan satu agama saja?! Apakah memang Tuhan yang membuatnya demikian?! Lalu, kenapa sampai harus dibuat ada perbedaan?! Apa maksud Tuhan atas semua ini?!

Saya tidak bisa turut campur soal agama dan keyakinan karena saya memang memiliki prinsip sendiri tentang hal ini, di mana ini adalah urusan yang sifatnya sangat pribadi. Saya tidak memiliki kemampuan untuk menjadi antara manusia dan Tuhan. Semuanya adalah hanya antara setiap individu dan Tuhan sendiri.

Begitu juga soal dosa. Siapakah saya sampai bisa menentukan dosa?! Saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki hak ataupun kewajiban untuk bisa menilai atas dosa. Bagi saya, semua orang tidak ada yang luput dari kesalahan, dan yang yang harus diutamakan adalah bagaimana bisa belajar dari kesalahan itu.

Untuk urusan perkawinan di Negara ini, menurut saya pribadi adalah sebuah konspirasi politik dan seks (silahkan baca “Konspirasi Seks dan Politik Ala ML” juga ““Dan” Antara Seks dan Politik Ala ML””)  di mana merupakan bagian dari sebuah skenario besar yang tujuannya tentu saja untuk merusak dan menghancurkan bangsa dan Negara kita. Demi dan untuk juga kepentingan pribadi dan kelompok tertentu saja. Bukan untuk kepentingan semua meskipun mengatasnamakan bangsa dan Negara tercinta.

Untuk saat ini, saya hanya bisa menyarankan untuk mencoba bicara dari hati ke hati antara berdua. Hilangkan segala ego dan juga rasa bersalah itu. Hilangkan juga segala embel-embel keluarga dan juga yang lainnya. Cukup menjadi diri sendiri dan menjadi kalian berdua saja.

Cobalah juga untuk bicara tentang buah cinta kalian berdua. Jangan korbankan dia. Biar bagaimanapun juga, dia adalah kehidupan di masa mendatang. Haruskah kemudian menjadi hancur hanya karena apa yang kalian lakukan sekarang?! Tidak, kan?! Berikanlah kasih sayang kalian berdua. Ingatlah juga, bahwa dia adalah buah cinta kalian berdua, bukan salah satu ataupun juga yang lainnya.

Seperti juga yang diucapkan oleh seseorang yang saya cintai, “Tanpa ada kesepakatan dalam hal komunikasi maka tidak akan ada penyelesaian dan semuanya harus dibicarakan dengan kepala dingin. Jangan takut dulu hasil akhirnya, yang penting bicarakan dulu.”

Semoga bisa membantu, ya!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

28 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Haruskah Perbedaan Mengorbankan Kehidupan Masa Depan?!

  1. ekanoeg says:

    wajar kan kalau ada perbedaan? karena itu warna kehidupan..

  2. gessi says:

    kisah yg menyedihkan ya…tanpa mereka smua sadari bahwa korban terbesar adalah ANAK itu sendiri, tp mereka malah mementingkan ego, dengan mengaku2 bahwa pihaknya lah yg paling tersakiti… *sigh*
    terkadang saya bingung dengan orang2 yg memaksakan kehendak mereka atas aturan2 yg telah TUHAN tetapkan…
    kalau memang sudah tau kalo keyakinan jelas berbeda, tapi kenapa mesti memaksakan yaaa…

    seringkali masalah yg terjadi pada diri kita adalah yang kita cari2 sendiri..itu yg saya pelajari dlm hidup.. walaupun mmg tidak mudah utk menjalankan aturanNya..

    • bilikml says:

      Manusia seringkali sudah merasa Tuhan dan bahkan lebih dari-Nya… Dengan mudahnya juga menentukan surga dan neraka sehingga membuat dunia ini tak pernah ada kedamaian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s