Kapankah Cinta Itu Benar Ada?!

Semakin hari semakin terasa betapa cinta itu sulit sekali untuk bisa benar ada. Semakin banyak yang dilihat dan didengar semakin juga lebih jelas lagi bagaimana cinta itu tidak memiliki arti dan makna selain sekedar kata. Semakin tangis dan tawa semakin lebih nyata lagi betapa topeng sudah menutup keberadaan cinta meskipun cinta seringkali digunakan sebagai selimut dan topeng itu sendiri. Gusti!

Seringkali hati ini merasa tidak lagi kuat untuk menahan segala gejolak rasa yang ada. Sekian lama waktu menanti untuk bisa mengungkapkan kebenaran atas kisah dan peristiwa yang terjadi. Segala yang dianggap aib, memalukan, dan bahkan bisa memutar balik segala nilai yang telah dibentuk selama ini. Terlalu banyak sudah korban dan yang dikorbankan, dan bila terus menunggu, harus ada berapa banyak lagi?!

Anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual, kerap kali harus menyimpan kemarahan dan kebencian serta segala derita dan beban hanya karena orang tua,keluarga, dan lingkungan. Tak ada yang percaya dengan apa yang mereka katakana dan bahkan menganggap mereka berdusta, bermimpi, dan bahkan sakit jiwa atau kerasukan setan dan roh jahat. Sementara pelakunya, yang seringkali merupakan keluarga dan kerabat dekat atau orang di sekitar mereka, terus saja merajalela dengan bebasnya. Yah, biasanya mereka memang “baik”, “terhormat”, “shaleh”, dan tak jarang juga justru sering membantu. Siapa yang menolong mereka?!

Tidak akan pernah bisa terlupakan dari dalam benak dan ingatan saya bagaimana seorang gadis cilik harus menghembuskan nafas di pangkuan karena saya terlambat untuk memberikannya bantuan. Gadis itu diperkosa beramai-ramai hingga vaginanya rusak dan robek sampai ke dubur namun tidak ada yang berani bertanggungjawab atas segala biaya pengobatannya. Dalam keadaan koma sekalipun, rumah sakit dan dokter tetap menanti kedatangan orang yang mau bertanggungjawab. Ke mana semua?! Ke mana yang lain?! Jerit dan tangis serta permohonan untuk meminta tolong pun dianggap dusta dan palsu!!! Haruskah semuanya dibuktikan lewat media massa?!

Anak-anak terkena sakit TBC yang ternyata bukan hanya TBC. Mereka penderita HIV dan juga AIDS namun tak ada yang mau mengakuinya meskipun tes telah membuktikannya. Beruntung bila orang tua mereka masih ada, bila sudah tidak ada?! Keluarga mereka yang miskin pun sudah tidak lagi mampu untuk membantu bahkan tak jarang merasa takut. Mereka yang seharusnya menolong pun tak peduli karena takut pada angka dan nilai. “Apa kata dunia bila diketahui bahwa jumlah penderita HIV dan AIDS sangat tinggi?! Daerah kami daerah bermoral!!!”.

Belum lagi mereka yang mengaku penolong dan malaikat yang menjual segala tangis dan duka atas penderitaan. Pintu itu pun ditutup dan dibanting bahkan pada saat pintu itu belum diketuk. Jika pun diterima, segala prosedur administrasi dan persetujuan harus dilalui. Bagaimana bila keadaan sedang darurat?! Apakah nyawa bisa menunggu?! Mereka yang sudah menghembuskan nafas pun masih kesulitan mencari bantuan hanya untuk bisa dikuburkan dengan layak.

Seperti pada suatu pagi di mana saya mendapat telpon yang mengabarkan seorang anak penderita HIV meninggal dan ternyata sudah hari kedua di mana jasadnya belum juga dikuburkan. Para relawan yang membantu sudah berusaha keras meminta bantuan dari pihak-pihak yang seharusnya berkewajiban membantu, namun tak ada hasil. Permohonan kepada para malaikat dan penolong itu pun tak digubris meskipun membantu dengan doa. Baru pada hari ketiga, anak itu bisa dikuburkan. Itu pun setelah meminta bantuan dari sana sini secara pribadi dengan mempertaruhkan nama baik dan kepercayaan. Bukan terjadi sekali saja, tetapi sudah berapa banyak?!

Mudah saja bila mereka kemudian diekspos besar-besaran dan dijual di media massa. Pertanyaannya, tegakah?! Bagaimana dengan perkembangan psikologis dan kejiwaan mereka?! Bagaimana penerimaan orang-orang yang ada di sekitar mereka?! Siapkah mereka?! Itu belum ditambah dengan kebiasaan azas manfaat yang tidak mendidik dengan membuat orang-orang di sekitar mereka atau mereka sendiri bermental pengemis. Sudah tidak heran bila banyak sekali uang sumbangan yang berlebihan itu pada akhirnya raib entah ke mana dan tidak dipergunakan untuk yang seharusnya.

Tak jarang saya ingin sekali menutup mata dan telinga. Saya ingin sekali istirahat dan bisa tenang serta bahagia tanpa harus ada yang mengganggu. Seperti yang sering dikatakan oleh teman-teman saya, bahwa adalah hak saya bukan untuk bisa menikmati apa yang telah saya terima?! Untuk apa saya harus membagikannya kepada yang lain sementara hidup saya pun masih banyak kekuarangan?! Seberapa kuatkah saya menanggung semua itu?! Mampukah suara hati itu ditutup dan tak didengarkan?! Sebarapa kuatkah dorongan jiwa itu dilawan?!

Saya juga seringkali berpikiran jahat dan ingin sekali bermulut jahat pada mereka yang telah mencuri uang rakyat dan membuat rakyat semakin menderita. “Wahai koruptor yang shaleh, baik hati, dan suci! Lebih baik jual saja anakmu bila dirimu hanya ingin kedudukan, kekayaan, dan kekuasaan. Janganlah jual anak-anak rakyatmu!!! Cukup anakmu saja yang kalian jual sehingga hanya mereka saja yang menderita dan bukan semua!!!”

Begitu juga kepada para orang tua yang sedemikian teganya menghancurkan masa depan anak-anak mereka. Lebih mementingkan nilai dan pandangan masyarakat dibandingkan kehidupan anak-anak mereka sendiri. Saya ingin sekali bisa berkata, “Lebih baik kalian bunuh saja anak kalian itu sekalian daripada mereka harus menderita seumur hidup mereka!!!”.

Terutama kepada mereka yang terus bertopeng kesucian yang merasa sudah menjadi malaikat, penolong, dan pahlawan, “Sungguh mulia sekali hati kalian semua sehingga semua nilai yang baik kalian terima. Kalian ditinggikan, dimuliakan, dan dipuja oleh manusia tetapi tidak ada yang bisa berdusta di hadapan Dia. Kalian memang pemilik dan pemegang serta penguasa surga dan kami tetap menjadi penghuni neraka, nikmatilah surgamu!!!”.

Rasa marah dan benci itu kian berkecamuk di dalam dada ini dan seringkali membuat saya menjadi sakit sendiri. Ketiadaberdayaan untuk bisa membantu lebih banyak membuat hati ini semakin lebih sakit lagi. Terkadang juga, ingin rasanya saya menjadi perampok saja agar saya bisa memberi bantuan lebih banyak lagi. Atau menjadi seorang pembunuh agar bisa membunuh mereka yang telah banyak mengorbankan masa depan.  Tapi, apakah semua itu benar?! Apakah semua itu baik?! Benarkah bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik?! Ah! Semua itu hanya membuat saya semakin tidak fokus dan mampu berpikir baik saja!!!

Sepertinya, menahan dan mengendalikan diri jauh lebih baik. Tidak perlu sekaligus melakukan yang besar tetapi paling tidak ada yang dilakukan. Sekecil apapun itu, bila dilakukan dan diberikan dengan segala ketulusan dan keikhlasan pasti akan membuahkan keindahan, paling tidak itu yang menjadi keyakinan dan semangat. Berniat baik tanpa berbuat yang benar pun belum tentu berbuah baik dan benar. Terlalu banyak berkata tiada guna. Terlalu banyak berharap pun hanya akan membuat kecewa. Lebih baik memberikan apa yang  terbaik yang bisa diberikan dengan sepenuh cinta dan benar dari cinta, oleh cinta, dan untuk cinta.

Biarlah manusia menilai, makian dan pujian sama saja artinya. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan pilihan mereka sendiri karena diri sendiri jugalah yang harus menghadapi dan menjalani setiap resiko dan konsekuensinya. Proses itu tetap harus dijalani entah hingga kapan tetapi semua ada masa dan waktunya. Semua yang terbaik dan terindah selalu diberikan oleh-Nya dan cinta itu akan selalu ada bagi mereka yang mau merasakan dan mendirikannya.

Semoga saja kita semua diberi kesempatan untuk bisa memanfaat waktu yang singkat dan sesaat di dalam hidup ini untuk bisa merasakan cinta dan memberikannya bagi semua dengan segala ketulusan dan kerendahan hati.

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Perubahan, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s