Doyan Sih Dipukulin!!! (Sadomasochism)

SUAMI atau istri. Salah satunya suka memukul dan menyiksa. Luka, lebam, dan patah tulang sudah biasa. Lapor polisi? Tidak Mau. Cerai? Kasihan anak. Kalau menurut saya, sih, memang doyan disiksa.

Seorang perempuan cantik sambil bercucuran air mata meminta tolong kepada sahabatnya. Dia bilang kalau dia sedang di rumah sakit. Kekasihnya baru saja memukuli dan menyiksanya di dalam mobil. Matanya biru kena tinju. Begitu juga dengan pipi dan rahangnya. Tangannya pun penuh dengan luka.

Panas hati sang sahabat. Geram. Kesal. Marah. Dia pun meminta agar sahabatnya itu untuk segera menjauh dari sang pacar dan melaporkannya ke polisi. Apa yang terjadi??? Dia tidak mau. Alasannya? Takut karena pacarnya itu seorang aparat. Selain itu, dia juga takut ketahuan suaminya. Dia memang selingkuh.

Mengapa dia bisa selingkuh?

Ternyata dia sudah tidak tahan lagi dengan suaminya yang seringkali memukul dan menyiksanya. Bahkan di depan anak-anak mereka yang sudah menginjak usia remaja. Ditambah lagi suaminya itu sudah memiliki istri baru, sehingga dia juga merasa ditinggalkan.

Pernah sekali waktu dia dipukuli, ditendang, dan dihajar habis-habisan oleh sang suami. Dia pun harus dirawat di rumah sakit berminggu-minggu karena mengalami kelumpuhan sementara.

Sahabat yang dimitai tolongnya itu pun menyarankannya untuk melapor ke polisi. Tidak mau, katanya. Alasannya? Kasihan anak-anak. Padahal anaknya yang paling besar sudah tidak tahan lagi melihat perlakuan ayahnya itu. Dia seringkali menangis dan bahkan pernah menuliskan sebuah surat berisi kepedihan dan keprihatiannya terhadap apa yang terjadi.

Kok, bisa dia menikah dengan pria seperti itu? Karena dia yang terbaik dari yang terburuk. Tiga mantan kekasihnya terdahulu juga sering memukul, menggampar, dan menyiksanya.

Sahabatnya itu pun kemudian meminta tolong kepada saya untuk memberikan masukan bagaimana bisa membantu perempuan itu terlepas dari segala masalah yang ada.

Awalnya saya juga merasa sangat marah. Muaaaraaaahhhhh banget!!! Tetapi setelah melihat kronologis dan riwayat cerita perempuan ini, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan pertama yang terlintas adalah, apa betul ada orang yang seapes itu? Jangan-jangan dia hanya mengarang cerita saja. Bohong kali??? Namun setelah melihat data medisnya… hmmm… betul, tuh!!! Gimana dong?!

Pertanyaan berikutnya pun muncul. Kenapa dia tidak mau melepaskan diri dari orang-orang seperti itu? Apa memang dia tidak sengaja mendapatkannya atau memang dia suka dengan tipe pria semacam itu? Apa dia memang doyan disiksa? Puas kalau sampai babak belur??? Enak kalau tulangnya remuk???

Latar belakang keluarganya pun diselidiki. Ternyata ayahnya memang tukang pukul juga. Ibu, dia, dan saudara-saudaranya yang lain sudah ibarat samsak berjalan bagi bapaknya itu. Hampir setiap hari selalu saja ada jeritan dan isak tangis, dan tentu saja obat merah serta kompresan air dingin, muncul dari rumah mereka. Waduuuhhhh!!!

Saya pikir, dia sudah termasuk sebagai orang SM alias sadomasochism. Hanya bukan sebagai penyiksa tetapi berperan sebagai korban. Dia seperti merasa layak dan patut untuk mendapatkan semua itu. Kemudian dia menikmati segala bentuk siksaan dan penderitaan fisik itu yang justru bisa memberikannya ketenangan dan kepuasan tersendiri, baik disadari maupun tidak disadarinya. Kasihan banget, ya?!!

Sedangkan kepuasan bathin lainnya yang dia dapatkan adalah apa yang saya sebut dengan istilah pain orgasmic. Merasa puas bila sudah dikasihani oleh orang lain. Makanya, dia terus-terusan ke sana sini menceritakan semua kesusahan dan kepedihan yang dialaminya. Dengan dikasihani, dia merasa mendapatkan perhatian, lalu… puas, deh!!! Hmmm….

Hanya ada satu pertanyaan yang pada akhirnya saya berikan untuk ditanyakan langsung oleh sahabatnya itu. Mau sembuh??? Benar-benar ingin sembuh??? Itu saja. Kalau mau sembuh, pertama, dia harus segera meninggalkan dunianya sekarang dan segera pergi meninggalkan semua pria-pria itu. Lalu, harus segera pergi berkonsultasi dan melakukan terapi dengan dokter jiwa. Tidak ada cara lain lagi

Bila perempuan itu tetap memberikan sejuta alasan… beginilah, begitulah… sebaiknya mundur saja. Dia memang tidak ingin sembuh atau belum siap untuk sembuh. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri dengan merasa tidak membantu. Terbalik kalau menurut saya. Dengan mundur, justru sudah membantunya dengan tidak terus-terusan mendapatkan pain orgasmic itu. Kasihilah dia dengan berdoa agar dia diberikan desempatan untuk sembuh oleh-Nya sebelum semuanya menjadi lebih hancur dan beratakan lagi. Doakan saja agar dia diberikan yang terbaik. Amin.

Salam,

Mariska Lubis

14 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Doyan Sih Dipukulin!!! (Sadomasochism)

  1. Nurul Amin says:

    Wah…jgn2 saya mengidap pain orgasmic juga nih.
    Selalu merasa ingin dikasihani Oleh Tuhan..hehe😀
    Thanks tulisannya mbak, membuka pemahaman baru, hehe
    Banyak teman saya mengidap pain orgasmic kecil-kecilan

  2. dewi says:

    wah seperti pipiet senja ya,suka dipukuli oleh suaminya dan dia memang doyan dipukuli. terus ntar dicerita-ceritain di novelnya dan yah mungkin udah bawaan lahir,dari penulisannya tuh keliatan kayak pengen dikasihanin dan org2 simpati sama dia. awalnya saya jg simpati tapi lama-kelamaan enggak.lah wong sebagian besar isi novelnya tentang KDRT yg dia terima.sdh pernah digarap di novel sblmnya,tapi masih jg ditampilkan di novel yg lain. dan nggak malu apa ya aib suami sendiri diumbar ke semua org? masih ‘mau’ tapi kok dicerita-ceritain? dan nggak mikirin nasib anaknya apa semua org se indonesia tau kelakuan bapaknya yg suka KDRT ibunya?

  3. dewi christina says:

    Wah berarti seperti pipiet senja teman mbak ML itu ya. suka dan doyan dipukulin suaminya. terus abis itu dijadiin bahan novelnya biar laris. kan cerita yg mengahru biru gitu cepet larisnya toh dan mendapat simpati. awalnya saya jg simpati tapi lama2 enggak. lah wong kebanyak isi novelnya tentang lakon pahit hidupnya. fine, mungkin niatnya utk menginspirasi kaumnya bahwa mereka nggak sendirian. ada nih yg lebih parah penderitaannya dari pada mereka. tapi yg bagian KDRT yang menurut saya harus dikoreksi. apa nggak malu aib suami sendiri diceritain ke orang se Indonesia begitu lewat novelnya? masih ‘mau’ kok dicerita-ceritain? dan apa dia nggak mikirin perasaan anaknya ya kalo orang se Indonesia tau kelakuakn bapaknya yg kayak gitu suka KDRT ibunya? pipiet senja bukannya simpatisan PKS dan penganut islam yg taat? berarti dia ngerti dong kalo dosa besar menceritakan aib rumah tangga kepada org2? kecuali dia urat malunya udah putus ya dan nggak bisa memilah-milih mana yg boleh diceritain dan mana yang enggal.

  4. dewi christina says:

    *kecuali dia urat malunya udah putus ya dan nggak bisa memilah-milih mana yg boleh diceritain dan mana yang enggak.

    • bilikml says:

      Sy dekat dengan eda pipiet sebagai sesama penulis dan sy sangat menghormati beliau. Beliau berjuang di tengah sakitnya yang parah untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Tidak semua perempuan berani melakukan itu. Mengenai urusan pribadinya, terus terang saja saya tidak tahu banyak dan sy tidak berani menilai.

      Terima kasih untuk segala masukannya…

      Salam hangat selalu…

  5. Mas Joshi says:

    Saya jujur!! Saya suka SPANKING. Lha bini juga suka juga di spank pantatnya koq. Apa ini KDRT? Jelas ya. Kekerasan Diatas Ranjang Tidur.:D

  6. dewi says:

    iya, semangat beliau memang luar biasa. dgn segala keterbatasan fisik yg dimiliki masih mau berjuang dan tdk putus asa. saya jg salut utk hal tsb. nggak seperti beberapa orang yg baru diputusin pacar aja udah bunuh diri haha.

    tapi tetep, mengenai tulisannya yg tentang KDRT dan mengumbar aib suami tdk bisa dibenarkan dari segi manapun baik dari segi agama maupun keetisan. dari cara penulisan tentang KDRT yg dia terima keliatan kalo dia ingin mencari simpati. lah kalo saya sih nggak simpati soal hal tsb. mau sih diupukulin! kenapa nggak bertindak? apa dgn cerita ke seluruh org di Indonesia KDRT yg dia terima bisa berakhir? Buktinya sampe sekarang masih tuh! Atau dia memang tdk ingin itu berakhir? Berarti doyan dipukulin bukan?? Atau kalo itu berakhir tulisan dia sdh tdk mengharu biru lg dan mungkin dia takut tulisannya lepas dari trade mark – nya dan tdk laku? saya berani bicara soalnya saya sdh baca beberapa buku beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s