Untuk Kehidupan Masa Depan: Berpikir dan Bertindak Dengan Benar?!

Untuk apa, ya, repot-repot memikirkannya?! Bukankah lebih mudah menerapkan saja apa yang sudah ada?! Toh, intinya semua juga baik dan berasal dari ketulusan dan keikhlasan untuk melakukan sesuatu. Untuk apa, sih?! Lagipula, apa itu berpikir dan bertindak yang benar?!

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah tempat pijat refleksi. Tempat ini cukup ramai. Ada banyak sekali perempuan dan ada juga seorang bapak yang dipijat di sana. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah seorang gadis cilik yang duduk di antara para tamu dan karyawan tempat itu. “Kok, ada perempuan kecil di sini, ya?! Oh, dia mungkin sedang menunggu ibunya,” pikir saya.

Benar saja, ternyata tak lama setelah saya mulai dipijat, gadis itu menghampiri seorang perempuan yang berada di samping saya dan juga di sebelahnya lagi. “Pasti ini ibu dan teman ibunya. Oke, baguslah. Aman,” pikir saya lagi.

Tidak berapa lama kemudian, sebuah telpon selular berdering. Perempuan cilik itu segera menjawab telpon itu.

“Halo.”

“Iiihhh kamu!!! Gua, kan, sudah bilang kalau gua juga suka sama kamu.”

“Iya, kita pacaran.”

Saya tidak bisa mendengar lebih lanjut apa yang dibicarakannya karena dia berlari ke luar. Namun, saat dia kembali, pria yang sedang memijat kaki ibunya bertanya, ”Pacarnya, ya?!”

“Iya!!! Memangnya kenapa?!”

“Ada berapa pacarnya?!”

“Ehh… berapa, ya?! Nanti hitung dulu!!!… Ada enam.”

“Banyak banget!!! Memangnya kamu umur berapa?!”

“Delapan.”

“Delapan tahun punya pacar enam?! Bagaimana kalau umur sepuluh?!”

“Hahaha… bisa aja si Oom!!!”

Waduh!!! Saya yang sedari tadi menguping, jadi senewen mendengarnya. Apalagi kemudian di antara dia, ibunya, teman ibunya, dan para pemijat terlibat perbincangan seru dengan berbagai humor. Awalnya, sih, masih lucu, tapi kemudian ada satu humor yang menceritakan tentang ibu menyusui. Tiba-tiba saja, perempuan cilik ini menyeletuk, “Wah, padahal Oom mau gantiin bayinya. Oom pasti nafsu, kan?!” Gubrak!!!

Saya langsung menarik nafas panjang dan bicara dengan yang sedang memijat saya. “Bagaimana anak seumur itu bisa bicara seperti itu?”

Tahu, tuh, ibunya!!!” jawab pemijat saya.

Memang benar. Saya juga heran sama itu ibu. Bukannya memarahi atau memberi nasehat kepada putrinya, dia malah ketawa-ketawa dan malah terlihat bangga. Aneh!!!

Saya jadi membayangkan, deh, bagaimana bila perempuan kecil itu beranjak dewasa. Aduh!!! Jangan sampai terjadi seperti apa yang saya bayangkan. Ngeri!!!

Saya yakin, banyak di antara kita yang pernah menyaksikan kejadian yang serupa. Soalnya, saya sering mendengar cerita bangga dari para orang tua tentang anaknya yang masih kecil tapi sudah punya pacar. Kalau yang ditaksir saja, sih, masih bisa dimaklumi tapi yang naksir dan sampai bisa sampai pacaran ini yang bikin saya bingung. Kok, bangga?! Kalau saya, pasti khawatir sekali!!! Pernahkah berpikir, bagaimana persepsi yang salah tentang pacar dan pacaran, juga tentang daya tarik seksual, bisa sangat mempengaruhi perkembangan jiwa seorang anak?! Sangat mempengaruhi perilaku mereka di masa mendatang.

Situasi seperti ini, menurut saya, disebabkan oleh karena kurannya pemahaman orang tua dan juga ada kesalahan dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang seks. Pacaran dianggap biasa saja karena dilakukan oleh anak kecil sehingga tidak mungkin sampai bisa melakukan perbuatan yang tidak-tidak. “Mana mungkin?! Masih kecil!!! Mana ngerti?!” Iya, kan?!

Menurut saya, mana ngertinya itu yang bahaya!!! Berapa banyak anak kecil yang sudah melakukan masturbasi tanpa tahu mereka melakukannya?! Mereka nggak mengerti!!! Berapa banyak anak kecil yang diperkosa?! Mana mereka ngerti?! Apa harus sampai ada kejadian di depan mata baru sadar?! Biasanya, sih, selalu begitu!!! Apa harus terus berlanjut?!

Situasi juga diperburuk oleh media yang mengatasnamakan kebebasan pers. Di mana saya melihat banyak sekali sinetron, termasuk sinetron anak dan banyak acara yang katanya untuk anak-anak, sama sekali tidak mendidik. Buat saya, malah sangat menjerumuskan. Kalau kemudian disalahkan orang tua karena tidak membimbing dan mengajarkan, ya memang orang tua seharusnya membimbing dan mengajarkan. Masalahnya, orang tuanya juga nggak ngerti apa yang salah?! Apa yang harus dibimbing dan diajarkan?! Kan, repot jadinya!!!

Banyak sekali juga pihak yang sudah berteriak dan mempermasalahkannya, namun menurut saya, tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Bisa saja selesai di satu sisi, namun di sisi lain, apa juga selesai?! Jangan-jangan malah membuat masalah baru?!

Memahami apa dan siapa itu anak serta seks itu apa dengan benar, akan sangat membantu menyelesaikan masalah ini. Memikirkan apa yang benar memang tidak mudah, tetapi bisa!!! Ini semua tergantung dari usaha dan kerja keras untuk terus mensosialisasikannya saja. Mengubah apa yang sudah ada dengan sesuatu yang baru untuk kemudian dijadikan sebuah tradisi baru. Tradisi untuk berpikir dengan benar.

Berbuat dengan benar baru bisa akan diwujudkan bila sudah mampu berpikir dengan benar. Bagaimana bisa bertindak dengan benar bila berpikirnya pun masih tidak benar?!

Yah, mungkin saya termasuk orang yang sangat ekstrem dan keras untuk hal yang satu ini. Semua tidak lain dan tidak bukan karena saya merasa bertanggung jawab atas masa depan. Saya tidak ingin apa yang saya lakukan saat ini, tidak memberikan arti untuk masa depan atau juga merusak dan memperparah masa depan. Seperti juga sebuah perenungan yang diucapkan oleh seorang sahabat tercinta, “Waktu terus berjalan, tetapi apakah manusianya juga ikut berjalan?! Jangan-jangan hanya jalan di tempat atau malah mundur ke masa lalu?!”

Mau berpikir dan bertindak dengan benar demi masa depan?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

21 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s