Merdeka Dalam Cinta Atau Benar Mati Tanpa Cinta

Illustrasi: google search

Menjadi merdeka bukanlah sebuah keberuntungan namun merupakan perjuangan. Ada banyak sekali yang harus dikorbankan untuk bisa meraih, mendapatkannya, dan benar memilikinya. Namun demikian, merdeka bukan berarti bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan. Merdeka merupakan hak tetapi ada kewajiban yaitu untuk bisa memberikan kemerdekaan itu kepada semua juga. Jika tidak, maka tidak akan pernah kita menjadi hidup. Bernafas dengan jantung berdenyut mungkin saja, tetapi tiada akan pernah berarti. Cinta adalah segalanya.

Rasanya pilu sekali hati ini setiap kali harus membaca dan mendengar teriakan-teriakan marah penuh dengan kata-kata makian dan hinaan yang tidak pantas dan tidak senonoh. Bagi saya, semua itu menunjukkan bahwa mereka yang melakukannya belum merdeka. Tidak ada manusia yang bisa merdeka bila belum mampu berdamai dan menjadi bahagia. Tidak ada seorang pun yang akan pernah bisa merasakan damai dan bahagia bila tidak dipenuhi oleh cinta. Kata bisa berdusta tetapi kata juga menunjukkan apa dan siapa diri yang sebenarnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada fakta dan kenyataannya, ada banyak sekali hal-hal yang terjadi yang membuat kita menjadi marah. Tekanan sebegitu besarnya dan membuat kita menjadi sulit untuk bisa bernafas dan bergerak. Sementara mimpi, harapan, dan keinginan itu begitu kuatnya sehingga terkadang sulit sekali untuk bisa menerima semuanya begitu saja. Sayangnya, justru inilah yang pada akhirnya dimanfaatkan untuk bisa lebih lagi membuat kita semua menjadi sulit dan menderita.

Kita menjadi mudah dipermainkan dan ditendang ke sana ke mari hanya untuk sebuah kepentingan. Disadari tidak disadari, diakui tidak diakui, tidaklah mudah untuk bisa menjadi objektif bila sudah ada banyak marah di dalam diri. Terlebih lagi bila sudah ada keangkuhan diri dengan tidak mau mencoba melihat lebih dalam lagi dan belajar untuk melihat dari segala sudut pandang yang berbeda. Sifat difensif pada akhirnya hanya membuahkan pembenaran sehingga kebenaran itu sendiri tidak akan pernah terungkap dan bahkan akan semakin terus tenggelam dan hilang.

Buktinya, orang yang dulu dibela dan dipuja mati-matian, lalu kemudian terus dihina dan dimaki. Orang yang dulu dihina dan dimaki bisa berbalik dipuja dan dibela mati-matian meski tahu semua itu tidak benar. Sekarang, mereka yang menjadi penghianat bangsa dan penjual Negara pun dipuja dan diangkat-angkat terus. Nanti, kalau sudah ketahuan belangnya?! Percuma saja dimaki bukan?! Nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan tiada arti.

Aneh saja bagi saya, bila sekarang ini banyak yang berteriak tentang demokrasi, Marxisme dan sosialisme seolah memang benar mengerti dan paham arti kata-kata tersebut. Baru baca halaman satu saja sudah seperti menguasai seluruh kitab yang ada, maka tak heran bila teriakannya sangat keras dan kencang. Sejak kapan Negara kita memiliki landasan paham tersebut semata?! Memangnya Indonesia itu apa?! Siapakah Indonesia?!

Lucunya, sejalan dengan semua teriakan itu, tuntutan untuk mengembalikan Pancasila dan UUD’45 kian marak. Bagaimana mungkin Pancasila dan UUD’45 dianggap sama dengan demokrasi, Marxisme, dan sosialisme. Enak saja!!! Indonesia adalah Indonesia. Pancasila dan UUD’45 merupakan falsafah dan landasan dasar Negara Indonesia. Tidak ada yang akan pernah bisa menggantikannya!!! Mengertikah apa arti Pancasila itu sendiri?! Jangan-jangan sudah tidak hafal pula!!!

Yah, sekarang memang sudah tidak seperti masa lalu di mana pejuang itu memang benar berjuang bagi bangsa dan Negara dengan segala cinta dan ketulusannya. Sekarang yang ada juga hanya pejuang penjual bualan alias pembual penjual perjuangan yang menjadikan perjuangan itu menjadi tidak memiliki arti dan makna selain untuk mencari nafkah, popularitas, dan kedudukan semata. Hilang sudah semua nilai-nilai luhur atas budi dan arti perjuangan itu sendiri. Tapi, siapa yang berani mengakuinya?!  Kemaluan pun sudah tak punya. Sudah ada kemaluan yang lain untuk dikorbankan untuk menutupi kemaluan diri sendiri.

Yang paling tidak kuatnya lagi adalah mengatasnamakan cinta tanah air, bangsa, dan Negara. Wah, hebat betul!!! Semuanya demi rakyat dan bangsa seolah benar saja seperti pahlawan yang berjasa. Jika memang benar pahlawan, maka tidak akan pernah mem bawa rakyatnya, tanah airnya, bangsa dan negaranya ke dalam keterpurukan yang lebih mendalam dengan menjadi terus bodoh dan meneruskan pembodohan. Bagaimana mau memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik bila terus berada di dalam lingkaran kebodohan?!

Tidak mudah untuk memiliki nyali mengakui kebodohan dan kesalahan diri sendiri. Lebih mudah untuk menunjuk jari dan menyalahkan yang lain. Selalu saja ada banyak sekali alasan dan alasan untuk merasionalisasikan segala sesuatunya agar dianggap benar dan seolah memang benar. Jika terjadi sesuatu pun tidak berani bertanggungjawab, kok! Di mana nyali?! Di mana jiwa besar?! Di mana cinta dan ketulusan itu?! Di mana dadamu?!

Terkadang dan bahkan seringkali saya sendiri pun menjadi putus asa dan tak sanggup lagi menahan marah. Rasanya percuma saja melakukan apapun juga karena sangat berat dan benar-benar tidak mudah. Namun pada akhirnya saya kembali mengingat kata-kata seorang pejuang cinta yang sangat saya cintai, “Pemenang sejati bukanlah yang bisa mengalahkan lawannya atau pesaingnya tetapi yang mampu mengalahkan dirinya sendiri dan memenangkan dirinya sendiri.” Kata-kata itu membangkitkan semangat saya untuk terus berusaha dan memberikan segala yang terbaik yang bisa saya berikan.

Untuk menghormati segala jasa para pahlawan yang telah berjuang bagi kemerdekaan bangsa ini, saya pun tidak ingin melewatkan waktu percuma. Saya memiliki sebuah prinsip bahwa kemerdekaan itu harus diisi dengan sebaik-baiknya. Saya tidak ingin semua perjuangan yang telah dilakukan menjadi sia-sia saja. Saya harus meneruskan perjuangan mereka.  Biarpun barangkali sekarang tidak memiliki hasil apapun juga, tetapi perjuangan demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik tidaklah pernah boleh berhenti. Sesulit apapun itu, pasti adalah jalan yang terbaik dan menjadi pembelajaran untuk bisa melangkah lebih baik lagi.

Hidup adalah sebuah proses dalam kehidupan yang seharusnya tidak pernah boleh berhenti hingga pada masa dan waktunya tiba nanti. Nafas dan jantung ini boleh berhenti berdetak tetapi saya ingin tetap hidup. Hanya cintalah yang bisa terus membuat saya hidup di dalam lorong waktu tanpa batas. Cinta saya adalah Indonesia dan saya akan memberikan segalanya bagi Indonesia.

Seburuk dan sejelek apapun Indonesia, Indonesia tetaplah Indonesia. Korupsi dan segala penghancuran itu adalah kesalahan saya sendiri. Saya tidak akan pernah menuntut Negara ini untuk memberikan apapun yang saya inginkan, saya lebih memilih untuk memenuhi kewajiban saya sendiri dulu. Apa yang sudah saya terima dari tanah air ini terlalu berlebih dan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang bisa saya berikan. Adalah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk membuatnya berhenti menangis dan bisa kembali berjaya. Dengan cinta dan bukan dengan segala marah serta caci maki dan hinaan. Bukan juga untuk segala nilai dan pencapaian tujuan karena nilai bukanlah milik manusia dan tujuan adalah tahap untuk melangkah lebih maju lagi. Dan yang terpenting, tanpa harus mengatasnamakan apapun juga dan dengan alasan apapun juga selain memang benar cinta.

Berpikir dan bertindak benar sudah menjadi prinsip saya. Hal yang kita anggap baik belum tentu benar dan prioritas tetaplah yang utama. Meskipun terkesan kejam, keras, dan jahat, tak mengapa. Kebenaran adalah kebenaran dan semua itu harus tetap menjadi yang terpenting. Tuhan adalah kebenaran yang mutlak dan utama. Toh, saya juga tidak perlu harus membela diri dan memberikan banyak alasan. Biarlah semua ini berjalan sesuai dengan dorongan jiwa, kata hati, dan takdir-Nya. Saya tidak ingin menjadi apa-apa dan siapa-siapa juga. Semua berasal dari-Nya dan akan kembali juga pada-Nya, jadi untuk apa semua itu?!

Saya adalah saya dan saya adalah Indonesia. Baik buruknya Indonesia, Indonesia adalah saya. Apapun yang terjadi adalah saya dan apapun yang akan terjadi adalah saya juga. Bukan yang lain dan tidak akan pernah menjadi yang lain.

Merdekalah dalam cinta untuk Indonesia yang kita cintai ini. Penuhilah diri dengan cinta dan berdamailah untuk Indonesia. Bahagiakanlah Indonesia dan jangan pernah biarkan Indonesia mati!!! Indonesia adalah diri kita sendiri!!!

Cintailah Indonesia!!! Merdeka!!!                                  

 

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

17 Agustus 2011

 

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s