Merdeka Lewat Bahasa Indonesia

Illustrasi: netsains.com

Bahasa Indonesia kian terpuruk dan dilupakan yang membuat jati diri bangsa dan Negara semakin hilang. Lebih bangga menggunakan bahasa “kebiasaan” dan “suka-suka” bahkan berbahasa asing tanpa mempedulikan juga struktur, aturan, dan etikanya. Hingga kapan kita akan terus menjadi manusia, bangsa, dan Negara yang dijajah dan dibodohi hanya karena Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi penting?! Sadarkah bahwa bahasa merupakan pola pikir dan salah satu sarana politik pecah belah dan pembodohan  yang paling ampuh?!

Saya terkejut melihat soal matematika salah seorang keponakan saya yang duduk di kelas 6 SD sebuah sekolah Internasional yang dianggap berprestasi, hebat, dan “berkelas”. Untuk anak seumur itu, pelajaran geometri yang membedah bentuk bangunan saja bagi saya sudah keterlaluan, ini ditambah lagi dengan soalnya yang menggunakan soal kalimat. Bagus bila kalimatnya itu bisa dimengerti dengan baik, saya saja yang membacanya memiliki banyak sekali interpretasi yang berbeda, apalagi anak seumur dia. Itu baru soal kalimat yang berbahasa Indonesia dan saya lebih terkejut lagi melihat soal-soal lainnya yang menggunakan Bahasa Inggris.

Bagi saya, ini merupakan sebuah bukti dari sistem pendidikan yang salah dan juga pola pikir yang sudah salah kaprah soal “prioritas” pendidikan. Anak yang dianggap hebat adalah anak yang mampu berprestasi hanya di bidang matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Sementara pendidikan di dalam bidang bahasa sama sekali tidak diindahkan dan terus dianggap remeh. Padahal, semua ilmu  membutuhkan daya baca dan daya bahasa yang berkualitas dan tinggi agar mampu mengolah dan berpikir dengan lebih baik lagi. Tak heran bila anak-anak bangsa kita ini pada akhirnya “kalah” dari anak dari bangsa lain pada saat setelah dewasa. Kemampuan membaca dan berbahasa kita memang rendah sekali, kok!

Hebatnya lagi, masyarakat dan Negara kita justru seolah mendukung sekolah-sekolah yang mementingkan dan menjual bahasa international. Sekolah-sekolah tersebut dianggap lebih bermutu dan berkualitas karena memiliki guru-guru asing sebagai pengajarnya. Bagaimana dengan mutu dan kualitas para guru asing itu tidak penting, yang penting sudah berwajah asing, itu sudah bisa menjadi guru.  Dianggap juga sudah pasti bisa berbahasa Inggris dan mampu mengajar bahasa Inggris lebih baik hanya karena bahasa tersebut merupakan bahasa mereka. Begitu, kan?!

Rata-rata penduduk Amerika adalah lulusan SMA dan untuk bisa kuliah, mereka pun harus lulus ujian saringan bahasa yaitu TOEFL. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk di sana, hanya sedikit saja yang bisa mencapai angka 500. Sementara untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi berkualitas baik dan untuk jurusan-jurusan tertentu, diperlukan nilai yang lebih tinggi, yaitu 550-600. Nah sekarang, bagaimana dengan nilai TOEFL dan pendidikan guru-guru asing tersebut?! Mereka sekolah di mana?! Tidak semua perguruan tinggi di luar negeri itu bagus dan bermutu. Yang hanya di “ruko” tanpa kelas dan tidak jelas pun banyak!!!

Semua ini disadari tidak disadari sudah merusak bangsa dan Negara kita sendiri. Sudah amat sangat menjerumuskan generasi yang merupakan kehidupan dan masa depan. Mereka dibuat tidak memliki jati diri karena lebih bangga berbahasa asing dan yang lebih parahnya lagi, mereka menjadi tidak memliki kemampuan berbahasa Indonesia maupun berbhasa asing dengan baik. Lantas, apa hebatnya?!

Saya sungguh tidak habis pikir bagaimana juga seorang yang mengaku pemimpin dan juga pejuang yang cinta bangsa dan Negara  ini ternyata lebih bangga menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasanya sendiri. Mengaku pula ikut berperan dan seolah pahlawan yang memang peduli dengan nasib dan masa depan bangsa. Memangnya hebat, ya, kalau bisa berbahasa asing?! Kalau memang bagus dan sesuai dengan etika, posisi, dan aturannya saya masih bisa mengerti tetapi kebanyakan bahasa asing yang dipakai adalah bahasa “jalanan” dan bahasa “film”, kok!!!

Paling heran lagi bila ada yang “sok” lupa bahasa Indonesia padahal baru saja sebentar tinggal di luar negeri. Ada juga yang merasa hebat dan keren dengan berlagak tidak mau menggunakan bahasa Indonesia lagi padahal belum pernah ke luar negeri sekalipun. Apa, sih, kerennya?! Justru semua itu menunjukkan “kelas” sebagai seseorang bermental “dijajah” dan sama sekali tidak “berpendidikan”. Jangan harap bisa dianggap “elite”, norak iya!!! Entah, ya, kalau di lingkungan “berkelas” yang sama.  Ini bukan masalah “kelasnya”, tapi pola pikir dan mentalnya!!!

Saya bukan pendukung Soeharto tetapi saya sangat salut dengan sikap beliau di dalam berbahasa. Meskipun beliau fasih enam bahasa, tetapi tidak pernah sekalipun beliau tampil menggunakan bahasa asing tersebut. Masih ingat, kan, kalau ke mana-mana beliau selalu didampingi penerjemah?!  Beliau menyadari penuh posisinya sebagai seorang pemimpin dan kepala Negara yang harus menunjukkan sikap dan jati diri yang penuh percaya diri dan bangga pada bangsa dan Negaranya. Dengan caranya itu, diakui tidak diakui, biar bagaimanapun juga, beliau menjadi salah seorang kepala Negara yang dihormati oleh dunia.

Tidak  percaya?! Coba perhatikan protokoler pertemuan para pemimpin bangsa dunia. Dulu, Indonesia selalu berada di urutan terdepan dan urutan tersebut merupakan sebuah kehormatan. Kehormatan itu tidak dilihat dari “besarnya” sebuah Negara tetapi bagaimana bangsa dan Negara lain menghormatinya. Sekarang?! Hehehe….

Bahasa menjadi penting karena bahasa merupakan pola pikir dan sangat berpengaruh pada logika seseorang. Semakin rendah kualitas bahasa seseorang maka pola pikir dan logikanya juga semakin rendah dan terbatas. Salah satu ciri dari orang yang memiliki nalar tinggi bisa dilihat dari kemampuannya berbahasa, daya baca dan daya bahasanya. Hal ini tidak terpengaruh oleh tingginya pendidikan maupun juga jabatan dan kekayaan seseorang tetapi kemampuannya untuk mengolah dan menggunakan “otak”-nya.

Bahasa juga merupakan jati diri sebuah bangsa dan bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang seharusnya selalu diprioritaskan, dijunjung tinggi, dan dihormati. Bagaimana kita bisa dihormati bila kita tidak menghormati dan menghargai diri kita sendiri?! Bagaimana kita bisa maju bila kita tidak kenap apa dan siapa diri, tidak memiliki jati diri, dan tidak berkepribadian?! Bagaimana kita bisa bersatu bila kita semua asyik masyuk dengan bahasa masing-masing?! Haruskah kompleksitas primordial pemikiran manusia membuat kita menjadi terus berkelompok dan terpecah?!

Kita semua sering mengeluh karena kita dipecah belah dan tidak bisa bersatu tetapi kita juga terus saja sombong dan tinggi hati dengan tidak mau mengikuti aturan dan peraturan yang telah disepakati sebelumnya. Kenapa bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan?! Sudah mengertikah kenapa alasannya?! Kita juga sudah sering berusaha melakukan banyak sekali hal untuk tujuan mempersatukan dan memperbaiki bangsa, tetapi pada akhirnya seringkali gagal. Bagaimana kita bisa melakukannya bila kita memiliki bahasa yang berbeda?!

Silahkan saja berbahasa asing tetapi pelajarilah dengan baik dan ikuti aturannya dan tempatkan sesuai posisi, tempat, dan waktunya. Bahasa asing pun memiliki etikanya sendiri, tidak boleh sembarangan. Yang terpenting, jangan pernah abaikan bahasa Indonesia dan jadikanlah Bahasa Indonesia sebagai prioritas utama. Pelajarilah dan gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jangan seenak udelnya saja diubah dan dipermainkan dengan alasan kreatifitas, kebebasan, dan demokrasi. Jadilah manusia modern yang berpandangan maju ke depan untuk bisa melihat bagaimana dampak dari semua ini. Tidakkah ada rasa cinta sedikit pun pada bangsa dan Negara ini dan tidakkah ingin anak cucu kita memliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik?!

Saya juga berharap agar pemerintah dan masyarakat mau lebih peduli dengan pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Hentikan komersialisasi dan industrialisasi sekolah yang menjual bahasa asing karena semua itu sama sekali tidak mendidik. Pembodohan dan pengrusakan!!! Penghancuran kehidupan dan masa depan bangsa dan Negara. Mau sampai kapan kita dijajah oleh bangsa lain lewat bahasa?! Kapan kita mau merdeka dalam arti sebenar-benarnya merdeka?!

Ayo! Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar!!! Jadilah manusia Indonesia yang memiliki jati diri, percaya diri, berkepribadian dan benar merdeka!!! Tunjukkan pada dunia, siapa Indonesia!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

17 Agustus 2011

 

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Merdeka Lewat Bahasa Indonesia

  1. @arif_ie says:

    bangga berbahasa asing, terlihat (seperti) modern tapi sbnrnya secara mental kita ga jauh beranjak dari keadaan mental 66 tahun lalu (mungkin malah ada gradasi)… mungkin ini yg dibilang “penyakit masyarakat post-kolonial”… segala yg datang dari asing pasti dianggap lebih baik…

  2. SPEAK ENGLISH CORRECTLY!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s