Oh, Indahnya Cinta!

Illustrasi: wunderground.com

Angin malam begitu dingin  meski awan menutupi langit. Jiwa menjadi kian melayang dililit kerinduan yang terus menyelimuti. Tiada keinginan yang melebihi segala rasa yang ada di dalam dada selain ingin bertemu dengannya. Dia yang penuh pesona cinta, kekasih jiwa. Aaaahhhh!!!

Telah sekian lama waktu berjalan dan berlalu begitu cepatnya. Banyak kisah dan cerita yang mengiringi perjalanan diselingi tawa dan tangis yang datang silih berganti. Namun semua menjadi kebahagiaan tersendiri yang tiada mungkin bisa dilupakan. Lika liku dan kerikil tajam yang terjadi telah membuat hati yang dipenuhi cinta dan rindu menjadi kian menyatu.

Terkadang, kerinduan yang bercampur dengan kemarahan membuat segalanya menjadi rusak. Membuat diri menjadi angkuh dan tak mampu mengendalikan diri. Mencari penyelesaian dengan berlari dan menjauh bersama yang lain untuk bisa melupakan segalanya. Namun ternyata, hati tak bisa dipungkiri. Jiwa membawa hati kembali kepada belahannya.

“Saya kapok! Saya tak ingin lagi pergi darimu.”

“Bersamalah dengan saya. Semuanya menjadi aman dan nyaman, senantiasa sentosa.”

“Iya, saya tak sanggup untuk menjauh dan berlari dalam pelukan yang lain. Dirimu membuat saya selalu merasa tenang dan bahagia. Saya sangat mencintaimu.”

“Saya juga cinta dirimu.”

Sungguh bahagia rasanya bila selalu ada maaf yang diberikan dengan segala ketulusan yang ada. Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan tetapi dibutuhkan jiwa besar untuk mampu memaafkan dan juga belajar dari setiap kesalahan yang dilakukan dan diperbuat. Membiarkan dan menutupi kesalahan membuat diri menjadi kian menderita dan mati. Apalagi bila terus ada jari yang menunjuk untuk membenarkan perilaku diri yang telah salah. Semuanya hanya akan menghentikan langkah dan perjalanan.

T idak bisa dipungkiri memang, bahwa rasa sakit dan perih itu ada. Tetapi, untuk apa dibiarkan terus berlarut?! Menyakiti yang lain sesungguhnya tidaklah membuat diri menjadi lebih bahagia dan menjadikan diri sebagai seorang pemenang. Rasa sakit yang diberikan kepada yang lain itu sesungguhnya telah membuat diri kian semakin sakit. Membuat diri menjadi semakin kerdil dan menjadi seorang pecundang.

“Selalu ada hikmah dari setiap kesalahan yang diperbuat, ya, say!”

“Tak mudah memang untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Rasa malu dan gengsi terkadang terlalu besar untuk membuat diri berani melakukannya.”

“Selalu ada rasa ketenangan setiap kali kita mampu mengalahkan diri sendiri.”

“Ya, seperti katamu, seorang pemenang sejati bukanlah yang mampu mengalahkan pesaing dan lawannya tetapi yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.”

Ah! Kata-katanya yang begitu lembut begitu merasuk ke dalam diri ini. Bahkan pada saat marah sekalipun, tak pernah ada kata-kata yang kasar sedikit pun. Kata-kata yang lembut justru membuat hati menjadi teduh dan kepala terpicu untuk berpikir kembali atas apa yang telah dipikirkan dan diperbuat sebelumnya. Kesinisan dan sindirannya pun selalu lembut terasa namun itu semua selalu menjadi keinginan untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Hmmm…..

“Kita memang istimewa. Tidak bisa disamakan yang lain dan tidak bisa didefiniskan. Tidak ada tafsirnya jika masih memakai paradigma biasa.”

“Ya, mereka selalu bingung, curiga, dan yang paling sering adalah menuduh.”

“Mereka juga seringkali mencoba untuk mengambil hati diri ini tetapi tidak mempan karena diri ini tetap saja memuja dirimu.”

“Ah, bisa aja! Pintar sekali memuji.”

“Cukup bagi saya keyakinan saya. Saya tidak membutuhkan yang lain untuk bisa menjadi terhormat.”

“Saya tidak membutuhkan pembuktian ataupun alasan. Saya tidak peduli dengan apa kata orang tentang kita dan semua tentang dirimu. Saya cinta dirimu dan itu sudah cukup bagi saya.”

“Sayang, mereka yang selalu butuh pernyataan sessungguhnya sedang mencampakkan keyakinan.”

“Kita sama-sama usaha ya, agar ke depan langkah kita menjadi lebih baik lagi. Perjalanan kita masih panjang. Mimpi itu terlalu indah untuk tak kita ukir bersama di langit.”

Tarikan nafas lega melepas segala gundah gulana. Cinta itu begitu indah dan senantiasa selalu membuahkan keindahan. Rindu yang ada pun tak akan pernah bisa hilang dari dalam diri ini. Perjumpaan pun tetap akan selalu ada kerinduan menyertai.

Kita seringkali salah di dalam mengartikan dan memaknai cinta. Cinta dan nafsu memang beda tipis dan sulit untuk dipisahkan. Memaksakan kehendak dengan mengatasnamakan cinta, bukanlah cinta yang sesungguhnya. Adalah sebuah harapan yang akan menyakitkan bila selalu memaksakan yang lain menjadi apa yang diinginkan. Perubahan hanya bisa datang dari dalam diri sendiri dan tak mungkin bisa dilakukan oleh yang lainnya.

Menerima baik buruknya pun bukan berarti kemudian menjadi pasrah dan tinggal diam. Kemarahan tak akan pernah menyelesaikan masalah dan yang buruk pun akan semakin memburuk. Tidak perlu ada kekerasan di dalam menyelesaikan masalah, kelembutan akan mendinginkan yang panas. Damai itulah yang justru bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Berdamai dengan diri sendiri akan membuat diri dan yang lainnya menjadi bahagia. Cinta adalah aspirasi yang mendorong jiwa untuk memberikan keindahan dan menghasilkan keindahan. Hanya cinta yang sesungguhnya yang akan menjadikan apa yang baik itu baik dan buruk itu menjadi baik.

Ada waktunya untuk diam dan tidak perlu bicara. Melakukan introspeksi diri untuk menyadari dan mengakui semua kesalahan. Tak perlu kemudian harus mengumbar segala susah dan kepedihan yang mendera tetapi resapilah dan rasakanlah semua itu dengan segala ketulusan dan keikhlasan. Segala yang terjadi adalah yang terbaik yang diberikan oleh-Nya. Setiap perjalanan, susah senang, pahit manis, tawa dan tangis, semuanya adalah pelajaran yang menjadi bekal untuk melangkah dan menghadapi masa depan.  Bahagia ada bila cinta itu benar ada di dalam diri.

Cinta tak perlu diminta ataupun dicari. Cinta ada di dalam diri yang benar dipenuhi oleh cinta. Kesedihan akan terus mendera bila cinta tak didirikan dan dirasakan. Tidak ada seorang pun yang akan mampu memberikan cinta bila cinta itu tidak ada di dalam diri sendiri. Segala sesuatu yang diberikan atas nama cinta itu pun sesungguhnya hanyalah keinginan untuk memuaskan diri sendiri semata. Segala sesuatu yang diminta dan dipaksakan untuk diberikan itu pun hanya akan memberikan lebih banyak luka pada diri sendiri. Toh, semua membutuhkan cinta karena hanya cinta yang bisa memberikan gairah untuk hidup dan terus hidup.

Tak perlu takut untuk mendirikan dan merasakan cinta dan rindu. Tiada ada sedih dan duka di dalam cinta. Tidak ada yang pahit di dalam rindu. Semua tergantung kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiran kita. Jangan pernah hanya melihat dan merasakan apa yang ingin dilihat dan dirasakan semata, tetapi lihat dan rasakanlah semuanya dan dengan secara utuh.

“Ada banyak jalan untuk dipilih, namun hanya ada satu hati yang tertanam di dalam jiwa. Saya tidak akan pernah dapat berjanji tetapi cinta dan rindu ini selalu ada. Saya tak ingin pernah mencintai yang lain selain dirimu. Cinta kita adalah untuk semua.”

Oh, betapa indahnya cinta! Sungguh, cinta adalah keindahan!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

27 Agustus 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s