Ketika “Cinta” Menjadi Duka dan Dosa, Ah!!!

illustrasi: docbachmeier.net

Cinta merupakan keindahan dan akan selalu berbuah keindahan, namun banyak yang berpikir bahwa tidaklah demikian. Cinta dianggap membawa derita dan bahkan menjadi dosa. Cinta pun kemudian dipertanyakan. Mengapa semua itu harus terjadi, mengapa tiada keindahan di dalam cinta?! Mengapa cinta berubah menjadi duka dan dosa?!

Ketika…, seorang bayi terlahir dari seorang ibu tanpa suami. Anak yang menjadi bagian dalam kehidupan tanpa pernah meminta untuk dilahirkan, dia ada karena cinta yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Dialah yang menghembuskan nafas sehingga anak itu ada, tetapi dia menjadi anak yang haram dan terhina.

Ketika…,  anak mengakui jujur pada orang tuanya bahwa dia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintainya, meskipun itu merupakan pilihan orang tua dan dianggap yang terbaik oleh orang tuanya. Dia memilih untuk menikah dengan yang lain, yang dicintainya. Meskipun orang itu, tidak seindah yang ada di dalam mata orang tuanya, dan meskipun juga mereka berbeda agama.

Ketika…, anak menuruti keinginan orang tua tetapi kemudian dia menyadari kesalahannya. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk hidup bersama dengan orang yang tidak dicintainya dan selalu ada keinginan untuk bahagia bersama orang yang dicintainya. Berkata yang jujur menjadi salah, diam-diam pun menjadi tidak mudah. Semuanya menjadi salah.

Ketika…, seseorang mengakui dirinya pernah dilecehkan oleh orang yang dianggap baik dan mulia di hadapan manusia. Dia pun dipersalahkan dan bahkan dituduh telah berdusta. Hingga kemudian dia merasa dikucilkan dan tersingkir, lalu menjadi pecinta sesama jenis. Dia tidak ingin berdusta dan memaksakan diri untuk mencintai lawan jenisnya biarpun dia sudah berusaha keras. Apa yang pernah terjadi dalam kehidupannya telah membuatnya menjadi demikian. Dia pun dianggap hina, haram, dan bahkan dianggap sudah kerasukan “setan”.

Ketika…, seseorang memutuskan sebuah hubungan karena tidak lagi ingin lagi harus saling menyakiti meskipun berat tetapi merupakan pilihan yang diyakininya benar. Perpisahan bukan berarti saling membenci tetapi karena keinginan agar cinta itu tetap ada meski tidak harus bersama. Kemarahan dan tuduhan pun dilontarkan dengan penuh kebencian biarpun mengaku cinta dan mengatasnamakan cinta. Dianggap telah membuat susah dan menderita yang lain.

Ketika…, dibenarkan untuk menjatuhkan, menghancurkan, bahkan membunuh yang lainnya dengan mengatasnamakan kebenaran dan cinta. Mereka yang berbeda dianggap salah dan semuanya harus sama. Dia yang menjadi panglima dan pemimpin kita semua pun tidak diindahkan karena merasa sudah menjadi panglima dan bahkan lebih dari Dia yang katanya adalah cinta sejati dan yang Maha Besar.

Ketika…, menjadi seorang pemimpin yang ingin memberikan cinta dengan memberikan tuntunan agar semua yang dipimpinnya menjadi pemimpin atas dirinya sendiri pun salah. Pemimpin yang berkuasa dan menguasai seolah raja yang berhak untuk melakukan apapun itu justru yang terpilih. Menjatuhkan yang lain dengan berbagai cara untuk mendapatkan posisi dan kemenangan dianggap benar. Tak peduli apakah kemudian nanti semua menjadi susah atau tidak, yang penting adalah sekarang. Perut yang kosong dan kemiskinan pun menjadi alasan. Duh!

Ketika…, dua anak manusia yang melakukan perbuatan yang dianggap tak baik itu boleh disebarkan ke seluruh penjuru. Merasa bahwa telah benar karena sudah membuat mereka malu dan jera. Tanpa disadari sebetulnya sudah melanggar pribadi yang lain dan bisa saja menyebarkan fitnah. Merusak generasi yang belum mengerti karena membuat mereka terus dipaksa menyaksikan semua gossip dan hinaan serta makian itu di media massa. Menghancurkan yang lain selalu dianggap benar sementara diri sendiri tak pernah berani untuk bercermin dan menjadi jujur.

Ketika…, ah! Terlalu banyak saat dan waktu yang menjadikan cinta itu seolah benar membuat menderita dan menjadi sebuah dosa! Sungguh semua ini membuat hati saya menjadi ngilu dan sangat pilu. Mengapa semua ini harus terus terjadi?!

Saya seringkali tidak pernah habis berpikir, apa maksud dari Dia hingga menjadikan semua ini. Apakah karena dengan semua peristiwa, saat, dan waktu yang menyedihkan ini, Dia ingin kita semua untuk bisa melihat dan belajar untuk mengerti apa arti cinta itu sendiri?! Bila kita tidak memiliki perbandingan, bagi manusia yang selalu mengandalkan rasio otak, tentunya akan sulit. Bukti dan alasan harus selalu ada bukan?!

Di sisi lain, kok, tega nian Dia membiarkan semua ini harus terjadi. Apa salah manusia sehingga harus merasakan semua ini?! Namun, siapa yang pernah tahu rahasia dan rencana Dia?! Manusia pun hanya bisa “menduga” dan berencana, tetapi semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Dia tak pernah memberikan yang buruk, selalu yang terbaik dan terindah. Bahkan apa yang dianggap manusia sebagai susah, duka, dan derita pun adalah pelajaran yang sangat baik untuk melangkahkan kaki ke depan.

Bila pun manusia mengatasnamakan cinta atas semua pikiran dan perbuatan itu, maka sesungguhnya tiada ada cinta yang sebenarnya. Cinta itu pun hanya merupakan nafsu dan ambisi belaka untuk memuaskan diri semata. Kebenaran pun hanya dipandang berdasarkan apa yang ingin dilihat, dirasakan, dan diyakini saja. Tidak lagi bisa membedakan mana yang pembenaran dan mana yang kebenaran itu sendiri.

Cinta yang diajarkan oleh-Nya menjadi terbatas dan dibatasi oleh pemikiran dan hati manusia itu sendiri demi kepentingan dan untuk diri sendiri saja. Rasio akal dan hati yang seharusnya seimbang dan digunakan dengan sebaik-baiknya karena merupakan anugerah yang menjadikan kita manusia pun, diabaikan begitu saja. Rasionalisasi yang menjadi pembenaran itu pun dianggap selalu benar dan apa yang menjadi kebiasaan itu pun dianggap lumrah, jamak, dan pasti benar. Pencarian itu tidak ada lagi dan berhenti hanya pada sebuah kotak yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Segala tuntunan yang turun dan diberikan oleh-Nya pun hanya dibaca sebatas aksara. Dihafalkan dan dilafalkan tanpa juga mau merasakannya. Padahal, dia sudah memberikan contoh bagaimana seorang Nabi yang diagungkan itu tak mampu membaca dan menulis, tetapi mampu untuk menangkap semua perintah dari-Nya karena dia mampu merendahkan hati untuk bersujud dan merasakan semua itu. Yah, keterbatasan manusia selalu dianggap sebagai pembenaran untuk tidak bisa menjadi lebih terbuka dan lebih luas lagi.

Kerumunan pun memberikan tekanan yang sangat kuat sehingga dengan mudahnya mengguncangkan dan mengoyak pribadi yang tak mengenal apa dan siapa dirinya. Membuat labil mereka yang tidak memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri. Membuat mereka yang tinggi hati semakin keras kepala dan tidak mau lagi untuk belajar hingga ke dasarnya. Di sisi lain, semua sebetulnya menyadari bahwa hanya dengan menjadi diri sendiri maka kebahagiaan itu bisa diraih. Hanya dengan mengenal apa dan siapa diri, maka kita bisa menjadi lebih dekat pada-Nya. Hanya dengan bersujud, kita akan mampu mengisi diri dengan lebih banyak lagi.

Ketulusan itu pun hanya menjadi sekedar kata yang tak berarti. Dengan-Nya pun masih berhitung tentang pahala dan segala kebaikan yang diberikan. Dosa itu pun dengan seenaknya saja langsung diberikan kepada yang lain sebagai vonis dan neraka menjadi hukumannya. Siapakah sebenarnya yang memiliki surga dan neraka itu?! Siapakah yang paling pantas menentukan dosa dan semua nilai manusia?! Mampukah manusia melakukannya?! Untuk bisa objektif, adil, dan menegakkan keadilan pun sulit, kok!

Seandainya saja, ya seandainya saja, kita semua mau merasakan dan mendirikan cinta, alangkah indahnya dunia ini. Damai dan kebahagiaan itu akan benar menjadi ada dan tiada lagi harus ada duka dan nestapa. Cinta adalah cinta dan cinta yang sebenarnya tidak akan pernah membuat kita menjadi menderita ataupun bisa langsung memberi vonis sebagai sebuah dosa. Kita harus mampu membedakan mana yang benar merupakan kebenaran Dia dan mana yang merupakan pembenaran manusia semata. Kebenaran Dia adalah mutlak sementara yang dibuat oleh manusia sangatlah relatif sifatnya, tergantung dari kaca mata siapa dan dari sebelah mana. Semua memiliki sudut pandang dan sisi yang lain.

Semua yang menjadi tuntunan itu pun hendaknya dibaca dengan mata dan hati. Bahasa Dia adalah bahasa Kalbu yang bukan hanya sekedar aksara untuk dibaca oleh mata ataupun sekedar diucapkan. Jika kita tidak merendahkan hati, maka kita tidak akan pernah bisa menangkap apa maksud, arti, dan makna semua kata-kata-Nya. Sepotong-sepotong tidak akan pernah sempurna, harus secara penuh dan utuh. Pada fakta dan kenyataannya, untuk membaca tulisan manusia pun kita masih banyak yang salah arti dan salah tangkap, apalagi yang dari Dia?! Maukah kita mengakuinya?!

Saya tidak bisa dan tidak berhak untuk memaksakan siapapun untuk bisa meyakini arti dan makna cinta seperti apa yang saya yakini. Saya pun tidak memiliki kewajiban untuk menjadi sama dengan yang lainnya karena keyakinan saya, Dia adalah cinta sejati saya, bukan yang lainnya. Di dalam cinta saya merasa nyaman dan bahagia. Tiada ada duka ataupun derita. Dosa itu pun adalah nilai mutlak dari-Nya dan bukan dari manusia.

Cinta adalah keindahan dan hanya dengan cintalah kita bisa membuat segalanya menjadi indah. Tanpa cinta, kita hanya akan menderita, susah, dan terus terjerumus lebih dalam lagi. Damai dan bahagia itu pun hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Cinta pun tak memiliki batas dan keterbatasan karena cinta yang sesungguhnya akan senantiasa abadi di lorong tanpa batas.

Penuhilah diri dan tebarkanlah cinta ke seluruh semesta dan jagat raya ini. Hormati dan hargailah semua anugerah yang diberikan oleh-Nya dengan memberikan cinta kepada semua. Cinta bisa mengalahkan segalanya. Hanya dengan cinta, bahagia, damai, dan merdeka itu benar adanya dan surga itu pun menjadi untuk semua.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

11 September 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ketika “Cinta” Menjadi Duka dan Dosa, Ah!!!

  1. nyalakan cinta di kamar2 gelap dan lorong2 berpenerang……..cinta jauh lebih terang dari apa saja

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s