Ketika Cinta dan Rindu Itu Ada

Illustrasi: loverssign.com

Hati selalu saja sedih setiap kali harus mengantarkan dia pergi meskipun tahu tidak akan lama. Biarpun juga sebenarnya dia selalu ada di dalam hati dan menemani setiap saat dan waktu. Rasanya ingin sekali terus memeluk dan memeganginya. Bersamanya, semua selalu menjadi indah.

Langit masih sangat gelap dan jalanan pun lenggang leluasa. Ingin sekali rasanya menghentikan kendaraan yang sedang melaju. Tak ingin segera sampai ke tujuan.

Melirik  untuk melihatnya sesaat. Wajahnya selalu menawan hati biarpun matanya sedang terpejam karena lelah dan kurang tidur.  Tidak pernah ingin berhenti  menciumi wajahnya. Entah mengapa, selalu saja ingin menciumnya. Apalagi, pada saat seperti ini di mana rindu kian terasa.

“Rindu itu harus selalu ada,” begitu katamu.

Ya, rasa rindu itu tak pernah hilang dari dalam diri. Cinta membuat rindu ini selalu ada dan ada selalu. Pertemuan pun tidak akan pernah bisa menghilangkannya. Rindu telah melilit diri dan menjadi pengikat rasa cinta yang ada.

“Pertemuan dalam kebersamaan menjadi jauh lebih penting bagi kita sebagai pelampiasan rasa rindu yang bukan menjadi pelampiasan untuk nafsu semata.”

Tidak ada yang perlu dipaksakan atau memaksakan. Tiada ada janji ataupun tuntutan yang membebani. Penerimaan itu bukan hanya sekedar kata, tetapi memang benar seutuhnya. Suka tidak suka bukanlah menjadi pemicu untuk memberi batas dan menjadi keterbatasan tetapi untuk membuka mata dan kian tenggelam dalam segala perbedaan yang ada. Semuanya berjalan dengan sendirinya, sehinga tidak ada yang perlu harus ditakuti bahkan diragukan.

Perjalanan selalu ada lika liku dan kerikil tajamnya, tetapi semua itu dapat dilalui bersama. Malah justru membuat kebersamaan menjadi kian terasa dan semakin lama semakin mudah melaluinya. Dominasi dan keinginan untuk menguasai serta memiliki, membuat susah sendiri. Beruntunglah bagi yang menyadari sepenuhnya dengan kerendahan hati.

“Saya percaya dirimu.”

Bayang-bayang kenangan indah yang dilalui bersama, manis dan pahit, selalu saja menambah besar rasa rindu yang ada ini. Menambah besar juga keyakinan atas segala cinta yang ada sehingga waktu itu pun berjalan tanpa terasa berat. Ketenangan dan kenyaman atas cinta yang ada dan diberikan, membuat hati ini semakin diliputi oleh keindahannya.

 “Bersamamu kekasih…,” sederatan puisi  dilantunkannya untuk menghibur diri.

Tak henti mensyukuri diri telah diberikan yang terindah oleh-Nya. Dia telah mempertemukan dan membuat cinta ini menjadi ada. Tidak ada yang lain yang sama, tidak ada dua atau tiga, hanya ada satu. Banyak sekali yang telah diberikan, disadari tidak disadari. Seringkali tak mampu  mengerti tetapi begitu nyata dan sangat terasa.

“Saya tidak mampu untuk melepaskan diri darimu. Cinta dan kasih sayangmu membuat saya selalu merasa bahagia.”

Ah! Dia memang sungguh mempesona. Dia membuat bulan dan bintang pun bercumbu menebarkan bunga-bunga penghias langit. Bahagia sekali rasanya.

Berada jauh darinya memang sungguh tidak enak, tetapi semua itu justru semakin membuat diri sadar akan cinta dan segala kerinduan yang ada. Menikmatinya sepenuh hati membuat diri keindahan itu semakin nyata menghiasi setiap perjalanan di dalam kehidupan ini.

“Saya sayang dan saya cinta.”

Hmmm….

Kita memang seringkali menuntut dan meminta karena merasa telah memberikan. Ketulusan yang selalu diikrarkan bersama janji-janji dan harapan itu, sebenarnya hanya menjadi keinginan dan ambisi untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Mengerti pun sesungguhnya tidak mengerti, biarpun selalu minta dimengerti dan bahkan memaksakannya.

Tidak mudah memang untuk mau mengakui semua ini. Menyadarinya pun sulit karena bila sudah tahu pun belum tentu mau mengakuinya. Tinggi hati dan nafsu serta ambisi sudah membuat diri menjadi terbatas dan membatasi. Cinta itu sendiri pun hanya merupakan sebuah kebutuhan yang untuk dikuasai dan dimiliki bukan untuk diberikan.

Segala alasan dan bukti terus saja diumbar untuk meyakinkan orang yang dianggap benar dicintai, tetapi sebenarnya merupakan sebuah bentuk dari pembenaran dan usaha untuk meyakinkan diri sendiri atas cinta yang ada itu. Kelabilan dan keraguan, membuatnya menjadi kian rumit dan perjalanan pun semakin berat. Apa yang menjadi tujuan itu pun semakin tidak jelas karena hanya merupakan ambisi semata.

Sama halnya dengan kepada bangsa dan Negara. Kita merasa sangat mencintai dan telah banyak memberikan sehingga berhak untuk menuntutnya. Jika pun bercermin pada yang lain, yang telah memberikan lebih banyak, selalu saja ada alasan dan bukti untuk dijadikan pembenaran diri. Sadar penuh bahwa ibu pertiwi terus menangis dan kian terpuruk pun, tidak kemudian mengubah diri untuk mau mengubah diri. Menjadi yang terbaik dan terus memberikan yang terbaik.

Rasa syukur atas apa yang telah diterima, seperti yang terus diungkapkan, tetap tidak bisa membuat diri bisa menerima dengan segala ketulusan. Kekurangan dan kesalahan selalu saja yang berada di atas permukaan dan apa yang menjadi kelebihan serta kebenaran itu pun kian ditenggelamkan. Bahagia yang ada hanyalah bila sudah mendapatkan apa yang diinginkan diri, bukan untuk bersama.

Mengantarkan kepergian cinta untuk selamanya hilang dan pergi menjadi ketakutan yang mencekam diri karena tiada adanya keyakinan dan rasa percaya. Tuhan pun bahkan dipertanyakan meski diakui diyakini. Padahal, semua sadar penuh bahwa Dia,  bangsa dan Negara ini akan terus hilang dan pergi karena segala kesalahan diri. Tunjuk jari dan tuding menuding pun terus saja terjadi.

Mari kita sama-sama melihat dan merasakan bagaimana keindahan itu bisa benar ada bila cinta dan rindu itu benar ada dan ada selalu. Peluk dan dekap eratlah cinta dan rindu yang ada itu dan satukan diri. Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta, cinta bisa mengalahkan segalanya. Bersama kekasih, semuanya adalah keindahan.

“Cinta kita adalah untuk semua.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

21 September 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ketika Cinta dan Rindu Itu Ada

  1. taufikul says:

    Hola tante ML, lagi menikmati tulisannya neh, lama gag lihat di kompasiana ….

  2. Djal GM says:

    Manstap sesuai dengan tema hidupku kini yg rindu akan kekasih di sebrang sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s