Di Manakah Cinta?! Sudah Dipolitisir Juga?!

Terpukul sekali dengan berita tentang bom yang terjadi di sebuah rumah ibadah di daerah Solo. Ingin rasanya bertanya kepada para pelaku dan juga yang menjadi biang keladinya, kenapa agama cinta bisa berubah menjadi kekerasan?! Pahala dan surga pun diperjualbelikan sehingga agama terus dipolitisir dan dijadikan bahan permainan di dalamnya. Tidakkah ada rasa cinta sedikit pun kepada semua selain hanya untuk diri sendiri dan kelompok saja?!

Sudah bukan kisah dan cerita baru di dalam sejarah peradaban manusia bila simbol-simbol keagamaan, baik berupa manusia maupun simbol dalam bentuk gambar, bendera, dan benda-benda lain yang bersifat fisik dan nyata, lebih dipercaya dan diyakini bahkan di-Tuhan-kan oleh manusia. Tuhan sendiri yang diakui diyakini dan dipercaya kalah dengan semua simbol itu. Untuk berbincang dengannya pun tidak percaya diri, harus melewati simbol-simbol itu dulu. Tak heran bila kemudian semua ini menjadi alat dan sarana di dalam politik. Sangat mudah untuk menghancurkan dan memecah belah sebuah wilayah dengan menggunakan agama dan terbukti.

Yang membuat saya tak habis pikir adalah mengapa tidak juga mau belajar dari sejarah dan masa lalu?! Manusia tidak akan pernah berkembang dan menjadi lebih baik bila tidak juga mau membuka hatinya dan merendahkan dirinya dengan belajar dari semua yang ada. Mengapa selalu fisik dan materi yang dinomorsatukan?! Bukankah di dalam semua ajaran agama, hati adalah yang utama. Apakah karena Tuhan tidak nyata sehingga tidak bisa dibuktikan?! Mengapa harus selalu beralasan untuk bisa meyakininya?!

Lihatlah bagaimana kemunafikan itu merajalela bila segala sesuatunya hanya bersifat fisik dan materi. Yang ditutupi pun hanyalah penampilan semata dan nilai yang dikejar hanyalah dari manusia. Isi kepala dan hati tidak juga dikerudungi dan ditutupi. Hati pun tidak diperpanjang dan diperluas. Jubah yang digunakan bukanlah untuk cinta tetapi hanyalah untuk menutupi apa yang sebenarnya dan sesungguhnya dengan menggunakan cinta sebagai alasan.

Rasanya sudah adil bila sudah memberikan hukuman terhadap manusia lainnya meski dengan cara yang tidak diperkenankan oleh-Nya. Mana pernah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan kekerasan?! Bila pun alasannya untuk membela Dia, untuk apa?! Yakinkah bahwa Dia adalah Sang Maha yang memiliki kekuatan jauh melebihi manusia?! Bukankah kita yang seharusnya dibela oleh-Nya?! Apakah Dia tidak sanggup untuk membela Dia sendiri?! Jangan anggap remeh kebesaran-Nya, dong!

Manusia asyik saja terus menghukum manusia lainnya dan merendahkan Dia dengan segala alasan dan pembenarannya. Merasa sudah memiliki surga dan bisa menentukan siapa yang berhak masuk ke sana dan siapa yang tidak. Merasa sudah lebih bermoral dan beretika dibandingkan yang lainnya, tetapi sanggupkah untuk bercermin dan mengakui apa dan siapa diri?! Kesombongan dan rasa tinggi hati tentunya akan selalu memiliki alasan dan pembuktian untuk bisa membenarkan segalanya.

Ayat-ayat yang suci itu hanya dibaca oleh mata, didengar oleh telinga, diucapkan oleh mulut, dan dihafalkan oleh kepala. Arti dan makna sesungguhnya dilupakan begitu saja. Kisah pelajaran dari Rasul dan para Nabi pun hanya diambil yang memang menguntungkan diri sendiri dan kelompok saja, bukan untuk semua. Yang diikuti bukanlah apa yang menjadi makna dan arti sebenarnya, tetapi kembali hanya soal fisik dan materi semata. Apakah karena tidak tahu atau tidak mau tahu?! Bukankah di dalam setiap tuntunan yang diajarkan, mata hati adalah yang utama untuk digunakan?!

Manusia lainnya bisa dihukum dan dimaki serta dicerca habis-habisan karena dianggap sudah melakukan perbuatan amoral, bagaimana dengan diri sendiri?! Siapa yang berani mengaku berterus terang memang sudah banyak melakukan kesalahan dan tidak lebih baik dari mereka yang telah dihukum tersebut?!

Saya teringat saja dengan seorang yang mengaku “pemimpin” bersih, bermoral, dan bermartabat. Merasa sudah bisa membawa rakyat yang dipimpinya kepada kehidupan yang juga jauh dari maksiat dan perbuatan tak bermoral dengan membuat berbagai aturan dengan menggunakan dalil-dalil agama dan kebenaran. Aturan dan hukuman pun dibuat seolah memang benar sudah sesuai dengan kaidah dan aturan serta hukum agama. Penampilan fisik pun diwajibkan dan diharuskan, semua harus menjadi “baik”. Benar-benar sudah tahu persis apa yang Tuhan inginkan dan benar-benar menjalaninya. Apa benar demikian?!

Pada fakta dan kenyataannya, diakui tidak diakui, dia sudah memperkosa istri sendiri dengan sadis dan kejam. Menuduh orang lain yang dicemburuinya tanpa alasan yang jelas dan tanpa bukti. Menghukumnya dan menjatuhkannya. Berapa banyak sudah nyawa yang hilang hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi?! Uang yang menjadi hak orang banyak pun tak segan untuk dirampok dan dipergunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kehidupan mereka semua yang dipimpinnya itu pun kian sulit dan menderita.

Rasa bersalah itu pun tak ada. Agama telah dijual dan diperdagangkan untuk kepentingan politiknya.  Memutarbalikkan fakta dan kenyataan yang ada sehingga semuanya semakin terjerumus dan terperosok. Masih pula terus menyuruh yang lain yang percaya dan yakin padanya untuk menuruti semua perintahnya, sementara diri terus saja tampil dan bergaya bak seorang pahlawan yang menguasai bumi, langit, dan lautan. Terbang ke sana ke mari dengan dada terbusung hanya untuk mempertontonkan kehebatan diri dan kekuasaan.

Entahlah, saya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saya tak sanggup dan tak berhak untuk menilai. Saya hanya bertanya,ada apa di balik sana?! Mengapa tidak juga mau disadari dan diakui?! JIka terus demikian, kapan mau berubah menjadi lebih baik?!

Saya tidak menentang hak pribadi seseorang untuk memilih jalan apapun yang ditempuh tetapi hendaknya apa yang dipilih itu mampu juga untuk dipertanggungjawabkan. Jangan lempar batu lalu sembunyi tangan, jangan juga selalu ada udang di balik batu. Apakah tidak memiliki hati sama sekali dan tidak memiliki rasa malu?! Bukan kepada manusia tetapi kepada-Nya. Pikirkanlah baik-baik, sanggupkah untuk mempertanggungjawabkan semua itu?! Cepat atau lambat, masa dan waktunya akan tiba.

Apa, sih, yang dikejar di dalam kehidupan ini?! Materi?!! Fisik?! Memangnya kalau kita “kembali pulang” nanti, ada yang dibawa?! Apakah nilai-nilai yang diberikan oleh manusia itu akan mempengaruhi Dia?! Lagi pula, bukankah yang kita inginkan adalah kebahagiaan yang senantiasa abadi?! Sudah di dunia sekarang ini belum tentu juga merupakan susah dan derita yang abadi, siapa yang tahu?! Begitu juga dengan segala kesenangan di dunia ini, semuanya hanyalah semu. Kita akan kembali ke sana dengan polos dan telanjang, kok! Dia Maha Tahu dan mana mungkin kita semua bisa berdusta di hadapan-Nya?! Mau ditutupi seperti apapun juga tidak akan pernah bisa membuat Dia tertipu!

Menurut saya, percuma saja bicara tentang cinta dan ketulusan bila masih berhitung soal pahala dan surga. Rasanya tidak ada ketulusan di sana. Jika memang mau memberi, ya memberi saja, tidak perlu harus berharap ataupun meminta pengembaliannya. Tidak ada istilah “take and give” atau “give and take” dalam kamus hidup saya. Cinta adalah “give and giving”. Jika memang mau diberi, silahkan, tidak pun tidak apa-apa karena saya percaya dan yakin bahwa apapun yang terjadi adalah selalu yang terbaik yang diberikan oleh-Nya. Yang penting adalah saya berusaha untuk bisa terus memberikan yang terbaik semampu saya. Diterima syukur, tidak pun tak mengapa juga.

Apa dan siapakah diri ini?! Tidak ada apa-apanya dan tidak memiliki apapun juga. Banyak sekali kesalahan yang sudah saya lakukan dan saya tidak pernah pantas untuk meminta apalagi menuntut. Tidak bisa saya memaksakan yang lain untuk juga mau mengerti ataupun memberikan apa yang saya inginkan. Semua yang saya terima adalah dari-Nya, bukan dari manusia. Semua yang sudah diterima dan diberikan bukanlah untuk saya tetapi untuk diberikan lagi kepada semua. Malulah hati ini bila tidak berusaha sekeras mungkin untuk bisa memberikan lebih banyak lagi. Masa sudah diberikan sebegitu banyak masih juga tidak bisa?! Untuk apa menjadi manusia?! Bukankah Dia sudah membuat manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna?!

Yah, tulisan ini sekedar tulisan yang keluar dari dalam hati. Saya sedang mencari di manakah cinta itu berada?! Mengapa bisa hilang dan lenyap begitu saja padahal Dia adalah cinta yang sejatinya. Mengapa kita tidak bisa juga menghormati dan menghargai-Nya?! Mengapa kita bisa berpikir dan merasa lebih dari-Nya?! Apakah benar cinta itu sudah hilang dan benar-benar hilang?!

Yuk, mari kita berpikir kembali tentang semua ini. Tidak ada yang tidak mungkin bila cinta itu benar ada. Semua demi kita semua, masa depan, dan kehidupan yang lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

26 September 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s