Kisah Seorang Anak Manusia

Illustrasi: vimeo.com

Bukan yang sedang dilanda cinta namun sedang kehilangan rasa. Mencoba menghentikan apa yang menjadi mimpi, harapan, dan keinginannya untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Cinta dan kasih sayang orang tua terhadap darah dagingnya sendiri.

Seorang perempuan mendesah dalam panjang. Mencoba melepaskan diri dan berlari dengan kencang. Meninggalkan dan melupakan semua yang pernah ada. Memulai kehidupan yang baru. Menjadi dirinya sendiri.

Selama ini, hidupnya penuh dengan kesalahan dan rasa bersalah. Salah karena memang tidak pernah bisa untuk tidak disalahkan. Semuanya yang dilakukannya tidaklah pernah benar. Segala usaha dan jerih payah pun menjadi salah. Untuk apa benar bila selalu salah?!

Manusia memang tidak pernah luput dari kesalahan. Merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan seharusnya membuatnya sadar. Namun kenapa justru semakin membuatnya bersalah?! Melakukan kesalahan lebih banyak lagi. Rasa bersalah pun semakin besar. Apakah memang tidak pernah benar?!

Terlahir ke dunia pun sudah menjadi sebuah kesalahan. Diakui ataupun dipungkiri tetap sama saja. Sama-sama salah. Diakui menjadi salah karena tidak mungkin dihindari. Dipungkiri pun menjadi salah karena bukan yang sebenarnya. Penolakan atas keduanya menjadikan yang terlahir pun bersalah. Sadar atau tidak disadari atau pun tidak mau menyadarinya.

Dunia ini berputar. Semua tidak pernah ada yang fana di dunia ini. Senang menjadi tanggung jawab. Susah menjadi beban. Sukses pun bernilai angka. Proses dan perjalanan hanyalah sebuah kesalahan. Salah karena mencoba menjadi diri sendiri. Berbeda nilai dan arti bila semuanya dituruti dan diikuti. Apa yang benar adalah yang diharuskan dan diwajibkan. Di manakah cinta yang sesungguhnya?!

Dalam hidupnya, tidak ada yang paling diinginkannya, selain cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Usapan dan belaian adalah selalu yang didambakannya. Dekapan dan kecupan adalah yang selalu dimimpikannya. Bukan dari yang lain selain dari yang membuatnya terlahir dan berada di dunia ini. Kenapa tidak ada cinta untuknya?!

Menangis pun tidak ada tangan yang mengusap. Mengadu pun tidak ada tempat. Meratap pun siapa yang mau mendengar?! Pernahkah ada keinginan untuk mencoba mendengar?! Pernahkah ada keinginan untuk bertanya?! Bukan untuk memuaskan telinga dan juga mata ataupun hati, tetapi untuk memang mendengar, melihat, dan merasakan yang sesungguhnya.

Berbeda karena dibuat dan diperlakukan berbeda. Tertutup kemewahan dan segala kemanjaan. Yang sesungguhnya kemudian menjadi sebuah kewajiban. Mengembalikan semua yang telah diberikan itu kepada yang pernah memberikannya. Apakah kemudian, ini bisa dikatakan cinta?! Cinta untuk siapa?! Cinta untuk apa?!

Kegagalan menjadi kesalahan yang sangat besar. Kegagalan di mata siapa?! Kegagalan atas mimpi dan harapan siapa?! Siapa yang gagal dan siapa yang harus dipersalahkan atas semua kegagalan ini?! Apakah tidak mungkin seorang anak memiliki mimpi dan harapannya sendiri meskipun dengan dan untuk alasan kebaikan dan kebahagiaan?! Kebahagian siapa?! Anak atau yang merasa memilikinya?!

Kebenaran diselubungi segala pembenaran. Siapa yang bersalah, siapa yang disalahkan?! Meminta yang benar adalah salah. Menjawab yang benar adalah kesalahan. Kenapa takut akan kebenaran?! Sampai kapan semua ini harus diingkari?! Bukankah kebahagiaan yang dicari?! Susah karena takut akan kebenaran sangatlah menyiksa diri.

Kejujuran terhadap diri sendiri pun tak kuasa untuk diungkapkan. Takut atas siapa diri yang sebenarnya. Tidak mau juga mengakui semua yang pernah dilakukan. Mengingkari apa yang pernah diucapkan. Segala alasan dijadikan pembenaran. Kesombongan atas darah dan harkat serta martabat adalah yang menjadi prioritas utama. Lupa bahwa yang menjadikan itu semua bernilai adalah kejujuran.

Untuk apa bicara tentang segala kebenaran dan kebajikan?! Untuk apa dilihat baik, pintar, dan benar?! Untuk apa menjadi yang dihormati dan dihargai?! Apakah hanya untuk nilai dan penilaian manusia?! Bagaimana dengan tanggung jawab atas ucapan dan perbuatan?! Bagaimana dengan keserhanaan yang selama ini menjadi umbar?! Bagaimana juga dengan menilai?! Bisakah memberi nilai yang tidak dibandingkan diri sendiri?! Sebegitu mudahnyakah menilai?! Siapakah diri yang sebenarnya?!

Cinta dan kasih sayang adalah tak terbatas oleh nilai dan kewajiban. Cinta dan kasih sayang pun hanya untuk memberi tanpa keharusan untuk diberi. Cinta dan kasih sayang bukan juga untuk diperlihatkan dan dipertontonkan. Cinta dan kasih sayang adalah membebaskan dari segala keinginan. Memberikan segala cinta dan kasih sayang untuk menjadikan diri yang dicintai menjadi diri sendiri. Cinta dan kasih sayang adalah rasa dari lubuk hati yang terdalam. Kejujuran atas cinta dan kasih sayang hanya nurani yang bisa bicara.

Rasa bersalah dan ketakutan untuk selalu disalahkan menjadikannya diam dan tak bergerak. Pergi dan tak mau melihat bukan berarti tidak peduli. Melepaskan semuanya bukan berarti tidak cinta dan juga tidak sayang. Membebaskan semua yang selama ini diinginkan, dimimpikan, dan diharapkan. Memberikan ketenangan kepada semua yang merasa menjadi beban dan terbebankan. Salah tetap menjadi salah. Benar pun tidak pernah menjadi benar.

Biarlah hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang memberikan nilai atas semua yang dilakukan. Hanya Dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Dia juga yang paling tahu apa isi hati yang sebenarnya. Semoga saja Dia memberikan kesempatan kepada semua untuk bisa merasakan dan mengerti serta memahami arti cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.

Semoga Tuhan mengampuni kita semua dan selalu memberikan kebahagiaan untuk kita semua yang sangat dicintai-Nya. Amin.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

30 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s