Pernikahan Rahasia Nan Sakral

Illustrasi: becomingfree.com

Sebuah romantisme tentang pernikahan yang ada di dalam bayang dan mimpi. Hanya di antara berdua dan dilakukan dengan sepenuh cinta. Tak perlu memakai gaun dan pakaian yang indah. Tak ada bunga-bunga, jamuan, dan para tamu atau undangan. Di bawah sinar bulan di hadapan Sang Maha Kuasa dan hanya dengan seijin-Nya. Mungkinkah bisa dipisahkan?!

Terkadang saya bertanya di dalam hati, sebenarnya untuk apa pernikahan itu dilakukan di hadapan manusia dengan segala kemewahannya?! Apalagi jika semua itu memberatkan pengantin dan keluarga yang dengan terpaksa harus menjual segala macam, mencari pinjaman, dan melakukan apa saja hanya untuk melakukan semua itu. Apalah artinya kesakralan yang seharusnya menjadi inti utama dari pernikahan itu sendiri?!

Setiap orang memiliki mimpi tentang pernikahan, dan biasanya tak jauh dari bagaimana prosesi pernikahan itu berlangsung. Menjadi raja dan ratu sehari dianggap sebagai sesuatu yang penting dan menjadi harga diri serta gengsi baik bagi pengantinnya maupun keluarganya. Berlomba-lombalah kemeriahan dan kemegahan pernikahan itu dilangsungkan. Apakah semua itu bisa menjamin kelanggengan hubungan sebuah pernikahan?!

Begitu juga dengan segala surat dan pengesahan yang ada. Bila tujuannya untuk kepentingan Negara, tentunya ini merupakan sebuah kewajiban yang sepatutnya ditaati oleh semua. Namun, bila tujuannya hanya untuk mendapat pengesahan agar terhindar dari perbuatan tercela, sama sekali belum bisa diterima oleh akal dan hati saya. Pernikahan seharusnya suci dan tidak ada dusta selain ketulusan di dalamnya.

Menikah di tanah suci dan di mesjid yang dipuja dianggap menjadi sebuah kesakralan yang akan mendatangkan berkah bagi pasangan pengantin. Bagi saya, semua ini menjadi sebuah mitos dan persepsi yang menghinakan Dia. Mengapa tempat dan gedung yang meskipun dianggap suci itu dipuja dan didewakan?! Bukankah semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan restu dari-Nya? Apakah bila dilakukan di tempat lain yang bahkan “tidak suci” sekalipun, maka Dia tidak akan merestuinya?! Bukankah di dalam ajaran, kita semua dilarang menduakan Dia?!

Belajar dari kegagalan pernikahan saya sendiri, harus diakui bahwa dusta telah membuat segalanya menjadi tidak baik dan buruk. Bahagia yang diharapkan tidaklah pernah bisa didapatkan. Penyesalan demi penyesalan terus ada di dalam hati. Meskipun semua itu barangkali sebenarnya tak menjadi masalah di mata manusia lainnya, tetapi di dalam hati, sulit sekali untuk mengingkarinya.

Pernikahan saya yang pertama pun berlangsung dengan sangat meriah. Pesta kebun yang meskipun diadakan di rumah sendiri, sangatlah meriah. Hiasan dan dekorasi yang sederhana tetapi cantik dan sangat alami, begitu memikat hati semua. Demikian juga dengan bunga-bunga serta jamuan tradisional yang dihadirkan. Semua sangat menikmatinya dan bahkan banyak tamu yang tak ingin pulang. Hiasan pun habis diambil dan dijadikan souvenir untuk para tamu yang memang menyukainya. Namun, pernikahan itu tak bisa bertahan lama.

Pernikahan saya yang kedua berlangsung dengan sangat sederhana. Kami menikah di sebuah mesjid kecil yang hanya dihadiri oleh keluarga. Saya sebetulnya pada saat itu sama sekali tidak siap, dan saya terus menangis sepanjang prosesi. Saya melakukannya karena tidak ingin mengecewakan pasangan saya dan keluarga yang telah mempersiapkan semuanya. Bukan berarti saya tidak mencintai pasangan saya, tetapi saya memang waktu itu belum ingin menikah lagi.

Dan benar saja, meskipun berusaha keras untuk bisa mempertahankan semuanya, apa yang sudah dapat diduga itu pun terjadi. Saya pun kembali harus menghadapi kenyataan bahwa saya tidak bisa mempertahankannya. Saya tidak ingin menyakiti dia dan diri saya sendiri. Saya ingin berpisah darinya karena itu lebih baik daripada mempertahankan namun hanya saling menyiksa diri.

Mungkin bagi sebagian orang, malu menceritakan semua ini. Tak sedikit juga yang melarang saya menceritakannya karena ini merupakan aib yang bisa memberikan dampak negatif, apalagi bila mengingat profesi saya. Saya justru melakukannya karena saya tidak ingin berdusta. Biarlah semua menilai apapun juga. Saya ingin semua belajar dari kesalahan yang sudah saya lakukan agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan saya. Hanya dengan kejujuranlah maka damai dan kemerdekaan itu ada. Itu menjadi sebuah prinsip yang saya pegang.

Saya memang tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan segala kemewahan yang ada. Saya selalu bermimpi memiliki pernikahan yang sangat rahasia dan tidak perlu dilakukan di tempat yang mewah. Hutan di atas gunung, di tepian sungai, atau di pinggir pantai yang sepi selalu menjadi mimpi. Tidak perlu memakai pakaian yang indah, karena segala sesuatunya selalu menjadi tampak indah di tengah alam dan di bawah sinar bulan. Tidak ada keluarga yang mengikat dan menentukan meski yang telah menghantarkan diri menjadi ada. Tidak perlu juga ada cincin dan berbagai atribut lainnya, yang dibutuhkan hanyalah hati yang dipenuhi cinta dengan segala ketulusan hati dan kejujuran. Alam semesta menjadi saksi atas janji yang tak perlu juga harus diucapkan. Cukup dikatakan di dalam hati di hadapan Dia. Ah, indahnya!

Barangkali, ini semua menjadi mimpi karena saya prihatin sekali dengan bagaimana pernikahan itu tiada lagi kesakralannya. Sedih sekali rasanya hati bila melihat banyak yang ingin menikah tetapi sulit karena tak memiliki dana yang cukup untuk membuat pesta dan segala upacaranya. Sangat prihatin bila melihat bagaimana uang dihamburkan begitu saja sementara masih banyak orang miskin yang membutuhkannya. Memberi makan mereka yang berkecukupan, tetapi melupakan mereka yang susah. Apalagi bila yang diharapkan adalah hadiah dan doa dari para tamu serta undangan, padahal semua itu tak perlu diharapkan ataupun diminta. Mereka diundang sebagai tamu, dan seharusnya mereka dijamu dan dilayani sebagai tamu yang dihormati. Doa itu pun akan datang dengan sendirinya bila memang mereka mau melakukannya. Untuk apa doa diberikan bila tidak dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan ketulusan?!

Saya juga sedih bila melihat banyak pasangan yang sebenarnya saling mencintai kemudian harus berpisah karena tidak bisa menikah dengan alasan beda “keyakinan”. Apakah keyakinan itu sama dengan agama?! Bagaimana bila yang diyakini itu adalah Dia?! Lalu, apakah Dia juga memang membatasi manusia untuk hanya boleh mencintai mereka yang satu agama saja?! Apakah menjadi dosa bila mencintai mereka yang memiliki keyakinan atau agama yang berbeda?! Apakah lebih baik berdusta dan menikah dengan mereka yang dianggap “berkeyakinan” dan beragama yang sama daripada menjadi jujur dan menikah dengan orang yang benar dicintai?!

Mungkin juga, saya saja yang memang tidak mampu untuk menerima fakta dan kenyataan yang ada. Apa yang menjadi jamak dan lumrah itu, selalu saja tidak bisa saya terima begitu saja. Logis dan rasional pun bagi saya tidaklah menjadi logis dan rasional bila hanya mengandalkan logika akal semata. Manusia memiliki logika hati yang merupakan anugerah, yang menjadikan manusia itu manusia. Kenapa tidak digunakan secara seimbang?!

Semua adalah pilihan dan tidak ada yang berhak untuk memaksa ataupun memaksakan kehendak. Menjadi sama dengan yang lain ataupun berbeda, tidak ada yang patut untuk disalahkan. Apapun yang dipilih tentunya merupakan hak pribadi masing-masing karena diri sendiri juga yang harus menghadapi segala resiko dan konsekuensinya. Yang terpenting, kebahagiaan dalam cinta itu benar ada dan senantiasa abadi.

Pernikahan sangatlah sakral dan janji yang diucapkan itu merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Dia. Apa yang telah disatukan oleh-Nya dan dengan seijin-Nya tentunya tidak akan mudah untuk dipisahkan begitu saja selain karena-Nya juga. Di hadapan Dia, tidak ada kemewahan dan juga segala prosesi ataupun nilai-nilai yang dibuat oleh manusia. Restu dari-Nya lebih dari segala yang bisa diberikan oleh manusia.

Yah, mimpi itu terlalu indah bagi saya untuk dihilangkan begitu saja. Meskipun tidak akan pernah bisa terjadi, tetapi mimpi itu akan selalu hidup di dalam diri saya. Pernikahan itu sangat sakral dan janji yang diucapkan itu merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Dia. Saya tidak berharap semua ini bisa dimengerti dan dipahami oleh yang lain. Semua ini adalah saya, biarlah saya menjadi apa adanya saya.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

29 September 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pernikahan Rahasia Nan Sakral

  1. Aldo Lemos says:

    luar biasa!!!kerennnn!saya suka ini!nyata!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s