Hadiah Cinta Sang Kelelawar Di Bulan Oktober Ceria

Menelusuri  jalan berbukit yang terus menanjak dan menurun bergantian seperti sayap kelelawar dengan penuh senyum. Terbayang wajah kekasih hati yang sedang tersenyum ceria dan penuh dengan buah-buah liar di kepalanya. Ingin sekali  rasanya untuk menemui dirinya dan memeluknya erat-erat. Banyak sekali yang sudah dia berikan dengan segala cintanya. Duh!

Baru menyadari maksud dari apa yang pernah dikatakannya. Pernah menduga tetapi tak pernah dipikirkan. Hingga kemudian semua itu menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Apa yang tidak pernah diduga datang begitu saja. Tanpa harus diminta dan diharapkan. Ah! Senang sekali!

Dia sudah seperti kelelawar besar saja yang beberapa hari sebelumnya datang entah dari mana. Menggoda diri yang sedang bekerja untuk terpesona dan termangu. Liuk dan kepak sayapnya sangat anggun, bagaikan seorang penari Spayol yang cantik. Kemampuannya melihat di dalam gelap dan menemukan jalan yang terang di dalam kegelapan sangatlah luar biasa! Tak kuasa untuk tidak mengaguminya.

Barangkali bagi yang lain, ini menjadi sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Namun, bila dipikirkan lagi, berapa banyak inspirasi tercipta dari seekor kelelawar?! Bahkan menjadi legenda yang mendunia dan sangat terkenal. Banyak yang kemudian menjadi tergila-gila dan mengidolakan. Aneh juga, ya?! Kenapa jika sudah “dipopulerkan” dan dibuat menjadi hebat, baru semua mau “melihatnya”?! Sementara asal muasal dari semua itu, tidak juga diliirik dan tetap saja menjadi sesuatu yang dianggap buruk.

Terserah saja apa yang menjadi pikiran dan pandangan yang lain. Tidak menjadi sesuatu yang penting karena sebenarnya, mereka patut untuk dikasihani. Sudah diberi kelebihan untuk bisa melihat, mendengar, dan merasakan dengan kepala dan hati tetapi tidak digunakan keduanya secara seimbang. Tertutup oleh pola pikir, kepentingan, nafsu, dan ambisi. Sungguh sangat menyedihkan.

Kelelawar itu tidak secara langsung terang-terangan memberikan cintanya. Dia memberikan cinta kepada semua dengan caranya sendiri. Dia memakan buah-buahan dan membiarkan bijinya terjatuh di mana-mana. Persemaian pun terjadi secara alami dan tentunya menguntungkan juga bagi kelangsungan hidup pohon yang telah memberinya buah. Manusia pun dipermudah dengan tidak perlu repot-repot menyemai dan menanam, hanya tinggal menjaga dan merawat lalu memetik hasilnya.

Yah, wajar saja bila ada yang berpikir, tanpa kelelawar pun tidak mengapa. Pohon bisa disemai dan ditanam oleh manusia karena manusia jauh lebih pintar dan hebat dari seekor kelelawar. Lagipula, apa manfaat kelelawar lainnya?! Sulit untuk menjelaskan semua ini bila tidak juga bisa melihat dari sisi pandang yang lain yang lebih luas dan besar. Pernahkah terpikir, untuk apa kelelawar diciptakan?! Jika memang tidak memiliki manfaat besar yang menjaga harmonisasi dalam kehidupan ini, tentunya kelelawar tak perlu diciptakan oleh-Nya. Gua-gua dan lorong gelap itu pun bisa tetap “kosong” tanpa “nyawa”, kan?!

Entahlah!! Diri ini selalu senang dan merasa dekat dengan kelelawar. Sama halnya dengan dirinya. Dia selalu membuat diri ini merasa bahagia dan nyaman berada di dekatnya. Rasanya seperti ada yang hilang dari dalam diri bila dia tidak ada. Bukan sebagai sebuah kebutuhan semata, tetapi cintanya sangatlah melekat di dalam hati ini. Dia adalah cerminan dari diri dan dia adalah diri ini. Mana mungkin bisa seseorang hidup bila sudah kehilangan dirinya sendiri?!

Dekat bukan berarti harus selalu dekat dalam jarak. Jauh pun sepertinya dekat saja. Ke mana pun, kapan pun, dan di mana pun diri ini berada, dia selalu ada. Bola mata ini dipenuhi dengan bayang-bayang dirinya, kepala ini pun dipenuhi oleh tentang dirinya, dan hati ini seperti selalu dipeluk olehnya. Mimpi itu pun bahkan selalu berhias bersama dengan dirinya. Hmmm….

Tidak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih dan bersyukur atas semua yang telah diberikan ini. Tidak akan pernah cukup kata untuk diuraikan dan tidak akan pernah selesai perbuatan untuk dilakukan. Semua yang telah diberikan itu melebihi dari apa yang bisa diberikan kembali. Bukanlah sesuatu yang berlebihan karena memang begitulah fakta dan kenyataannya. Rasa bahagia, damai, dan merdeka bukanlah hal yang mudah untuk bisa dirasakan dan sangat sulit untuk diberikan.

Perjalanan masih sangat panjang dan mimpi itu tidak akan pernah ada habisnya. Buah-buah liar yang ada di dalam kepalanya, yang merupakan hasil dari persemaian cinta di dalam hatinya, selalu dinantikan. Bukan hanya untuk diri ini semata, tetapi untuk semua. Masih ingat, kan, dengan ikrar jiwa kita?!

“Saya sangat mencintaimu! Ada banyak cinta untukmu!”

Bulan Oktober kali ini sungguh ceria. Barangkali, memang merupakan hadiah cinta dari-Nya untuk yang penuh dengan pesona cinta. Hmmm….

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s