Manusia Tak Berkemaluan

Hanya memiliki selangkangan yang berisi seonggok daging di belahan paha. Darah di dalam daging yang mengisi pun tak lebih dari makanan dan minuman. Bergairah namun tak memiliki kemampuan mengedarai. Berdiri namun tak pernah bisa hidup. Kendaraan memang benar-benar mekanis. Hormon utama pun tak bisa dikendalikan. Ke mana tujuan berkendara menjadi tak tentu arah. Berjalan maju namun tetap tak bergerak dan melaju mundur ke belakang.

Membayangkan kemaluan yang membuat malu. Malu-malu tapi mau. Kemaluan diri sendiri pun ditutup. Kemaluan yang lain dijadikan penutup. Manusia tak berkemaluan penuh dengan malu. Berpikir, berbuat, dan bertindak tanpa memiliki rasa malu. Mencari kemaluan yang lain untuk dibuat malu. Kemaluan yang tak memiliki malu sungguh sangat memalukan!!!

Bila memikirkan apa yang terjadi saat ini, pilu dan miris sekali rasanya. Pikiran sudah jenuh dan capek atas semua yang ada. Rasa di hati sudah tak karu-karuan. Pencarian atas diri yang sesungguhnya pun kian sulit. Distorsi suara dan getaran sudah sangat menyesatkan. Menghipnotis pikiran di bawah alam sadar untuk kemudian menyeret dan menjerumuskan. Menenggelamkan semua ke dasar yang paling dalam sampai tak tahu apa masih memiliki daya untuk berusaha melawan.

Manusia tak berkemaluan telah memangkas habis kemaluan yang lain tanpa malu-malu. Semakin lama semakin banyak yang tak berkemaluan. Membuat malu mereka yang berkemaluan. Memang asyik, kok, membuat malu. Tak memiliki kemaluan bukan berarti tak bisa orgasme meski hanya lewat masturbasi otak dan onani intelektual yang sebenarnya sangat memalukan. Bila sudah tak mampu, orgasmenya pun diraih dengan mempermalukan kemaluan yang lain. Memang tak memiliki kemaluan!!! Bagaimana bisa tahu malu?!

Manusia bisa saja mengaku-aku memiliki kemaluan. Bila dilihat secara kasat mata, kemaluannya memang ada, tetapi kelakuannya seperti manusia tak berkemaluan. Tidak memiliki rasa malu dan benar-benar memalukan. Niatnya mungkin membuat yang lain malu, tetapi tanpa disadari, sebenarnya dirinya sendirilah yang telah menjadikan dirinya memalukan. Berhubung mata yang terbuka itu tidak bisa melihat, makanya selalu merasa memang benar-benar memiliki kemaluan. Tanpa malu-malu mengakui kehebatan kemaluannya.

Untuk apa memiliki kemaluan bila tak memiliki rasa malu?! Kemaluan bukan untuk sebuah kenikmatan yang memalukan. Apalagi jika menjadikan kemaluan untuk dipermalukan. Urus saja dulu kemaluan sendiri agar tak memalukan. Salah-salah, malah kemaluan sendiri yang dipermalukan. Apa nggak malu, memiliki kemaluan tetapi tidak memiliki rasa malu?!

Memiliki kemaluan dan tidak memiliki kemaluan sama saja bila sama-sama tidak memiliki malu. Sama-sama penuh dusta dan ketidakjujuran serta membuat pembenaran atas semua itu dengan cara yang benar-benar membuat malu. Mungkin bagi yang tidak merasakannya tidak peduli ataupun tidak merasa karena memang tidak mengerti apa itu kemaluan, malu, dan dipermalukan bagi yang lain. Selama itu tidak menyangkut diri sendiri, tidak peduli dengan semua hal yang lain walaupun sangat memalukan. Sadar disadari, diakui tidak diakui, telah membuat malu bangsa dan negara terus-terusan dipermalukan dan dibuat malu. Saudara sebangsa dan setanah air pun tega dibuat dihancurkan tanpa pandang bulu demi harga diri dan kehormatan diri sendiri yang memang tak tahu malu.

Sudah, ah! Saya sudah mendapat teguran. Saya tidak boleh menjadi menjadi manusia tak berkemaluan ataupun manusia berkemaluan yang tak tahu malu. Apa bedanya bila saya terus saja marah dan melampiaskan kemarahan dengan tak malu-malu. Saya ingin tetap memiliki kemaluan dan tahu rasa malu. Maafkan saya bila saya telah membuat malu.

Kemaluan bukanlah inti dari semua ini. Kemaluan yang saya maksudkan bukanlah seonggok daging di belahan paha itu. Kemaluan yang saya maksudkan adalah rasa malu itu sendiri. Rasa malu terhadap apa yang telah kita perbuat dan kita lakukan, yang seringkali membuat yang lain dipermalukan. Tanpa disadari ataupun mau menyadari juga mengakui bahwa semua itu sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malu terhadap diri sendiri. Menutupinya kemudian dengan mempermalukan yang lain. Daripada dipermalukan lebih baik mempermalukan. Bukankah begitu?!

Biarpun telah mempermalukan yang lain namun sesungguhnya tetap saja tidak bisa menutup malu yang ada. Justru semakin lama malah semakin jelas dan nampak. Janganlah mengira bahwa manusia lain tak bisa melihat dan merasakannya. Masih banyak yang memiliki hati untuk melihat, mendengar, dan merasakan. Mereka yang justru tidak tampak oleh mereka yang memang tak memiliki malu. Sombong dan tinggi hati memang telah menutup semuanya. Ingatlah bahwa semua ada masa dan waktunya.

Cobalah untuk selalu memiliki rasa malu. Paling tidak malu terhadap yang telah memberikan kita semua rahmat dan anugerah terindah ini. Sudah diberikan yang terbaik tetapi tetap tidak mau memberikan yang terbaik. Malah terus sibuk dengan diri sendiri dan bahkan selalu merasa kurang dan kekurangan. Lupa bahwa semua itu bukanlah milik diri sendiri dan bila semakin banyak diberikan justru semakin tidak pernah kekurangan. Berikanlah selalu yang terbaik untuk semua.

Diri yang dipenuhi dengan cinta dan memberikan banyak cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah haus dan lapar atas segala puja dan puji juga segala penghargaan dan hormat. Rasa malu yang ada di dalam dirinya membuat mereka yang demikian selalu bersyukur dan menikmati semua yang telah diberikan. Tidak pernah menuntut, berharap, ataupun meminta, tetapi selalu memberikan. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, biarlah Dia yang menentukan semunya. Kita sebagai manusia, hendaklah menjadi manusia yang seutuhnya.

Jujur adalah kunci dari semua ini. Di dalam kejujuran ada kebahagiaan, dan kebahagiaan itulah yang sebenarnya kita inginkan. Kebahagiaan tidak datang dari membuat duka yang lain, tetapi juga dari kebahagiaan yang lainnya. Kebahagiaan itu ada pada diri sendiri. Semua ini tergantung bagaimana kita kemudian mau menjadikannya. Berdoa tanpa berusaha tidak akan menghasilkan apapun. Di dalam perjuangan selalu harus ada keringat dan air mata. Namun semua itu adalah kebahagiaan bila semua bisa mendapatkan kebahagiaan yang senantiasa.

Dengarkan sabda dengan mata dan hati. Bacalah sabda dengan mata dan hati. Di sanalah akan ditemukan apa sebenarnya semua ini. Semoga kita semua selalu mau belajar dan terus belajar. Jadilah manusia berkemaluan yang memiliki rasa malu jika ingin melangkah ke depan.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

29 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s