Mendayung Khatulistiwa

Illustrasi: muda.kompasiana.com

Cinta pertama tak terlupakan. Segala rasa yang ada tercurahkan hanya untuk dirinya seorang. Sayang kemudian terpisahkan oleh karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman serta keegoisan. Jarak pun menjadi jurang pemisah.

Namun cinta itu tidak pernah hilang terkikis oleh waktu. Masih ditunggu dan dinantikan. Biarpun sepertinya sudah tidak ada harapan, tetapi selalu ada dan ada selalu.

Kerinduan untuk bertemu dan meluapkan cinta serta kerinduan itu pun menjadi sebuah janji. Jejaka mendayung. Perawan menanti. Pertemuan di sebuah masa. Di sebuah tempat di khatulistiwa.

Jejaka: “Mungkinkah?”
Perawan: “Kenapa tidak?”
Jejaka: “Bagaimana?”
Perawan: “Bagaimana seharusnya?”
Jejaka: “Entahlah…”
Perawan: “Saya tunggu.”

Peperangan berkecamuk di dalam hati dan sanubari. Besar keinginan tidak tahu ke mana angin berhembus. Tanggung jawab menjadi batu dan duri. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Masihkah ada harapan?

Jejaka: “Aku dan kau satu.”
Laut: “Bruurrrrr……”
Jejaka: “Meski kau disana dan aku disini, kita satu.
Ombak: “Gruemmmmmmmmm….”
Jejaka: “Sekalipun kau remuk, tetap satu.”
Angin: “Ssttttttttttttt…..”
Jejaka: “Ya, tetap satu. Sampai kita satu.”
Jejaka: “Aku pergi, menjemput kekasih. Mendayung. Dengan tanganku ke batas khatulistiwa.”

Malam merangkak bersama gerak. Angin menerjang bersama gelap. Ombak menari berpegangan pasir. Gairah cinta tersangkut di batas khatulistiwa. Bertemu kekasih adalah keindahan yang tiada terkira.

Di tepian pasir dari sebuah rumah berlampu kecil sebuah alunan menemani perjalanan:

Biarkan waktu melepas pegangan
Jemari kita tetap menyatu di belahan hati
Biarkan jarak memisahkan kita
Rindu jiwa terus memeluk cinta dihati

oh… oh….oh….de…de….de…di…di…di…do..da

Ku dayung hati,
Ku simak angin
Mendayung hingga ke batas waktu
Di pelabuhan cinta
Kita bertemu

oh… oh….oh….de…de….de…di…di…di…do..da

Di atas elang malam menari mematuk lupa dan jejaka merapatkan tubuh ke selimut malam sambil meneguk anggur kerinduan yang terus mendahaga jiwa.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis & Risman A. Rachman

NB:

Tulisan ini dibuat oleh kami berdua untuk seorang sahabat yang berteman dengan malam dan tikus liar serta para kampret di malam hari… “Take it or leave it, babe!!!”

18 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s