“Betapa Enaknya Jika Ada Perpustakaan 24 Jam”

Illustrasi: flickr.com

Begitulah yang diucapkan anak saya, Marra, pada suatu malam. Dia masih berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Diungkapkan dengan penuh kepolosan karena dia merasa jenuh tidak bisa meminjam buku di perpustakaan karena perpustakaan di sekolahnya tutup selama ujian. Mungkinkah mimpinya ini bisa terwujud?!

Kondisi perpustakaan di Indonesia sangatlah mengkhawatirkan. Bukan hanya di perpustakaan umum saja tetapi perpustakaan di sekolah dan kampus-kampus pun bisa dikatakan sama sekali tidak “berisi”. Lebih banyak diisi oleh buku-buku yang sudah tidak layak lagi untuk dibaca atau sekedar bacaan hiburan. Sementara buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan dan buku-buku penting jarang sekali bisa ditemukan. Tidak mengerti mengapa perpustakaan tidak pernah diprioritaskan bahkan oleh lembaga pendidikan sekalipun. Sekolah dan kampus “berduit” dan “mahal” pun seolah tidak mempedulikannya, hanya sekedar “asal ada” saja.

Berbeda sekali dengan di luar negeri, di negara-negara yang sudah berpikiran maju soal pendidikan, di mana perpustakaan selalu diprioritaskan. Di setiap wilayah daerah selalu ada perpustakaan yang lengkap disediakan bagi warganya. Di setiap sekolah dan kampus, perpustakaan selalu menjadi sarana yang paling utama dan wajib untuk diprioritaskan. Malah tak sedikit yang buka 24 jam agar mereka yang tidak memiliki waktu banyak di siang hari, masih sempat untuk datang membaca dan meminjam buku.

Di sisi lain, saya juga bisa membayangkan bagaimana jika banyak buku-buku bagus dan penting di perpustakaan. Mental masyarakatnya sudah siapkah untuk disiplin dan “tidak mencuri” buku-buku tersebut?! Masih banyak masyarakat kita yang belum memiliki kesadaran untuk mengembalikan buku  dan bahkan tak sedikit yang sengaja mencurinya. Perpustakaan pun bukan dijadikan tempat untuk membaca tetapi dijadikan tempat untuk “ngobrol” dan “pacaran”.

Buku-buku yang paling “laku” dibaca pun bukanlah buku-buku yang bermutu, tetapi buku-buku cerita yang seadanya saja dan menjadi hiburan semata. Komik dan novel pun bukan yang berkualitas tetapi yang  sedang “trend” ataupun yang ringan-ringan saja. Untuk mau serius membaca, masih sangat sulit sekali. Jika pun ada yang membaca buku-buku baik dan berkualitas, kebanyakan hanya untuk “gaya” saja karena tidak memiliki kemampuan membaca dan bahasa yang memadai. Kita memang tidak dididik untuk bisa membaca dan berbahasa dengan baik dan benar, terutama generasi muda setelah era reformasi. Pendidikan yang seharusnya semakin membaik justru semakin hancur saja.

Oleh karena itulah, saya jarang sekali mau mendukung gerakan menyumbang buku bekas. Bukannya saya tidak setuju, tetapi saya harus memilah terlebih dahulu. Buku-buku yang disumbangkan begitu saja tanpa ada yang mengajarkan bagaimana membaca dengan baik dan benar, maka tidak akan terlalu memberikan arti. Apalagi bila buku yang disumbangkan itu sudah tidak layak untuk dibaca dan disimpan. Lebih baik mengajarkan mereka untuk menulis agar bisa membaca dan menulis dengan baik sekaligus bisa membuat bahan bacaan bagi mereka sendiri. Ini pendapat saya pribadi, bukan dengan maksud mengecilkan, ya! Saya termasuk orang yang memiliki prinsip bahwa di dalam berpikir dan bertindak haruslah benar, bukan hanya sekedar baik saja.

Teringat dengan dua mahasiswi muda yang kuliah di jurusan sastra yang mencari buku novel di sebuah lapak toko buku bekas. Kebetulan saya sedang di sana, dan mereka mencari buku untuk dijadikan bahan bacaan dan ulasan sebagai bagian dari tugas kuliah mereka. Yang dicari bukannya buku novel yang bermutu tetapi “yang tipis”. Alasan mereka pun mudah saja, “Malas bacanya kalau tebal dan rumit!”. Membuat saya dan penjual buku terperangah setengah tidak percaya. Untuk apa kuliah di jurusan sastra, ya?!

Pemilik lapak toko buku bekas itu pun tertawa dan dia bercerita bahwa memang begitulah keadaannya sekarang. Dia yang sarjana ilmu sastra pun seringkali merasa jengkel dengan perilaku “adik-adik” kelasnya. Tak jarang dia menasehati mereka dan memberikan pengarahan. Tak perlu harus membeli buku, bila ada keinginan, dia pun rela buku-buku dagangannya itu dipinjam.

Saya dan dia memang kebetulan akrab karena saya sering mampir ke tokonya untuk sekedar berdiskusi tentang apa saja, terutama tentang buku dan pemikiran. Dia masih sangat muda, dan yang paling membuat saya salut adalah cita-cita dan komitmennya di dalam menggapai cita-citanya itu. Dia tidak mau menikah hingga dia bisa membuat perpustakaan sesuai dengan mimpinya. Dia menargetkan diri, bahwa dalam waktu 15 tahun, dia harus sudah bisa mewujudkannya dan sudah 2 tahun ini dia jalani serius. Dia bahkan meminta kekasihnya untuk mengerti dan untunglah kekasihnya ini pun mengerti. Salut!!!

Jika demikian keadaan perpustakaan kita, apakah kita sebagai sebuah bangsa bisa mengakui diri sebagai bangsa yang mementingkan pendidikan, ingin lebih, pintar dan lebih maju?!  Semua anggota masyarakatnya berperan, kok, dalam hal ini bahkan yang merasa sudah pintar sekalipun. Orang pintar tentunya tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu semua, bukan justru menjadi keblinger keminter yang ujungnya membuat susah orang lain, kan?! Orang pintar juga seharusnya semakin merunduk dan haus akan ilmu, bukannya sok-sokan dan lalu berbusung dada. Sekolah, jabatan, dan uang banyak tidak menjamin seseorang memang benar pintar bila daya baca dan bahasanya pun hanya sebatas aksara semata.

Jujur saja, saya merasa malu sekali dengan pernyataan anak saya tadi. Mengapa?! Saya sebagai orang tua seharusnya mampu membuat dia untuk terus memenuhi kebutuhannya di dalam membaca, apalagi saya seorang penulis. Di rumah memang banyak buku sudah disediakan, tetapi tidak menjadi jaminan bahwa memang itu adalah buku yang ingin dibacanya. Dia memiliki minat yang berbeda dan sudah sepatutnya saya mendukung dan mendorong serta menyediakan semua yang dibutuhkan olehnya itu, bila memang positif.

Seringkali saya merasa “tidak enak” terhadapnya karena saya dulu mendapat kesempatan yang jauh lebih baik darinya. Sejak kecil saya memiliki banyak buku karena kebetulan keluarga saya semua senang buku dan ada yang berkecimpung di dalam dunia bisnis buku. Selain itu, saya bisa merasakan perpustakaan dan toko buku yang ada di luar negeri, sehingga saya bisa bebas sekali membaca buku sesuka hati. Bagaimana dengan dia?! Untuk menyiasati kebutuhan di dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, tentunya tidak mudah. Buku pun harganya bisa dibilang mahal harganya.

Hal inilah yang mendorong saya untuk terus mengajarkannya menulis. Sekecil apapun tulisannya, itu akan sangat berarti bagi masa depannya nanti. Kita tidak bisa menanti dan menunggu sambil terus berteriak dan memaki. Harus ada sesuatu yang dijalankan dan dilakukan bila memang memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan. Kita tidak pernah tahu, kan, kapan kita semua bisa memiliki perpustakaan yang lengkap dan buka 24 jam?!

Marilah kita sama-sama berusaha keras untuk bisa mewujudkan segala mimpi dan harapan itu. Jangan pernah sia-siakan waktu meski sedetik pun karena bila sudah terlewati, kita tidak akan pernah bisa kembali. Jadilah manusia yang kreatif dan mandiri, serta mampu menghargai apapun yang kita miliki dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya yakin, bila kita semua mau memperbaiki diri kita, semua mimpi dan harapan itu akan terwujud pada masa dan waktunya.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About katainstitute

lembaga tempat berkumpulnya pribadi inspiratif yang -- lewat kegiatan pendidikan, pendampingan, dan pengkajian -- ingin berkontribusi bagi terwujudnya Aceh yang bermartabat, adil, sejahtera, demokratis dan damai
This entry was posted in Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to “Betapa Enaknya Jika Ada Perpustakaan 24 Jam”

  1. Two thumbs up .. !!🙂

  2. sparkling wine says:

    Idem sm yg diatas, two thumbs up bwt Kak Ika!!

    semoga dalam waktu2 dekat bisa terwujud perpustakaan lengkap dan nyaman buat tempat baca, per wilayah (RT) di Indonesia dan buka selama 24 jam. hehehe (ngarep..)

  3. teteh damang??
    kumaha anak sehat oge??
    kangen pengen maen kesana..
    Mun 24 jam mah enak teh😀 ,rukmah bukanya rek baca da ka perpustakaan teh tapi rek nebeng internetan hahaha..
    bener pisan teteh karaos sesahna,perpustakaan di indonesia mah ngga kumplit,nyari bahan buat praktek aja susah,penerbitan taun kapan gak uptudate,untung aja ada media internet,kapan mau maju kalo gini caranyamah ?

  4. deejayhan says:

    di tunggu info lainnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s