Seks dan Politik Interpretasi Dalam Bahasa

Hermeneutika atau teori interpetasi merupakan bagian dari ilmu yang diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik, meskipun juga di dalam terapannya digunakan dalam mempelajari ilmu pengetahuan alam. Sudah bukan sebuah keanehan lagi bila kita dibuat menjadi saling curiga dan memiliki interpretasi sendiri, kan?! Membentuk sebuah komunitas dalam kelompok yang penuh dengan persepsi dan argumentasi serta perdebatan. Tenang atau tidak tenang, labil tidak labil, nyaman tidak nyaman bukan itu yang menjadi tujuan. Kesimpulan dari berbagai interpretasi inilah yang kemudian dapat diambil kesimpulan untuk meramalkan dan mengendalikan kehidupan sosial politik di masa mendatang.

Tidak mudah di dalam menerapkan teori ini, karena memang memiliki banyak sekali asumsi-asumsi yang sifatnya bisa menjadi tidak objektif. Kan, setiap orang memiliki keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Ada yang bisa cepat menangkap dan berpikir satu dua langkah ke depan, ada juga yang sibuk berkutat dengan keadaan sekarang, ada juga yang masih saja hidup di kehidupan masa yang lalu. Oleh karena itulah, biasanya dilakukan berbarengan dengan berbagai metode lainnya untuk melihat hubungan sebab dan akibatnya. Ini terjadi agar kesimpulan yang diambil bisa lebih objektif dan memiliki argumentasi yang kuat.

Di dalam hal ini, bahasa merupakan faktor yang sangat penting. Kenapa?! Bahasa sifatnya sangat abstrak. Kata bisa satu makna namun seribu interpretasi. Sangat tergantung kepada situasi dan kondisi yang saling mempengaruhi dan juga tergantung kepada dimensi sosialnya. Ada yang memang hanya bisa mengerti bila bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari dan mudah dimengerti. Ada yang bisa menangkap jelas bahasa bersayap seperti prosa dan puisi. Ada yang memang hanya bisa mengerti bila sudah diterapkan karena bila tidak lazim tidak mengerti. Meskipun ini tidak mungkin terjadi tanpa ada keterkaitan antara bahasa yang lazim digunakan, namun tetap saja terjadi. Oleh karena itulah diperlukan analisa teks dan konteks untuk memahami pesan dasar dari kata apalagi bahasa. Perlu diingat bahwa teks menjelaskan konteks dan konteks itu membantu menemukan makna dalam teks.

Tidak mudah untuk bisa memahami kata dan bahasa, apalagi bila tidak mau belajar, sehingga kemudian membuat kehidupan sosial dan politik menjadi rumit dan kompleks. Sementara untuk mengungkapkan arti dan makna dalam kehidupan politik juga jauh dari kata sederhana, karena biar bagaimanapun juga manusia memiliki interpretasi masing-masing, makanya menjadi tidak mungkin bila bahasa dalam politik bisa bebas dari “nilai”. Inilah yang kemudian dimainkan. Implikasinya sudah sangat jelas. Ide dan kepercayaan serta niat dari pelaku yang berbahasa sangat menjelaskan dimensi sosialnya karena bahasa yang digunakan merupakan gambaran atas dirinya sebagai pribadi maupun sosial. Tampak juga segala kelebihan dan keterbatasannya. Tampak juga kemampuannya pemahaman kontekstualnya. Sekarang tinggal pintar-pintarlah mereka yang memainkannya. Hehehe….

Seperti misalnya jargon “Dua Anak Cukup”. Bila kita melihatnya hanya dari sisi kesehatannya saja, maka hanya berhubungan dengan masalah Keluarga Berencana. Namun bila kita perhatikan lebih jauh, ini berhubungan erat dengan kondisi sosial politik, di mana pada saat dipublikasikan, jumlah kelahiran sangatlah tinggi. Pada saat itu memang baby booming banget dan tentunya ini memiliki implikasi sosial, ekonomi, dan politik yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi bila tidak diiringi dengan persiapan dan perencanaan yang matang untuk masa mendatang saat bayi-bayi itu tumbuh dan dewasa.

Pada saat itu, persepsi yang masih beredar dan berlaku di masyarakat luas adalah ”Banyak anak banyak rejeki”. Tidak semua tempat demikian, namun di Pulau Jawa rata-rata demikian. Sehingga kemudian menimbulkan banyak argumentasi dan perbedaan pendapat atas interpretasi bahasa yang digunakan. Ada yang menilai bahwa kalimat tersebut sebagai bentuk pemaksaan dan pemangkasan Hak Asasi Manusia. Ada juga yang berargumen bahwa itu sangat bertentangan dengan agama. Banyak juga yang bingung dan khawatir karena takut mendapatkan sangsi ataupun hukuman bila memiliki anak lebih dari dua. Tak sedikit juga yang mengangap bahwa ini adalah sebuah gerakan yang sangat mustahil dan tidak bermanfaat. Dianggap sebagai  jargon belaka yang tidak realistis dan nyata. Dari berbagai interpretasi inilah kemudian bisa dilihat dimensi sosial yang ada. Di wilayah mana yang menolak, di wilayah mana yang menerima. Lantas, langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya?!

Bandingkan dengan persepsi yang ada sekarang ini atas jargon tersebut. Berhubung sudah diimplementasikan dan sudah menjadi lazim, maka sepertinya biasa saja. Jarang sekali ada perbedaan pendapat dan argumentasi atas interpretasi yang berbeda. Iya, kan?! Makanya, buat saya, yang membuat jargon itu pastilah orang yang berpandangan modern dan maju ke depan. Sudah bisa memprediksikan apa yang akan terjadi dan tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Juga tindakan apa yang harus dilakukan, meskipun bagi sebagian ini juga ditentang karena dianggap otoriter. Namun, bagi saya, siapapun orangnya pasti sangat paham atas kondisi sosial dan politik saat itu. Sebuah pemikiran yang sangat luar biasa. Biarpun terkesan memaksa namun untuk tujuan yang baik dan demi kepentingan orang banyak, bagi saya, inilah kunci dari kehebatannya. Toh, semua itu bisa dipertanggungjawabkan. Kita yang sekarang menikmati hasilnya, baru bisa memahami maksud dan tujuannya. Memang lebih mudah mengerti dan paham bila sudah diterapkan dan dipraktekkan serta dibuktikan. Sudah tidak heran kalau ini terjadi pada program-program yang sifatnya visioner. Iya, kan?!

Saya melihat bahwa ini juga terjadi pada seks. Di mana seks kemudian menjadi sesuatu yang porno karena seringkali digunakan dalam bahasa yang porno. Ini kemudian yang menjadikan seks ditabukan dan ditutupi di Indonesia, lewat penggunaan bahasa yang dihubungkan dengan agama, moral, dan etika, serta ketimuran. Dibuat jurang pemisah antara Timur dan Barat agar masyarakat memiliki interpretasi yang berbeda atas ini semua. Sayangnya, menurut saya, biarpun ini jenius tetapi sangat tidak visioner. Sifatnya masih sangat kekinian dan terbatas pada waktu tertentu saja. Kalaupun visioner, niat dan tujuannya saya pertanyakan. Apakah ini untuk kepentingan bersama atau kepentingan tertentu?!  Soalnya, pandangan seperti ini justru membuat seks menjadi sempit dan terbatas. Terbukti sudah, kan, kalau kondisi sosial dari masalah seks sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan saat ini?! Berhubung sudah semakin kompleks juga, maka menjadi sulit untuk membenahinya dan menurut saya, harus dimulai dari awal kembali.

Pasti ini kemudian menimbulkan pertanyaan, kalau begitu apakah saya juga menerapkan politik interpretasi ini untuk urusan seks dengan menggunakan bahasa sebagai sarana?! Ini rahasia perusahaan, dong?! Silahkan mencari tahu sendiri!!! Pastinya, seks itu tak mesti porno dan seks itu adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Hehehe….

Salam,

Mariska Lubis

9 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s