Kecil Pun Bukanlah Remah, Besar Pun Belum Tentu Luar Biasa

Illustrasi: Google search

Betapa kita sering melupakan hal yang kecil dan menjadi tinggi hati. Hal-hal besar dan luar biasa menjadi jauh lebih penting dan dipentingkan, padahal apa yang besar itu belum tentu besar. Apa yang kecil itu pun belum tentu remah dan berarti. Bom atom yang besar itu pun tidak akan memiliki kekuatan bila inti terkecilnya tidak ada bukan?!

Di dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan keprihatinan seperti sekarang ini, saling tuding dan tuduh sudah biasa sekali terjadi. Tanpa disadari bahwa semua ini bisa jadi merupakan bagian dari sebuah konspirasi yang menyadari bagaimana kondisi masyarakat. Di dalam sebuah masyarakat yang mayoritas adalah “manusia penonton”, tentunya sangat mudah dilakukan penggiringan dan juga diadu domba. Meskipun banyak yang sudah berteriak soal pengalihan masalah, tetapi tetap saja sulit bila mayoritas tetap meyakini apa yang ditontonnya saja. Biarpun tidak mengerti, tapi seolah-olah benar mengerti dan tahu dengan pasti.

Tinggal diberi sedikit saja “noise” alias kegaduhan, semua pasti akan berpaling ke arah sana. Melupakan apa yang seharusnya dipikirkan. Malah kemudian semua menjadi sibuk dan asyik membahas suatu masalah yang sama dan mencoba mencari penyelesaiannya. Tetapi, bagaimana mungkin semua itu bisa dilakukan bila inti dari permasalahannya sendiri tidak dimengerti dan dipahami?! Program bisa saja dibuat  dengan baik dan sangat hebatnya, apakah benar bisa menyelesaikan masalah?! Apakah bisa benang kusut itu dibenahi dengan baik kembali bila tidak dimulai dari ujungnya?!

Satu hal kecil saja yang sering dilupakan dan tidak diperhatikan adalah bagaimana seorang pemimpin itu berpakaian. Mereka boleh mengenakan pakaian yang dibuat oleh para desainer hebat dan dengan harga yang sangat mahal untuk mendapatkan citra dan pandangan tertentu di dalam masyarakat, tetapi bila semua sama, lalu apa yang membedakan yang satu dengan yang lainnya?! Partai yang didirikan tentunya memiliki idealisme dan paham masing-masing, tetapi kenapa perilakunya semua sama?!

Begitu juga dengan tata bicara dan pemilihan kata serta bahasa. Saya sampai sekarang belum bisa mengerti mengapa jika seorang pemimpin berbahasa asing, bahkan di saat, waktu, dan tempat yang tidak seharusnya, tetap dianggap hebat?! Anehnya lagi, mereka pun merasa hebat dengan perilaku yang demikian. Tidakkah ada kesadaran bahwa bahasa adalah jati diri bangsa?! Di mana harga diri dan kualitas seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya di dalam bertutur kata, dan kehormatan selalu datang dari apa yang mampu diuraikannya lewat kata dan bahasa tersebut. Bagaimana dengan pemimpin sebuah Negara?!

Wajarlah bila bangsa dan Negara ini tidak dihargai, tidak dihormati, dan terus saja dilecehkan. Penampilan dan kemampuan berbahasanya saja masih sangat kacau balau. Sangat menunjukkan ketidakmampuan untuk bisa menempatkan diri. Banyak sekali alasan dan penyebabnya, tetapi patut dipertanyakan bila seorang pemimpin yang terpilih melakukannya. Kok, bisa ya memilih yang seperti itu?! Tidak tahu?! Bukankah semua lebih tahu, lebih pintar, dan lebih hebat?! Kenapa bisa tidak tahu?!

Seperti sebuah kritik yang diajukan oleh anak saya, Marra, yang masih duduk di kelas enam SD. Dia berkata, “Orang-orang semua sibuk marah-marah dan memaki, memangnya mereka sudah melakukan apa?! Mereka yang sudah memilih, kenapa mereka tidak juga mau mengakui  kesalahan mereka?! Sekarang, buat apa mereka marah-marah juga?! Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah mereka berikan untuk Negara ini selain marah-marah?! Sementara orang yang berbeda dan melakukan sesuatu, terus saja tidak dimengerti. Malah ikutan dimarahi dan dianggap gila. Apa enaknya sama dengan yang lain?! Kalau hanya begitu-begitu saja, sih, mudah. Apa bisa berbuat sesuatu yang lain?! Pengecutlah yang bisanya hanya marah-marah saja!”.

Tentunya kata-kata itu membuat saya sangat terkejut sekali. Saya tidak menyangka bahwa dia yang masih kecil sudah memperhatikan dan menyimak situasi dan keadaaan yang ada. Tidak seharusnya dia merasakan itu semua, dan rasanya aneh sekali bila dia sampai berpikir ke arah sana. Dia berkata, “Aku sudah muak dengan orang-orang, Mami! Bosan! Jika aku besar nanti, aku tidak mau dipimpin oleh orang-orang seperti itu. Aku tahu mami sayang aku, karena itu mami terus berjuang, ya, untukku! Mami nggak boleh seperti orang-orang lain itu!” Hmmm….

Habis kata-kata untuk membalas apa yang dikatakannya. Hanya bisa terdiam dan terpaku. Di satu sisi, semua ini menjadi cambuk bagi diri saya sendiri, di sisi lain, juga merupakan sebuah keprihatinan yang teramat sangat mendalam. Pedih sekali rasanya hati ini.

Kembali lagi ke masalah yang sering kali dianggap remeh, yaitu tentang seks. Kita semua menyadari sekali bahwa kita tidak bisa terlepas dari seks karena seks merupakan anugerah yang sangat besar, yang membuat kita bisa terus beranak pinak dan berkembang biak. Namun, seks yang hanya dijadikan sebuah objek kebutuhan kenikmatan dan kepuasan semata, telah merusak semuanya. Siapa yang tidak mengkhawatirkan masalah seks yang terjadi saat ini?! Jika demikian, mengapa seks terus saja dianggap remeh temeh dan dijadikan bahan cemooh dan tertawaan?! Apa tidak bisa berpikir positif tentang seks?! Apakah harus selalu porno dan menjerumuskan?!

Penyelesaian masalah seks dengan penutupan lokalisasi saja dianggap benar dan hebat. Apakah benar dengan menutup lokalisasi maka pelacuran tidak ada lagi?! Apakah dengan menggiring mereka “ke jalan yang benar” maka mereka tidak lagi menjadi Pekerja Seks Komersial?! Bagaimana dengan penyebaran mereka yang semakin tidak terkontrol?! Apa ada yang bisa menahan laju penyebaran penyakit kelamin seperti HIV dan AIDS bila tidak ada yang bisa mengendalikannya?! Untuk mengumpulkan data para PSK agar bisa diberikan suntikan dan obat untuk mencegahnya saja sulit, bagaimana bisa mengendalikannya?! Memberikan mereka pendidikan dan penyuluhan pun dihabisi dan ditentang habis-habisan. Kondom yang sedianya disarankan pun dihancurkan dan malah dituding penyebab serta biang keladi dari semua ini. Sungguh saya tidak mengerti!

Belum lagi masalah pemimpin yang memiliki kelainan jiwa penyimpangan seksual. Bukankah menjadi syarat penting dan mutlah bagi calon pemimpin dan pemimpin untuk memiliki jiwa dan rohani yang sehat?! Lantas, bagaimana bila dia ternyata sakit jiwa dan semua itu berhubungan dengan perilaku seksualnya?! Apakah pantas menjadi seorang pemimpin?! Jika tidak, kenapa tidak ada juga yang mau melakukan tesnya?! Aneh, lucu, tidak pantaskah untuk melakukan tes ini?! Bagaimana bila pemimpin tersebut ternyata seorang sadomasochist yang kerap kali melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan “”menyiksa” serta melecehkan pasangannya sendiri?! Tidakkah semua itu berpengaruh pada kemampuannya dalam berpikir, bekerja, dan berperilaku dalam keseharian?! Istri yang katanya dicintainya pun bisa diperlakukan demikian, apalagi yang lain?! Apa dampaknya bagi yang dipimpinnya?! Pernahkah dipikirkan?!

Sadarkah bahwa seks itu sangat berpengaruh pada kehidupan dan masa depan?! Jika tidak, kenapa masalah ukuran penis saja bisa sangat besar?! Soal bagaimana perilaku berpakain perempuan selalu diperdebatkan?! Segala tontonan dan bacaan yang berbau seks selalu laris manis, kok! Apakah masih menganggap seks itu remah dan kotoran yang tidak penting?! Lihat saja bagaimana masyarakat terus mencemooh para pemimpin yang melakukan perbuatan yang dianggap asusila dan tidak baik, tetapi kenapa diri sendiri pun masih tidak mau berubah?!

Mungkin saya saja, ya, yang terlalu berlebihan. Apa yang kecil itu tidak seharusnya dibesar-besarkan bukan?! Hal-hal yang besar itu pun tidak patut untuk dikecilkan, ya?! Apa yang besar dan kecil itu, kan, sifatnya sangat relatif sekali, sangat tergantung pada pola pikir dan cara pandang masing-masing. Setiap orang berbeda dan semua bisa memiliki pendapat serta pembenarannya masing-masing. Apa yang tidak bisa dirasionalisasikan bila memang itu sudah merupakan kesimpulan meskipun mata uang selalu memiliki dua sisi yang berbeda?! Hanya hati saja yang tidak bisa berdusta biarpun kerap kali didustai dan dipungkiri.

Selamat berjuang! Semoga semua dapat menemukan inti sebelum bom itu meledak pada saat dan waktunya tiba!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

14 Oktober 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s