Utopia Berpikir Tentang Seks

Mengolah logika dan rasa atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan menghasilkan pemikiran. Pemikiran yang merupakan buah pikir adalah sebuah hasil karya. Oleh karena itulah, menurut saya, pemikiran adalah sebuah seni, yang bisa dituangkan lewat beragam bentuk. Dalam hal ini, bukan bentuknya yang menjadi sesuatu yang harus diperdebatkan, namun akar dari apa yang dihasilkan inilah yang harus dicari tahu, sehingga bisa tampak jelas latar belakang juga maksud dan tujuannya. Apa ideologi yang berada di balik semua ini?! Apa pengaruhnya kepada yang lain?! Apakah ini memang benar-benar bermanfaat atau tidak?! Jangan-jangan ini semua hanya sebuah utopia. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dicapai. Mungkinkah pemikiran tentang seks yang tak mesti porno ini hanya sebuah utopia?! Bahkan mungkin mengajak untuk berpikir tentang seks itu sendiri sudah sebuah utopia. Bukankah seks itu hanya urusan kenikmatan, bukan untuk dipikirkan?~

Jika bicara tentang sebuah ideologi, kesannya berat banget , ya! Berhubungan erat sekali dengan keyakinan atas apa yang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Memang begitulah fakta dan kenyataannya. Ideologi sangat berperan bagi kehidupan seseorang untuk melangkahkan kakinya ke dunia yang ramai dan penuh dengan hiruk pikuk ini. Justru saya bingung banget bila ada yang tidak memiliki ideologi. Bila hal ini sampai terjadi, apa yang menjadi pegangan dalam hidup?! Pasti akan sangat labil dan mudah sekali terombang-ambing serta terseret oleh arus. Tidak bisa menjadi diri sendiri dan sangat terpengaruh oleh apa yang “beredar” di lingkungan sekitarnya. Bukan hanya merusak diri sendiri tetapi juga bisa merusak yang lainnya, yang pada akhirnya bisa merusak seluruh tatanan dalam kehidupan. Apakah ini yang terjadi sekarang ini?!

Menurut saya, salah satu alasan kenapa ideologi ini kemudian terkikis terjadi di era post-modern. Berangkat dari kritikan di masa sebelumnya, di mana pemikiran terlebih dahulu didahului oleh ideologi, ditambah lagi adanya pandangan bahwa ideologi sangat berkaitan erat dengan Marxist dan totalitarian membuat ideologi itu sendiri semakin menghilang. Semua bebas untuk berekspresi sesuai dengan keinginan masih-masing. Berpikir pun boleh suka-suka, karena tidak ada yang menjadi batasannya. Selama itu memang bisa diterima oleh semua, menjadi tidak masalah. Baik atau benar begitu juga buruk dan salah menjadi sangat relatif. Iya, kan?! Apalagi kalau sudah masuk ke dalam industri dan komersialisasi. Bingung, deh!!!

Pemahaman tentang seks yang ada sekarang ini, menurut saya bukan tidak memiliki dasar, namun lebih difokuskan kepada prinsip umum penyamarataan secara global. Termakan juga oleh nilai fisik dan materi yang merupakan hal penting dalam dunia industri, komersialisasi, konsumerisme di era post-modern ini. Legitimasi terhadap pandangan tentang seks ini pun berdasarkan apa yang memang bisa dengan mudah dinikmati. Makanya pemikiran bahwa seks itu porno bukanlah sebuah utopia karena bisa dengan mudahnya tersebar luas dan diterima oleh masyarakat global. Kenikmatan atas apa yang dilakukan di sekitar seonggok daging di belahan paha memang dinikmati dan dirasakan oleh semua, kan?!

Berbeda dengan berpikir tentang seks. Masih aneh, kan, kalau saya mengajak semua untuk berpikir tentang seks?! Konotasinya cenderung sangat negatif, di mana kata berpikir yang saya maksudkan sudah terarah kepada arti dan makna yang sama dengan berkhayal atau berimajinasi. Sehingga kemudian, bila saya berkata berpikir tentang seks, arti dan maknanya menjadi melakukan visualisasi tentang seks. Karena juga seks yang dipahami masih porno, maka visualisasinya pun nggak jauh-jauh dari yang porno. Apalagi kalau bukan seputar adegan hubungan seksual, fantasi seksual, dan orgasme seksual?! Ngaku, deh!!!

Saya tidak heran bila semua ini terjadi. Bisa sangat dimaklumi dan sangat dipahami. Makanya, saya juga tidak bisa marah bila kemudian banyak yang tidak setuju dengan tulisan saya dan banyak juga yang tidak bisa memahami apa yang saya tuliskan. Persepsi dan pandangan masyarakat umum memang begitulah adanya. Bagaimana bisa paham dan mengerti bila sekarang ini, kata dan bahasa sudah mengalami pergeseran arti dan makna. Disadari tidak disadari, diakui atau tidak diakui, kita semua memang sudah masuk ke dalam arus yang seperti ini. Bahkan simbol-simbol pun sudah sangat bergeser. Gambar pisang saja bisa dipersepsikan bukan sebagai buah pisang?! Semua suka-suka dan tergantung kepada pemikiran orang yang melihatnya saja, kan?! Ayo?! Lagipula, siapa yang bisa membatasi?! Toh, ideologi dan pemahaman dasar atas pemikiran pun sudah tidak dipegang lagi?!

Jika memang semua mau menyadari dan mengakui hal ini, jangan marah, dong, bila kita sekarang harus hidup dalam kondisi seperti sekarang ini. Jangan kaget juga bila seks menjadi sangat diumbar dan sangat bebas interpretasinya. Semua boleh bebas mengekspresikan diri, kan?! Bahkan boleh berlomba-lomba mengekspresikan diri sebebas mungkin?! Bebas sudah dianggap benar-benar tak terbatas!!! Demokrasi pun dimaknai dan dipahami sebagai tak memiliki aturan dan peraturan. Lagipula, moral, etika, dan agama bahkan kebenaran itu sendiri pun sudah sangat relatif sifatnya. Semakin semu dan tidak pasti. Kalau sudah begini, apa yang sebaiknya kita lakukan?!

Kritik dan komentar tanpa ada pemikiran yang jelas yang didasari oleh ideologi yang tidak dipegang teguh, sama saja tidak ada artinya. Semua hanya untuk kepentingan pribadi dan hanya untuk memuaskan ego masing-masing saja, meskipun berpikir bahwa ini semua dilakukan demi kebaikan dan berdasarkan kebaikan serta kebajikan untuk kepentingan bersama. Aturannya saja tidak mau diikuti dan dipahami dengan jelas?! Jangan heran juga kalau upaya untuk memberantas dan menanggulangi masalah penyakit seks dan juga masalah kemiskinan tidak bisa memberikan banyak arti dan manfaat. Buktinya, meskipun banyak sudah usaha yang dilakukan, masalah tentang seks justru semakin meningkat dan kemiskinan pun tidak semakin berkurang. Bahkan cinta pun masih dipertanyakan dan masih bingung menjawabnya. Ya, kan?!

Seks tak mesti porno adalah buah pikir dan bagian dari sebuah usaha untuk mengembalikan apa yang sebenarnya ada selama ini. Memunculkan kembali ke permukaan apa yang selama ini ditutupi dan dihapuskan. Sejarah dan masa lalu tidak selalu berarti primitif dan tidak modern. Justru sejarah seharusnya dijadikan pijakan untuk melangkah. Memberikan sisi pandang berdasarkan fakta dan kenyataan yang sebenarnya, yang selama ini tidak diperhatikan. Siapakah yang suka membeli “dagangan” para pekerja seks komersial waria?! Siapakah yang masih benar-benar suci dan perawan?! Siapakah yang belum pernah menikmati adegan seksual yang dilakukan orang lain?!

Semua ini juga berangkat dari kenyataan yang ada bahwa kita sulit sekali untuk bisa menjadi jujur bahkan kepada diri sendiri. Sangat tidak mudah mengakui kesalahan. Sering melakukan pembenaran untuk menutupi kesalahan dan menuding yang lain agar selalu dianggap benar. Tidak bisa terlepas dari ego, ambisi, dan kenginan untuk mendapatkan nilai dan “tempat” serta “posisi” di dalam masyarakat. Berbohong sudah dianggap sebuah kewajaran yang boleh dilakukan oleh siapa saja. Lihat saja dunia maya, siapa bisa menjadi siapa. Pekerjaan pun bisa dimanipulasi. Bilang saja kita bekerja sebagai A, padahal pada kenyataannya tidak bekerja sama sekali. Mungkin pernah, tapi sekarang tidak lagi. Hehehe…..

Bilapun merasa tidak melakukannya, bisa berarti bahwa semua dilakukan secara tidak sadar yang merupakan akibat dari ketidaktahuan serta ketidakpahaman atas apa yang sebenarnya terjadi. Pembodohan yang dilakukan selama ini memang benar-benar sudah sangat luar biasa imbasnya. Selain itu, tidak mudah juga untuk mau merendahkan hati untuk terus belajar dan belajar. Selalu saja ada rasa lebih tahu dan lebih paham serta lebih mengerti itu, sehingga semuanya menjadi sangat terbatas. Ditambah lagi kecenderungan merasa tidak mampu, meskipun sebenarnya semua ini adalah pilihan. Persoalannya, mau apa tidak?! Itu saja. Tapi, ya, mau bagaimana juga, sekali lagi, baik dan benar, salah dan buruk pun sudah sangat relatif. Sangat tergantung kepada persepsi masing-masing.

Mungkin memang benar bahwa pemikiran tentang seks itu tak mesti porno iní adalah sebuah utopia. Namun biarlah saya melakukan semua ini. Paling tidak, saya merasa lebih nyaman dan merasa lebih berarti bila tidak tinggal diam dan menutup mata. Saya ingin melakukan sesuatu dan tetap terus berusaha memberikan yang terbaik yang bisa bisa saya lakukan.

Semoga saja ini semua bisa memberikan manfaat yang berarti.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

30 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s