Api Membara Dinding Pun Meluruh

Illustrasi: anger-guides.blogspot.com

Kemarahan menyerebak di mana-mana. Selalu ada saja yang membuat hati menjadi panas dan tak menentu. Entah apa sebenarnya yang diinginkan sehingga api itu dibuat selalu menyala dan membara. Apa sengaja dibuat untuk meluruhkan dinding paling tebal dan paling kuat?! Membuat semuanya menjadi kalut, pusing, dan tak tahu harus berbuat apa sehingga mau tidak mau mengikuti arus permainan yang terjadi. Dengan demikian, semua rencana bisa dengan lebih mudah dijalankan dan habislah kita semua kemudian. Tidak ada yang bisa membuat keputusan dengan baik dan benar dalam keadaan marah.

Pada saat kita semua sedang menjalani bulan puasa, alangkah indahnya bila kita semua bisa sama-sama menyatukan hati dan merendahkan diri. Mencoba untuk bisa menahan segala hawa dan nafsu untuk bisa membersihkan hati meskipun godaan itu selalu ada dan selalu saja menggoda. Apalagi bila melihat televisi dan membaca serta mendengar berita tentang bagaimana keadaan negeri kita tercinta ini. Sungguh sulit sekali untuk bisa membendung rasa yang ada di dalam hati ini. Semuanya seperti terbakar, mendidih, dan sangat membara.

Dimulai dari apa yang dilakukan oleh para pemimpin dan juga para penguasa, juga yang dilakukan oleh masyarakat yang dua-duanya sama-sama mengatasnamakan kepentingan bersama, kepentingan bangsa dan negara, dan kepentingan semua. Mulai dari urusan politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, seperti seluruh bidang selalu saja ada hal-hal yang membuat paling tidak kepala menjadi gatal mendadak dan mengerutkan dahi. Dada pun mau tak mau dielus dan diusap terus-menerus.

Seperti contoh kasusnya adalah masalah seks yang terjadi di bulan puasa ini. Banyak yang tidak memperhatikan dan sangat disepelekan tetapi sangat mempengaruhi kehidupan kita kini dan juga nanti. Prostitusi yang dianggap maksiat itu dihancurkan dan para Pekerja Seks Komersial yang bekerja mencari nafkah itu kocar-kacir tak karuan. Ke mana mereka kemudian lari?! Bukankah mereka juga tetap membutuhkan uang untuk bisa menyambung hidup?! Apa mereka sudah diberikan jalan keluar yang lebih baik?!

Jangan dikira bulan puasa ini prostitusi tidak berjalan, justru pelacuran terselubung semakin merebak. Banyak yang mengaku puasa tetapi tidak bisa menahan hasrat dan nafsu seksual mereka. Mungkin di awal-awal bulan Ramadhan masih bisa bertahan, namun makin lama makin tak bisa lagi menahan diri. Apalagi bila mereka termasuk seks maniak. Sangat sulit bagi mereka untuk mengendalikannya. Toh, kalau sudah buka puasa boleh berhubungan badan! Iya, kan?! Tak perlu kagetlah bila ada yang buka puasanya dengan berhubungan badan, bukan dengan pasangannya pula. Dengan jajan dan membelinya.

Lalu apa hubungannya dengan kemarahan?! Sudah terbukti bahwa dengan mencapai orgasme, maka seseorang bisa menjadi lebih tenang karena ada hormon endorphine yang diproduksi dan otomatis menyebar ke dalam tubuh setelah orgasme. Tak perlu heran juga bila banyak yang meredam dan melampiaskan kemarahan mereka dengan bersetubuh. Meski ketenangan itu diperoleh hanya untuk sementara waktu tetapi bisa menjadi sebuah kebiasaan. Apalagi bila kemarahan itu sudah sedemikian berlarutnya sehingga meledak dan tak bisa lagi untuk dikendalikan.

Hal inilah yang seringkali dijadikan pembenaran atas perilaku seksual yang terjadi. Kita memang sepertinya sudah terbiasa untuk tidak mau mengakui kesalahan dan menutupinya dengan berbagai pembenaran. Takut dan malu yang menjadi alasan kenapa sampai harus ditutupinya pun diingkari. Jika memang demikian terus, lalu apa yang akan terjadi?!

Tidak ada orang yang bisa sembuh bila tidak mau mengakui dirinya sakit. Tidak ada orang yang akan menjadi pintar bila tidak mau mengakui dirinya telah melakukan kebodohan dan mengakui kesalahannya. Tidak akan ada orang yang bisa merasakan damai dan bahagia serta memiliki dan merasakan cinta bila tidak juga mau jujur dan merendahkan hatinya. Tidak ada yang bisa memberikan keindahan dan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik bila tidak juga mau memenuhi diri dengan cinta dan memberikan selalu yang terbaik untuk semua. Semua ini adalah pilihan dan apa yang mau dipilih atau haruskah dipilihkan?!

Tentunya lebih menyenangkan bila pilihan itu bisa dibuat sendiri, apalagi jika berani untuk bertanggungjawab dan menanggung semua akibat serta resikonya. Sayangnya pembodohan dan kebohongan telah membuat kita menjadi sering kali merasa tidak bisa memilih. Pilihan itu menjadi tidak ada dan oleh karena itulah kemudian menjadi dipilihkan. Mau bagaimana lagi, tidak bisa juga mencari pilihan lain?!

Menurut saya, manusia adalah sama di mata Tuhan dan yang membuatnya sama adalah karena kita semua diberikan pilihan. Bukan hanya sekedar pilihan lalu dibiarkan begitu saja karena ada tuntunan yang diberikan oleh-Nya. Bila saja tuntunan itu benar-benar dibaca oleh mata dan hati, maka pilihan itu akan semakin banyak. Dengan belajar dan terus belajar, kita bisa melihat banyak hal yang berbeda dari berbagai sudut pandang yang berbeda pula. Kita menjadi lebih bijaksana di dalam menentukan sikap serta pilihan. Tidak juga takut untuk berkata menjadi jujur dan rendah hati karena semua itu adalah kunci dari kedamaian dan kebahagiaan yang sebenarnya selalu kita cari dan impikan. Yang senantiasa abadi, dong!!! Bukan yang hanya sesaat dan sementara saja.

Kemarahan yang ada sekarang ini sepertinya memang sebuah pilihan yang dipilihkan. Kita semua dibuat untuk menjadi marah agar kita tidak lagi bisa berpikir dan hanya mengikuti saja apa yang ada. Menjadi kian larut dan hanyut dengan arus yang semakin kencang. Dinding pertahanan kita yang paling kuat pun bisa menjadi hancur lebur berantakan. Membuat kita semua semakin sulit untuk bisa melepaskan diri. Marah tidak bisa membuat seseorang untuk bisa melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Membenamkan kita semua ke lautan yang paling dalam dan menjadikan kita juga manusia berkaca mata kuda. Apa bisa membuat keadaan menjadi lebih baik?! Menjadikan semua mimpi itu nyata?!

Marah boleh saja marah tetapi sebaiknya coba untuk bisa mengendalikannya dengan baik. Kita juga belum tentu telah berbuat baik dan benar. Belum tentu juga tidak terlibat sehingga membuat semua masalah yang kita hadapi sekarang ini terjadi. Jangan mau terbakar oleh api yang membuat diri kita hancur sendiri. Bukankah kita semua ingin keadaan menjadi lebih baik lagi?! Coba kita pikirkan sama-sama dengan kepala dingin agar akar permasalahannya tampak lebih jelas. Bersama-sama juga kita mencari solusinya. Mulailah dari diri sendiri dulu, ya!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

Kompasiana 18 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Api Membara Dinding Pun Meluruh

  1. Lea says:

    suka banget sama tulisan2 mba..
    inspiring,memotivasi,dan menambah pengetahuan.perlu banyak mebaca dan belajar dari tulisan2 mba mariska…
    salam kenal dari newbie purwokerto🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s