Selingkuh dan Bercerai, Siapa yang Salah?!

Illustrasi: berbritkriminal.blogspot.com

Selingkuh dan bercerai bukan sesuatu yang mudah tetapi seringkali terjadi. Bisa karena memang tidak bisa dihindari, bisa juga karena memang sebuah alternatif pilihan yang terbaik yang harus ditempuh. Memang sungguh sangat disayangkan bila semua ini harus terjadi, tetapi semua itu bukanlah berarti mereka boleh dituding, dihina, dihujat, dan dimaki ataupun dilecehkan. Siapa yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi?! Kita atau mereka sendiri?!

Seorang anak mendesah dalam dan panjang. Di usianya yang sudah di atas dua puluh tahun ini, dia harus merasakan kekecewaan yang teramat sangat terhadap orang tuanya. Ibunya pergi meninggalkan keluarga dengan pria lain dan ayahnya pun akan menceraikannya. Memang bukan yang pertama kali sang ibu ini kepergok selingkuh dengan pria, sudah beberapa kali sebelumnya dia berselingkuh.

”Ayah saya sudah tidak tahan, Mbak! Ibu pergi begitu saja berhari-hari dengan pacarnya dan tidak lagi mempedulikan kami. Kami semua tidak tahu apa yang ibu inginkan?! Kenapa baru setelah kami sebesar ini barulah semua itu harus terjadi?!”

Lain ladi dengan seorang bapak tiga anak jagoan yang masih cilik. Dia bersedih karena istri yang dicintainya juga pergi meninggalkan mereka semua begitu saja tanpa ada kabar berita. Sebelumnya, memang diketahui kalau sang istri itu hamil dengan pria yang lain, namun kenapa harus sampai pergi begitu saja?! Itu yang kemudian membuat pria ini bersedih dan memilih untuk segera mengurus surat perceraian.

”Istri saya datang dan hamil, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami semua. Sudah setahun lebih tidak ada kabar berita darinya. Keluarganya pun tidak ada yang tahu keberadaannya. Apa dia tidak menyayangi anak-anak kami yang masih kecil-kecil ini?!”

Apakah benar seperti sebuah hipotesa yang dilakukan oleh seorang sahabat, BapakSubkhon Rokhmi yang menyebutkan bahwa perempuan lebih banyak berselingkuh dibandingkan dengan pria justru karena posisi perempuan itu sendiri, baik secara agama maupun pandangan di dalam masyarakat. Perempuan tidak bisa menikah dengan lebih dari satu orang pria, sehingga kemudian berselingkuh adalah jalan yang paling sering ditempuh. Kami mendiskusikannya bersama dan ini sangat menarik sekali.

Saya yakin sekali dengan membaca alinea-alinea di atas, kebanyakan pasti akan langsung menuding dan menunjuk kepada para istri yang berselingkuh itu. Langsung memberikan nilai dan pasti tak sedikit juga yang menghujat. Akui saja jika memang demikian, sehingga tidak perlu ada pembenaran kemudian. Lebih baik jujur daripada menyembunyikannya. Tidak apa-apa.

Kasus-kasus seperti ini memang sangat menyedihkan dan membuat hati kita sangat perih bila mengetahuinya. Ada marah dan juga kebencian yang terbentuk, sehingga kita merasa tidak bersalah bila kemudian menghakimi mereka. Sementara apa yang sebenarnya terjadi apa kita semua tahu?! Apa saya sudah menyebutkan apa alasan kedua istri dan ibu itu pergi begitu saja?!

Bagi saya, tidak ada perselingkuhan dan perceraian yang terjadi bila tidak disebabkan oleh faktor keduanya, baik suami maupun istri. Sebaik apapun pasangan di mata yang lain ataupun sebaik-baiknya orang, bila memang tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk pasangannya bisa menyebabkan terjadinya perselingkuhan dan perceraian. Yang membuat bahagia itu belum tentu sama antara yang satu dengan yang lainnya, apalagi bila kejujuran bersama itu tidak ada. Masing-masing menyimpan ”rahasia” yang tak diungkapkan lalu kemudian ”meledak” tanpa bisa dikendalikan pada masa dan waktunya.

Perempuan ataupun pria sama saja. Bedanya, memang pria memang lebih mudah di dalam berterus terang dan melakukannya. Nilai itu memang berbeda dan membuat pola pikir juga perbuatan menjadi berbeda. Itu harus diakui. Namun yang berbeda itu hanya caranya saja, bukan berarti kemudian menjadi membuat hanya pria atau perempuan saja yang melakukan semua ini. Tidakada bedanya, jumlahnya bisa dibilang sama saja.

Beruntunglah pria yang memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan perempuan, karena itulah perempuan sering saya sebut lebih tahan sakit, sedih, pahit, dan menderita. Berapa banyak perempuan yang menjadi korban namun terus bertahan?! Makanya yang ada ibu pertiwi, tidak ada bapak pertiwi. Cinta yang diberikan tanpa syarat dibalas dengan air tuba yang berlimpah pun tetap bertahan dalam memberikan cinta. Bukankah begitu?! Just kidding!!! Hehehe….

Menurut saya juga, bagi yang tidak meledak dan tidak berselingkuh atau bercerai, bukanlah menjadi jaminan pasangan itu berbahagia ataupun masing-masing merasa bahagia. Sudah banyak kasus yang terjadi di mana pernikahan dipertahankan hanya untuk selembar kertas dan sebuah janji yang sepertinya tidak mungkin lagi untuk dilanggar. Tak sedikit juga yang kemudian berlindung di balik anak-anak, padahal anak-anak itu bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi dan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan jiwa mereka. Disadari tidak disadari, diakui tidak diakui.

Saya memang sungguh sangat menyesalkan apa yang telah dilakukan oleh kedua perempuan itu. Bagi saya, mereka memang tidak bertanggungjawab karena pergi begitu saja. Sebegitu sulitnyakah untuk bertanggungjawab dengan berterus-terang dan mengakui semuanya?! Bila memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga dan sudah tidak ada lagi cinta dan bahagia, akui saja. Tidak perlu takut untuk menghadapinya. Memang sulit, tetapi tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan bila mau dihadapi.

Sementara itu, bagi para suami yang ditinggalkan, hendaknya juga mau berbesar hati dengan juga melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bahwa tidak mungkin semua ini terjdi bila bukan karena kesalahan bersama. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Hanya mereka yang berjiwa besarlah yang mau mengakuinya. Hanya dengan berdamai dan juga mau memaafkan kebahagiaan itu akan menyertai.

Bagi para orang tua, ingatlah selalu bahwa bekas istri atau bekas suami itu ada, tetapi bukan berarti kemudian harus ada dendam dan marah yang berlarut yang merugikan semuanya. Ingatlah bahwa tidak ada bekas anak di sini. Anak adalah anak dan anak tetap darah daging kedua orang tua. Tidak ada yang bisa melepaskan ataupun memungkiri semua itu. Janganlah jadikan mereka korban atas keegoisan orang tua dan jangan pernah jadikan mereka tameng. Biarlah mereka tumbuh menjadi diri mereka sendiri. Berikanlah mereka cinta yang sesungguhnya.

Bagi anak-anak yang ditinggalkan, memang sangat sedih bila harus menghadapi fakta dan kenyataan yang demikian. Patutlah selalu diingat bahwa sebenarnya tidak ada seorang ibu pun yang tidak menyangi dan mencitai anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Rasa takut dan tidak nyaman, marah, dendam, dan banyak hal lainnya membuat mereka seringkali menjadi melakukan kesalahan.

Ya, mereka memang bersalah tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dimaafkan dan tidak memiliki cinta untuk kalian semua. Kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh dia sebenarnya tanpa kehadiran kalian semua. Saya yakin hati mereka pun sebenarnya menangis. Biarlah itu semua menjadi bagian pembelajaran dalam proses kehidupan mereka dan juga kehidupan kalian. Jadikanlah semua itu sebagai pijakan untuk melangkah agar memiliki kehidupan yang lebih baik.

Untuk apa tenggelam dan larut dalam duka bila ada pilihan lain yang lebih membuat semuanya merasa tenang dan bahagia?! Untuk apa juga memilih untuk menjadi lebih susah, pahit, sedih, dan menderita. Kesalahan sudah dibuat dan itu tidak bisa dipungkiri, tetapi bukan berarti itu semua membuat masa depan menjadi kelam dan kelabu. Harapan itu selalu ada. Sekali lagi, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan bila mau dihadapi. Tidak ada juga persoalan yang tidak ada jalan keluar terbaik bila diselesaikan dengan hati yang tenang, penuh dengan cinta, dan kepala yang dingin. Semua bisa, sekarang tinggal yang mana yang mau dipilih?!

Bagi kita semua, cobalah untuk belajar dari semua ini. Bisa jadi kita pun sebenarnya sama dengan mereka. Tidak merasakan bahagia karena tidak juga mau jujur dan berterus terang dengan semua yang ada di dalam hati juga pikiran. Kita juga belum tentu lebih baik dari mereka semua, Oleh karena itulah, tidak perlu kita menilai manusia yang lain karena kita sendiri seringkali tidak tahu apa dan siapa kita yang sebenarnya.

Tidak ada manusia yang ”lebih” dari yang lainnya karena kita semua adalah sama. Perbedaan itu bukanlah perbedaan bila kita mau melihat semua pilihan yang telah diberikan oleh-Nya. Banyaknya pilihan dan apa yang dipilihkan, semua tergantung pada kerendahan hati dan kejujuran kita masing-masing. Semakin kita jujur dan rendah hati, pilihan itu semakin banyak dan pilihan yang kita ambil itu akan semakin baik pula arti dan manfaatnya bagi diri kita sendiri dan juga semua.

Semoga kita semua bisa selalu memiliki cinta dan mau memenuhi diri dengan cinta. Memberikan banyak cinta dan menerima juga banyak cinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

19 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Selingkuh dan Bercerai, Siapa yang Salah?!

  1. INDEPENDEN says:

    Salam Kenal ! Artikel yg menarik, tak ada yg lebih baik dari keterus terangan,jikapun selingkuh ada saya setuju bukan karena faktor satu orang saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s