Terjerumus Permainan Politik Bahasa

Bahasa sangat mudah untuk dipermainkan, karena setiap kata di dalam bahasa sendiri sangat ambigu. Bisa memiliki berbagai macam interpretasi dan persepsi yang berbeda dan sangat tergantung kepada cara pandang serta pola pikir yang menggunakannya maupun yang menangkapnya. Bukan sesuatu yang aneh menurut saya, bila kata dan bahasa digunakan untuk mencapai tujuan politik. Bukankah kita sangat mudah untuk terlena dan juga sebaliknya, menjadi marah hanya karena penggunaan kata dalam bahasa?! Apalagi jika pemahaman atas kata, bahasa, dan juga konteks dalam penggunaannya tidak dimengerti dan dipahami dengan baik. Semakin mudah pulalah permainan ini dimainkan. Amat sangat mudah sekali!!!

Bagi saya, menulis dan membaca bukanlah hanya sekedar menulis dan membaca. Setiap kata yang saya tuangkan merupakan ungkapan dari rasa serta pemikiran saya sendiri. Apalagi jika saya menuliskannya dalam bentuk artikel opini, sehingga tidak perlu bagi saya untuk mengungkapkan dari mana saya bisa menuliskannya. Semua itu sudah diolah dan tidak bisa diuraikan satu-satu begitu saja, sudah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. Struktur dan pola pikir yang tertuang dalam tulisan itu sudah cukup menjelaskan dari mana saya mendapatkannya dan siapa saya yang sebenarnya. Jiwa dan roh saya pun ada di dalamnya. Tanggungjawab dan resiko semua tulisan saya ada pada tangan saya sendiri.

Berbeda bila saya menuliskan essai atau reportase, tentunya ini membutuhkan sekali landasan atas bukti yang kuat untuk menguatkan isi dari tulisan itu sendiri. Tidak bisa asal comot pemikiran dan pendapat pemikiran yang lain, karena semua itu adalah bagian dari penghormatan dan penghargaan kepada mereka yang telah memikirkan dan menuangkannya.

Lain lagi bila dalam menulis puisi ataupun prosa. Bahasa yang digunakan bisa menjadi sangat ambigu karena lebih banyak menggunakan rasa. Oleh karena itulah, tidak mudah untuk mengerti dan memahaminya. Apa yang ada di dalam tulisan seperti ini, arti dan makna yang sebenarnya, hanya diketahui oleh penulisnya sendiri. Yang membacanya, bila tidak mengerti dan paham dengan baik, hanya bisa menikmatinya saja dengan bermain bersama roh dan jiwa yang dituangkan oleh penulisnya.

Oleh karena itulah, saya selalu menekankan kepada pemahaman atas kata dan bahasa juga konteks pada setiap tulisan. Memang sangat tidak mudah untuk bisa membacanya apalagi bila belum terbiasa dengan penulisnya ataupun tidak mempelajari karakter dari penulisnya. Untuk membedakan mana yang merupakan ciri khas saja seringkali tidak bisa dimengerti dan dipahami dengan baik.

Pentungan tiga (!!!) dan tanda tanya serta tanda seru (?!) yang biasa saya gunakan adalah merupakan salah satu ciri khas dari tulisan saya. Salah satu tujuannya adalah untuk memberitahu pembaca saya, terutama yang sudah sejak lama, mengetahui kalau itu adalah tulisan saya, meski saya menggunakan nama lain. Bukan hanya itu saja, tentunya ada hal-hal lain yang saya gunakan di dalam menulis dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti penggunaan kata pria dan perempuan. Semua ada arti, maksud, dan tujuannya sendiri-sendiri. Ya, sangat dipahami bila ini dijadikan sebuah pertanyaan besar, terutama bagi mereka yang baru membaca tulisan saya.

Dari contoh tulisan saya, dapat terlihat dengan jelas sebenarnya bahwa saya telah melakukan sebuah usaha permainan politik bahasa. Berapa banyak yang terjebak dengan kata “seks”, “desah”, “rindu”, dan “cinta” yang sering saya gunakan?! Memang semua itu sengaja saya lakukan. Apa maksud dan tujuannya, tentunya hanya saya yang mengetahuinya dan hanya mereka yang mengerti dan paham tentang permainan ini. Saya sangat meyakini bahwa “kata” bisa mengubah dunia.

Ini baru tulisan saya, dan apalah artinya saya?! Saya tidak berarti apa-apa dan saya bukanlah orang yang “besar” sehingga tidak memiliki kemampuan untuk bisa mempermainkan politik bahasa ini lebih besar dari kapasitas dan kemampuan saya. Bayangkan bila ini dilakukan oleh mereka yang “besar”. Bagaimana pengaruhnya terhadap pola pikir dan cara pandang?! Bagaimana juga semua ini bisa menjadikannya terstruktur dan terpola di dalam pemikiran seseorang?! Makanya, “brainwash” alias cuci otak pun dilakukan lewat kata dan bahasa, kan?!

Apa yang saya ungkapkan ini juga bisa saja menjadi sebuah sampah yang remeh dan patut untuk dibuang serta disingkirkan. Untuk apa juga sebuah tulisan dibaca dan dianggap penting bila tidak memiliki arti dan manfaat tersendiri. Silahkan saja, toh, semua ini adalah pilihan. Bagi saya, hal-hal yang remeh temeh dan sering dijadikan sampah itulah justru yang paling membuat saya tertarik. Saya ini memang hanyalah seorang pengumpul sampah yang berserakan dari yang terbuang, kok!!! Saya juga tidak mau berdusta dengan tidak menjadi diri saya sendiri meskipun harus berbeda, diianggap gila, aneh, dan janggal oleh yang lainnya. Saya siap dengan segala resiko dan akibatnya. Biar bagaimanapun juga, pendapat dalam bentuk pemikiran sangat saya hargai.

Saya juga tidak mau berandai-andai semua mau mempelajari arti dan makna kata serta bahasa yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya. Tidak juga berharap semua bisa mengerti konteks atas sebuah tulisan. Sudah terlalu lama kita memang dibuat demikian, karena merupakan bagian dari pembodohan. Sebuah politik pembodohan dan pemecah belahan yang dilakukan lewat permainan politik bahasa. Saya hanya bisa berharap dan berusaha saja, meski mungkin tidak akan menghasilkan apapun juga. Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali bukan?!

Berkaca dan bercermin dari apa yang dilakukan oleh Deng Xiao Ping di dalam melakukan perubahan atas pola pikir dan cara pandang bangsa dan negaranya. Revolusi pemikiran yang dilakukannya pertama kali dilakukan lewat revolusi budaya, dan menjadikan kata serta bahasa itu kepada arti dan makna yang sebenarnya adalah langkah pertamanya. Memang sangat membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat di dalam melakukannya, bahkan baru sangat terasa kemudian saat beliau sudah tidak ada lagi. Lihatlah bagaimana Negara China sekarang ini. Bagaimana rasa nasionalisme dan kebanggaan atas diri sendiri, bangsa, dan negaranya?!

Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh Negara Jepang, Korea, dan Perancis. Mereka “menutup diri” dalam arti melindungi dirinya dengan berusaha keras mempertahankan arti dan makna setiap kata yang ada dalam bahasa mereka. Bahkan di dalam mengubah satu kata saja, mereka mencanangkan program sosialisasinya selama 40 tahun. Bagaimana dengan Negara kita?! Saya dalam setiap tiga bulan saja menerima perubahan kajian bahasa yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah.

Sekali lagi, bisa dimaklumi dan dipahami karena kemungkinan besar mereka yang melakukannya juga tidak paham dan tidak mengerti tentang permainan politik bahasa ini sendiri. Disadari tidak disadari mereka sudah melakukan sebuah pembodohan dan meneruskan pembodohan. Bagi yang menerimanya juga sama saja menurut saya. Jika memang tidak mengerti, secara tidak sadar bisa melakukannya juga. Bilapun diberitahu, tidak mau mengakuinya dan malah banyak yang melakukan berbagai pembenaran untuk semua ini. Tudingan pun terus dilancarkan kepada yang lain termasuk para pemimpin bangsa dan Negara ini. Padahal menurut saya, sesungguhnya mereka pun produk dari pembodohan yang dilakukan sebelumnya. Sadar disadari, diakui tidak diakui, semua itu terjadi. Begitulah jadinya bila tidak juga mau merunduk, sehingga meski merasa telah belajar pun tetap tidak bisa menyerap dan mengimplementasikan apa yang telah dipelajari dengan baik.

Contohnya saja penyamarataan penggunaan kata dalam bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata dan bahasa yang digunakan untuk pergaulan, kerja, dan juga dalam kapasitas kenegaraan menjadi disamaartikan. Tidak dibedakan mana konteks yang dimaksud. Kapan penekanan itu dilakukan dan tidak pun tidak bisa dibedakan. Mana yang keras dengan menggunakan bahasa yang halus dan lemah lembut, dan mana yang lemah meski menggunakan bahasa yang keras dan lantang pun tidak bisa dilihat. Metafora, sindiran, dan simbol itu sendiri tidak bisa dipahami dengan baik sehingga tidak bisa ditangkap arti dan makna sesungguhnya. Konteksnya menjadi berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Teks dalam tulisan pun menjadi hanya sekedar teks saja. Isinya?!

Tidak usah jauh-jauhlah, berapa banyak di antara kita yang bisa membedakan bagaimana penggunaan kata “saya”, “aku”, “gue”, “anda” dan “kamu” dalam konteks yang berbeda. Begitu juga dengan sebutan nama dan “mbak”, “mas”, “kakak”, “abang”, “adik” yang tidak juga dianggap penting. Kepada siapa kita harus mengucapkannya dan untuk apa juga bagaimana penerimaannya, siapa yang peduli dan memikirkannya?! Efeknya, tentu saja kepada etika dalam berperilaku dan bersikap. Jika semuanya sama, untuk apa ada etika?! Semuanya sama saja, kan?! Yang penting bisa berkomunikasi dan saling mengerti saja.

Bila memang semua bisa mengerti dan mampu saling berkomunikasi dengan baik, tentunya tidak mungkin ada masalah dalam hal pengertian dan komunikasi. Siapa yang bisa menjamin bahwa semua orang memiliki kapasitas dan kemampuan yang sama di dalam mengerti setiap kata dan bahasa yang digunakan?! Bukankah dalam setiap kelompok dan komunitas, yang kecil saja, memiliki “kata’ dan “bahasa” masing-masing yang berbeda-beda?! Apa bisa dijamin kelompok dan komunitas lain bisa mengerti dan memahaminya dengan baik?!

Dari perbedaan inilah sebenarnya permainan politik bahasa itu dimulai. Bila kata tidak lagi memiliki arti dan makna yang sesungguhnya, tidak dimengerti dan dipahami dengan baik, tidak digunakan pada konteks yang seharusnya, maka semuanya bisa menjadi amburadul dan berantakan. Mereka yang berkuasa dan memimpin bisa dengan mudahnya terus mendominasi dan melakukan kesewenang-wenangan. Bisa dengan mudah juga menguasai dan mencapai tujuannya, baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kelompoknya atau memang untuk kepentingan yang lainnya. Mereka yang protes dan teriak pun tidak mengerti bagaimana seharusnya melakukan perlawanan.

Demokrasi dan kebebasan, dua buah kata yang dipahami sebuah pemberontakan dan upaya untuk melakukan perubahan pun menjadi tidak berarti lagi. Demokrasi yang hanya diartikan dalam konteks mayoritas dan minoritas saja, akan membentuk sebuah kesenjangan lagi. Kekuasaan dan kepemimpinan pun menjadi sangat bergantung kepada hasil dari pemilihan atas dominasi. Kebebasan yang tanpa memiliki batas serta tidak mengindahkan peraturan dan aturan yang berlaku, berarti sama juga dengan tyranny itu sendiri. Apa ada penguasa atau tyranny yang mau mengikuti aturan dan peraturan?! Mereka memiliki aturannya masing-masing dan sendiri-sendiri serta memaksakannya kepada yang lain bukan?! Apa bedanya jika demikian?!

Ada satu hal yang kerap membuat saya memikirkan hal ini adalah saat Tuhan menurunkan kebenaran-Nya  berupa tuntunan yang diberikan kepada manusia. Tentunya Dia bisa saja memilih bahasa apapun yang digunakan, tetapi Dia tidak sembarang melakukannya. Bahkan bahasa Arab yang digunakan pun bukan bahasa Arab yang sembarangan. Setiap kata yang dipilihkan oleh-Nya sangatlah luar biasa. Apakah Dia bermaksud untuk melecehkan bahasa yang lain?! Tentunya tidak, justru di sinilah Dia menunjukkan kualitasnya  dalam berdiplomasi dengan manusia dan  untuk memberikan yang terbaik bagi manusia.  Jika memang tidak, mungkin Dia sudah memilih menggunakan bahasa “gaul” atau bahasa “Alay” saja sekalian. Apa perlu dipertanyakan dari mana juga bahasa Arab ini berasal sehingga sedemikian dihormatinya?! Apakah salah untuk mengikuti apa yang telah diajarkannya ini meski hanya seorang manusia biasa yang tak pernah bisa sempurna?! Yah, ini hanya sebuah pemikiran saya saja.

Yah, sekali lagi, saya tidak bisa berharap banyak dari semua tulisan termasuk tulisan saya yang satu ini untuk bisa dimengerti dan dipahami atau bisa ditangkap  arti dan makna maupun konteksnya. Tentunya banyak yang lain yang lebih handal dan pandai di dalam menerapkannya. Pengalaman dan pendidikan yang lebih lama pun belum tentu berarti lebih baik. Oleh karena itulah, saya sangat berharap bila memang merasa mampu dan bisa melakukannya dengan lebih baik, tunjukkanlah. Bukan untuk saya pribadi yang masih bodoh dan masih ingin terus belajar, tetapi untuk semua. Berikanlah contoh agar semua bisa belajar dan menjadi lebih baik lagi.

Semoga saja tulisan ini bisa memberikan arti dan manfaat. Saya hanya tidak ingin semua terjerumus dengan permainan politik bahasa yang menjadikan kehidupan kita semakin kacau balau dan tidak karuan meski hanya dengan kapasitas dan kemampuan saya yang sangat terbatas ini.  Terlalu mudah bahasa digunakan dan dimainkan. Semoga saja juga semua mau menjadi jujur dan merunduk agar belajar itu bisa benar-benar belajar.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

1 September 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Terjerumus Permainan Politik Bahasa

  1. Pingback: Bahasamu, Wahai Pemimpin! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s