Kenapa Kejujuran Menjadi Alasan Untuk Cemburu?!

Illustrasi: blog.honkfu.com

Kejujuran yang seharusnya merupakan keindahan seringkali dijadikan pembenaran untuk merasa cemburu. Meski banyak yang berkata bahwa cemburu itu tanda cinta, namun sesungguhnya cemburu itu adalah tanda tak mampu. Hanya sebuah dusta terhadap diri sendiri dan kejujuran itu memang menjadi tidak memiliki keindahan lagi. Semuanya tertutup oleh ego, nafsu, dan juga keinginan untuk menjadi yang ”paling”.

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Hatinya sangat sedíh dan sangat gelisah. Air mata terus berlinang dan semuanya tersa sangat pahit dan getir. Cinta yang selama ini mendampinginya mempertanyakan tentang kepercayaan dan semua itu bisa terjadi justru karena sebuah kejujuran.

Beberapa waktu sebelumnya, perempuan cantik ini bercerita tentang sebuah kisah dalam hidupnya, yang selama ini disimpannya. Kisah masa lalu tentang perjalanan cintanya dengan kekasih sebelumnya. Sebuah kenyataan yang mengejutkan meski perempuan itu tetap bisa menjaga mahkotanya. Namun, tetap saja membuat pasangan hidupnya ini merasa telah dibohongi.

Pria itu merasa sangat menderita sekali dengan semua ini. Bahkan sampai mencari dan mengejar pria dalam kisah yang lalu itu. Hanya demi ingin melampiaskan segala sesak dan amarah yang berkecamuk dalam dirinya. Ini semua karena dia sekarang ini merasa hanya bisa menyakiti dirinya sendiri dengan menyakiti fisik perempuan itu.

“Sudah dua bulan berlalu tetapi masalah dengan suami masih belum juga bisa terselesaikan. Saya membohonginya atas masa lalu dan sekarang dia tahu yang sebenarnya setelah sebelas tahun kami bersama. Saya menceritakan apayang telah dilakukan saya dengan mantan kekasihku. Kami memang dulu pernah bercinta namun saya tetap bisa menjaga keperawanan saya.

Dia sering menyakiti secara fisik namun saya diam saja karena saya merasa bersalah. Dia mengatakan bahwa saya telah amat mengecewakannya karena telah tidak jujur sebelumnya.

Saya sungguh menyesali apa yang pernah terjadi sebelumnya itu. Beribu bahkan berjuta maaf pun tidak akan pernah mengobati luka hati suamiku. Sekarang pun dia sedang mencoba mencari mantan kekasihku itu untuk bertanya apa yang pernah kami lakukan. Sekarang dia juga bertanya, “Apa yang selayaknya saya perbuat karena sudah tak ada lagi kepercayaan saya terhadapmu?”. Sampai detik ini saya pun belum bisa menjawabnya, Kak!”

Terus terang saja saya merasa miris mendengar semua ini. Jika saya menjadi perempuan itu, saya akan bertanya kepadanya, ”Apakah bila semua ini diketahui sebelumnya akan membuat dirimu tetap menikahi saya?!” Bila memang tidak, berarti cintamu memang hanya sebatas fisik saja. Tidak lebih dari itu.”Bila, ya, apakah semua itu tetap akan dipertanyakan kembali dan diungkit lagi?!”.

Sayangnya, saya tidak sanggup mengatakan ini semua kepada perempuan itu. Saya mungkin bisa siap menanggung semua resiko yang akan dihadapi bahkan resiko terburuk sekalipun. Saya ingin benar-benar dicintai, bukan dinikmati. Lain padang lain belalang, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan hendaknya semua mau menjadi diri sendiri agar bisa menjadi bahagia.

Pasangan yang menikah seharusnya memang dilandasi oleh cinta yang sesungguhnya. Cinta yang benar-benar membuat sama-sama bisa saling memberi dan menerima. Keinginan dan harapan juga mimpi menjadi mimpi bersama. Susah dan senang pun dilalui bersama. Semuanya dilakukan dengan tulus dan ikhlas.

Masa lalu siapa yang tidak punya?! Semua orang memiliki masa lalu. Siapa yang tahu tenang masa lalu bila tidak diungkapkan secara jujur?! Bisa saja ini semua hanya merupakan alasan untuk menutupi kebenaran yang ada?! Sudahkah sang suami bicara jujur?!

Kejujuran seharusnya dihargai di mana di situlah sebenarnya kepercayaan terletak. Meski kejujuran seringkali datang terlambat namun seharusnya disikapi secara arif dan bijaksana. Bukankah ini semua berarti sang istri merasa percaya bahwa suaminya itu berjiwa besar dan penuh dengan cinta?! Jika tidak ada keyakinan, mana mungkin dia berani bercerita?! Ini juga bukti cinta juga penghargaan dan hormat kepada sang suami bahwa dia telah menjadi orang yang patut dan layak untuk dicintai dan dihormati sehingga harus jujur apa adanya.

Di sisi lain, seharusnya suami juga jujur bahwa dengan menyakiti sang istri sebenarnya dia telah menyakiti dirinya sendiri. Dia hanya menutupi apa yang menjadi kelemahannya dan ingin menunjukkan bahwa dia pun mampu serta lebih berkuasa. Itu hanyalah sebuah ego dan nafsu semata. Keinginan untuk dihargai dan dihormati yang berlebihan karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaan.

Rasa cemburu itu pun juga demikian. Tidak yakin pada kemampuan diri sendiri sehingga harus selalu merasa lebih dari yang lain. Sebuah proteksi atas kelemahannya dan ketidakberdayaannya juga. Obsesi untuk menjadi “paling” itulah yang membuatnya semakin cemburu. Meski sebenarnya dia juga tahu sekali bahwa cinta, hormat, dan penghargaan itu datang bila dia juga benar-benar memiliki cinta, hormat, dan penghargaan terhadap yang lain termasuk istrinya sendiri. Untuk apa, sih, mencari mantan kekasih lama?! Untuk bertanya?! Lalu kalau sudah mendapatkan jawaban, mau apa?!

Saya mengatakan ini semua secara terbuka karena memang semua ini harus diketahui. Tidak bisa kemudian dengan mudahnya masalah diselesaikan bila sama-sama tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semua harus paham benar dan menjadi jujur pada diri sendiri. Bila tidak, untuk apa juga?! Semua usaha akan menjadi sia-sia saja.

Tidak perlulah ada dusta bila memang perkawinan ingin dipertahankan. Cobalah untuk melakukan introspeksi dulu terhadap diri sendiri. Ancaman dan kecaman itu hanyalah buang-buang energi percuma saja. Tidak akan menyelesaikan masalah dan justru akan menambah masalah. Penyesalan yang selalu datang terlambat itu tidak ada gunanya. Lebih baik mencoba untuk melakukan yang terbaik sebelum nasi menjadi bubur.

Ungkapkanlah semua perasaan yang ada di dalam hati lewat sepucuk surat. Saling berkirim dan berbalas surat akan lebih memudahkan karena tidak perlu ada rasa takut. Terkadang sulit untuk mengungkapkan rasa lewat verbal dan lebih mudah menuangkannya lewat kata-kata. Terimalah semua itu dengan lapang dada dan kebesaran hati. Fokuslah pada masa depan dan mimpi bersama. Masa lalu biarlah berlalu namun cinta di antara berdua janganlah pernah lenyap hanya karena masa lalu. Bukankah kebahagiaan dalam cinta yang tak terbatas waktu itulah yang diinginkan?!

Yuk, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Dinginkan hati dan kepala agar semua ini bisa diselesaikan dengan baik. Di dalam perjalanan bercinta, belajar saling memaafkan itu sebuah keindahan tersendiri. Membuat damai dalam hati dan membuat diri penuh dengan cinta.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

NB:

* Semoga ini semua bisa membantu kalian menjadi pasangan yang penuh dengan cinta. Ambilah hikmah dari perjalanan cinta ini dan jadikanlah pijakan untuk melangkah meraih semua itu bersama.

* Bergabung yuk di Gerakan Anti Intimidasi dan Pelecehan Verbal dan Tulisan dan Gerakan Anti Nonton Televisi (GANTI)! Demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik kita harus menghentikan semua kebodohan dan pembodohan lewat dramatisasi yang berlebihan dan gosip yang tidak mendidik.

27 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s