Menikmati Upah Kebodohan

Kebodohan selalu menjadi momok yang menyedihkan. Siapa pun tentunya gemas dan ingin sekali memberantas kebodohan ini, namun tidaklah mudah. Lingkaran kebodohan yang sudah sedemikian kuatnya membuat semua usaha perbaikan menuju kepintaran itu pun sulit dilakukan. Daripada terus mengeluh dan menuduh, lebih baik nikmati saja upah dari kebodohan itu!

Adalah sebuah kebodohan yang teramat sangat bila apa yang hebat itu tidak dibuat menjadi luar biasa tetapi malah dihancurkan. Apalagi jika ditambah dengan kemiskinan, dalam arti miskin pengetahuan dan hati yang menyebabkan seseorang menjadi semakin difensif dan tinggi hati. Setiap usaha apapun menuju perbaikan dan kehidupan yang lebih baik tidak akan pernah berhasil karena memang sudah nyaman dan terbiasa. Orang bodoh, miskin ilmu dan hati, tinggi hati tak mungkin memiliki nyali untuk berubah. Nanti ketahuan dan terbongkarlah semuanya!

Tidak perlu heran atas semua ini, waktu sudah membuktikannya. Dari masa ke masa, siapapun orang pintar, kaya ilmu dan hati, dan rendah hati akan selalu mendapatkan kendala besar yaitu menghadapi kebodohan masyarakat sekelilingnya. Bahkan tak sedikit yang mati dan dihancurkan. Nanti begitu waktu sudah berjalan sekian lama, barulah orang-orang menyadarinya. Itu pun hanya jika sudah pintar dan kaya ilmu serta hati, dan rendah hati. Yang bodoh tetap saja tak akan pernah berubah. Mereka yang bodoh akan terus difensif, menyerang, dan menghancurkan dengan segala pembenarannya. Dengan menggunakan “atas nama” pula karena tidak memiliki keyakinan penuh dan utuh.

Kebodohan ini memang bisa dibuat oleh orang lain namun kebodohan yang paling dahsyat justru dibuat oleh diri sendiri. Manusia ditakdirkan berbeda, tidak ada satu pun yang sama. Adalah pilihan yang membuat manusia menjadi sama, karena sama-sama diberikan akal dan hati untuk memiliki jumlah pilihan, menentukan pilihan, dan mempertanggungjawabkan segala resiko dan konsekuensi atas pilihan tersebut. Jika sudah memilih tetap menjadi bodoh, mau apa lagi?!

Masalahnya, hanya orang pintar yang mau dan berani mengakui dirinya bodoh. Orang kaya yang ilmu dan hati yang akan terus berusaha mencari untuk lebih memperkaya dirinyaa. Hanya orang yang rendah hati yang akan mampu belajar dan terus belajar. Mereka berani menerima fakta dan kenyataan yang sebenarnya untuk kemudian dipikirkan apa yang lebih baik demi masa depan dan kehidupan di masa yang akan datang.

Terbalik dengan orang bodoh. Orang bodoh akan terus merasa bahwa dirinyalah yang paling pintar. Membuat dirinya justru semakin miskin ilmu dan tidak memiliki hati. Kerendahan hati itu pun hanya sekedar diucapkaan untuk mendapatkan nilai dan pandangan baik dari manusia di sekitarnya. Fakta dan kenyataan yang ada itu pun akan terus berusaha dipungkiri dan diingkari karena terlalu takut menghadapinya. Ya, mana ada orang bodoh yang mau mengakui dan menyadari bahwa dirinya bodoh.

Celakanya, barangkali memang sudah menjadi takdir juga, orang pintar jauh lebih sedikit dibandingkan orang bodoh. Orang yang benar pintar pun menjadi bodoh karena lingkungan di sekelilingnya tidak akan pernah menerimanya. Kalau sebuah kelompok masyarakat sudah dikuasai dan didominasi orang bodoh, maka siapa yang pintar?!

Oleh karena itu, menurut saya, lebih baik tak usah lagi mengeluh dan bahkan menuduh. Siapapun tidak akan ada yang bisa memaksa seseorang untuk menjadi pintar. Tidak ada juga yang mampu mengusik kenyamanan orang yang bodoh dan dengan kebodohannya. Biarkan saja semua menikmati apapun yaang sudah dipilih dan membuatnya nyaman. Segala sesuatu pasti ada resiko dan konsekuensinya masing-masing.

Jika memang benar pintar dan “kaya”, tentunya tidak akan tinggal diam. Berusaha keras agar ada perubahan dan dengan cara yang pintar pula. Cara-cara yang dilakukan oleh orang bodoh dan picik seperti difensif, menyerang, menjatuhkan, menikam dari belakang, tidak akan pernah dilakukan. Tidak perlu ada iri hati, dengki, kecaman, dan ancaman karena tidak memiliki kepentingan apapun, termasuk pengakuan dan eksistensi. Sadar penuh bahwa semua itu hanya akan menghancurkan, yang hebat itu pun akan binasa. Fakta dan kenyataan yang ada pasti akan diterima dan dihadapi dengan kerendahan hati dan justru menjadi pemicu untuk melakukan yang lebih baik lagi. Lagipula, apa yang harus ditakutkan?! Ada Dia Sang Maha Kuasa!

Orang pintar dan kaya ilmu serta hati, tentunya paham betul apa yang dicari dan dituju. Semuanya akan bermuara pada kebahagiaan, kemerdekaan, dan semua itu baru akan tercapai bila ada kedamaian. Damai itu ada di dalam diri masing-masing yang membuat seseorang mampu menjadi lebih bijaksana di dalam menentukan sikap dan langkah. Bila damai itu ada maka perubahan dan kemajuan akan dapat terus diraih oleh mereka yang pintar dan “kaya”, sehingga bahagia dan merdeka itu akan senantiasa. Apa yang hebat itu pun akan menjadi semakin hebat dan luar biasa.

Bukan hanya sekedar ucapan dan kata, orang pintar akan melakukan sesuatu yang benar-benar nyata dan berguna bagi semua. Biarlah orang bodoh itu menikmati semua kebodohan itu. Jadilah orang pintar! Hormati anugerah yang sudah diberikan oleh-Nya itu untuk kepentingan semua dan bersama. Manusia sejati tidak ada yang bodoh!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

11 November 2011

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menikmati Upah Kebodohan

  1. bustami says:

    salam knal sllu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s