Berlayar Menuju Pelabuhan Terakhir

Berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan. Merapat dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Mencari di setiap daratan yang disinggahi. Mencoba menemukan apa yang dicari. Ada banyak suka dan duka terjadi. Tidak mudah mendapatkan apa yang paling diinginkan. Terkadang manusia seringkali tidak tahu apa yang sebenarnya dicari. Berlayar dan terus berlayar. Berharap ada pelabuhan terakhir meski tak tahu apa dan di mana pelabuhan itu berada.

Saya masih ingat sewaktu berusia sekitar dua belas tahun saya pernah marah sekali. Waktu itu saya sampai berteriak di depan keluarga besar, “I don’t believe in God!” – “Saya tidak percaya Tuhan!”. Tentunya membuat terkejut dan berbalik marah. Biarpun tidak diungkapkan lewat kata-kata namun sangat terasa sekali apa yang mereka rasakan. Wajah merah padam dan geram tidak bisa disembunyikan. Saya sama sekali tidak peduli.

Sejak kecil saya diperkenalkan dengan Tuhan. Malah lewat berbagai cara yang berbeda. Bukan membuat saya bingung, tetapi justru malah heran. Bila Dia memang ada, kenapa caranya berbeda-beda?! Bukankah Dia hanya satu?! Apalagi bila terus dijadikan bahan untuk pertentangan dan bahan untuk cemoohan antara satu dengan yang lainnya. Saling menghujat dan mencaci maki. Sementara semua mengatakan bahwa manusia adalah ciptaan-Nya. Kenapa, dong, kemudian menjadi saling menghancurkan satu dengan yang lainnya?! Ah! Bohong semua!!!

Di satu sisi, saya seperti ”diberikan” untuk menjadi pelayan Tuhan. Di sisi lain, saya pun seperti ”diwajibkan” untuk mau mengikuti apa yang telah diwariskan secara turun menurun. Memang bukan dengan perilaku yang sedemikian rupa, namun kata-kata memiliki banyak arti dan makna. Saya termasuk orang yang sangat sensitif dan sangat perasa. Sejak kecil, kata adalah hidup saya dan saya selalu meresapinya. Oleh karena itulah, saya tidak bisa menerima semua itu.

Ditambah lagi dengan ”darah” dan ”daging” yang membentuk tubuh saya ini. Campuran dari dua sisi yang sangat bertolak belakang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mengaku pribumi pun tak diakui, mengaku turunan pun tak diterima. Lantas, saya ini siapa?! Saya ini apa?! Sampah?!

Sejak kecil juga, saya sudah terbiasa dengan semua penolakan itu. Berbagai kata-kata tak pantas dan perilaku serta perbuatan yang sungguh menyakitkan hati, terlalu sering dilakukan. Menyirami tubuh, pikiran, dan hati saya dengan luka dan membuat saya malu untuk pergi keluar dan menemui banyak orang. Saya sering takut menghadapi semua. Sebegitu hinanya diri saya ini hingga harus membuat malu banyak orang. Sehingga kemudian, pensil, kertas, spidol, crayon, dan buku-buku menjadi teman dan sahabat setia. Merekalah yang menjadi sahabat saya sehari-hari.

Pelayaran saya dimulai sejak saat itu. Membuat saya penasaran sekali. Apa, sih, Dia?! Siapa Dia?! Mengapa saya harus memuja-Nya?! Mengapa harus menjadi bodoh dan terus memuji-Nya?! Apa hebatnya Dia?! Dia telah membuat saya menjadi sedemikian terhinanya. Untuk apa saya berada di sini?! Hanya untuk mendapat hinaan dan cemoohan?! Hanya untuk dijadikan bulan-bulanan dan dibuang?! Jika memang Dia ada, Dia pasti akan menolong saya dan tidak akan membuat saya harus mengalami semua itu.

Buku-buku filsafat dan humanisme sosiologi memang sudah sering saya lahap. Saya mulai tertarik untuk membacanya sejak kelas 5 SD. Barangkali itu juga yang membuat saya menjadi demikian. Menurut ahli jiwa yang sering membantu saya, keseimbangan antara pikiran, jiwa, dan mental saya sangat tidak berimbang. Saya disarankan untuk lebih banyak bermain dan itu sangat sulit saya lakukan. Saya lebih suka membaca buku dan menulis saja. Semua tulisan yang ada di hadapan saya pasti saya baca dan saya senang sekali mengingat-ingatnya serta memikirkannya, lalu menuliskannya kembali. Meskipun juga harus kembali mendapatkan marah.

Pelabuhan demi pelabuhan saya datangi. Saya ingin sekali mengetahui semua itu. Saya ingin tahu!!! Saya mau tahu!!! Saya harus tahu!!! Hanya itu yang di dalam benak saya.

Kerap kali saya pun menjadi tinggi hati dan sombong. Merasa telah tahu dan mengetahui semuanya. Memahaminya dengan baik dan merasa menjadi lebih baik. Hingga pada suatu saat saya mengalami sebuah peristiwa yang menghentakkan diri saya. Meluluhlantahkan semua yang ada di dalam pikiran dan hati saya. Ternyata, saya ini benar-benar sombong dan tinggi hati. Oleh karena itulah, saya tidak pernah bisa mengenal Dia.

Saya bisa merasa pintar, baik, cantik, hebat, dan luar biasa, tetapi selalu ada yang lebih pintar, lebih baik, lebih cantik, lebih hebat, dan lebih luar biasa lagi. Di atas langit selalu ada langit. Barangsiapa yang berhenti hanya pada lapisan langit tertentu, tidak akan pernah bisa melihat langit di atasnya. Tidak juga pernah bisa merasakan langit di bawahnya. Lalu untuk apa manusia ini ada?!

Semakin banyak pelabuhan saya datangi. Semakin banyak daratan saya jelajahi. Saya tidak mau berhenti untuk mencari tahu karena saya ingin kenal dan menjadi lebih dekat dengan-Nya. Inilah yang mendorong saya untuk terus sekolah, terus membaca, dan terus menulis. Saya tidak akan pernah mau berhenti untuk belajar. Biarpun harus melewati berbagai aral dan rintangan yang keras. Meskipun harus dihantam topan dan badai yang dahsyat. Tidak ada satupun dari semua perjalanan dan pelayaran yang tidak berarti dan bermakna. Semua yang terbaik selalu diberikan oleh-Nya.

Saya sadar sekali dan merasa sangat bersyukur atas apa yang pernah saya alami dan pernah terjadi dalam kehidupan saya selama ini. Jatuh dan bangun, di atas dan di bawah, dibuang dan terbuang, disanjung, dipuja, dan dihina serta dimaki hanyalah bagian dari pembelajaran. ”Sekolah” saya belum lulus ujian, karena itulah saya terus diberikan pelajaran berharga. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, tetapi semua pelajaran inilah yang mempersiapkan saya untuk bisa menghadapinya.

Sejak saat itulah juga, saya menolak untuk menilai seseorang berdasarkan pilihan hidupnya di dalam mengenal, mencari, menjadi dekat, dan memuja-Nya. Saya tidak berhak untuk menilai karena saya sendiri pun tidak mau dinilai karena pilihan yang saya ambil. Hanya sedikit mungkin yang tahu apa pilihan yang sebenarnya?! Saya juga tidak mau tahu apa pilihan yang lain bila tidak mengatakannya sendiri. Apa yang ada di dalam hati saya, biarlah hanya Dia yang mengetahuinya. Apa yang saya rasakan dan apa yang saya lakukan tidak pernah bisa lepas dari-Nya. Dia ada di dalam saya, dan dia ada di dalam semua ciptaan-Nya. Kenapa saya harus menilai dan diberi nilai bila semua adalah sama. Semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dialah pelabuhan terakhir saya dan saya yakin pelabuhan terakhir semua.

Saya tidak suka memuji diri saya sendiri karena telah melakukan banyak hal karena menurut saya, semua itu tidak berarti banyak. Masih terlalu sedikit yang saya lakukan karena sebenarnya ada banyak lagi yang bisa saya lakukan. Terlalu besar dan terlalu banyak berkat dan rahmat diberikan oleh-Nya. Cinta-Nya kepada saya sungguh sangat luar biasa dan saya tidak akan pernah bisa membalasnya. Yang hanya bisa saya lakukan adalah untuk selalu mengembalikan semua yang telah saya terima itu kepada semua sebagai ucapan syukur dan juga rasa hormat saya kepada-Nya.

Manusia bisa bicara dan menunjuk jari dengan sedemikian mudahnya. Yang paling sulit adalah bercermin dan berkaca pada diri sendiri. Mengakui dengan jujur apa dan siapa kita sebenarnya. Belajar untuk memiliki cinta yang sesungguhnya dan memenuhi diri dengan cinta yang penuh dengan ketulusan dan keikhlasan. Memberi adalah kenikmatan tersendiri dan jauh lebih nikmat daripada menerima. Apalah artinya nilai manusia bila sadar dan mengakui bahwa nilai itu hanya ada pada-Nya.

Marilah kita sama-sama merendahkan dan menyatukan hati kita dalam cinta-Nya. Memenuhi diri kita dengan semua cinta terindah yang diberikan oleh-Nya. Memberikan cinta terindah yang kita miliki untuk-Nya dan juga untuk semuanya. Kehidupan ini terus berjalan dan kebahagiaan adalah mimpi kita bersama. Marilah sama-sama juga meraihnya dan bersama juga kita menjadikan surga itu milik semua.

Hidup ini adalah pengabdian, perjuangan, dan kerja keras. Proses adalah yang harusnya dihargai, biarlah nilai akhir dan pencapaian itu diberikan oleh-Nya. Memberikan selalu yang terbaik dan janganlah menjadi tinggi hati dan sombong karena telah berbuat dan melakukan. Pikirkan dan rasakanlah selalu apa yang memang terbaik yang bisa dilakukan untuk semua agar kehidupan ini menjadi lebih baik lagi.

Di dalam kesempatan ini, saya memohon maaf atas segala perbuatan yang telah saya lakukan baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja dan yang tidak saya sadari ataupun tidak sadari telah membuat susah, sakit, perih, dan marah. Semoga Tuhan selalu memberikan yang terindah bagi kita semua. Amin.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

8 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s