Rasionalisasi Pemikiran Tentang Demokrasi dan Kebebasan

Illustrasi: alexander-damar.blogspot.com

Apakah menjadi rasional dalam berpikir adalah sesuatu yang paling penting untuk menjadi intelektual?! Apakah pemikiran rasional itu?! Mengapa harus ada rasionalisasi?! Mengapa demokrasi dan  kebebasan itu menjadi rasional?! Apa arti demokrasi dan kebebasan secara rasional?! Apakah rasionalisasi pemikiran tentang demokrasi dan kebebasan itu diperlukan?!

Beberapa waktu yang lalu, sekelompok anak muda yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di Aceh berdiskusi dengan saya tentang demokrasi dan kebebasan. Mereka berkeluh kesah tentang keadaan di sana saat ini, begitu juga di Indonesia pada umumnya, di mana demokrasi dan kebebasan itu tidak ada sama sekali. Mereka ingin menuntut keadilan dengan mengatasnamakan demokrasi dan kebebasan. Saya pun bertanya kepada mereka, ”Sudahkah kalian mengerti apa itu demokrasi dan apa itu kebebasan?!”

Mereka kemudian menggambarkan kepada saya bagaimana sebuah negara dan wilayah yang demokratis dan bebas menurut versi yang ada di dalam benak dan pemikiran mereka. Sebuah keadaan di mana keadilan benar-benar ditegakkan. Feodalisme dan otoriter tidak ada dan sama sekali tidak ada penguasa. Hak asasi dikedepankan dan siapa pun boleh menjadi siapa saja seperti yang diinginkan. Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, ”Apa sebenarnya keadilan yang dimaksud?! Apakah dengan menjadi yang merdeka sendiri dan  diistimewakan itu adil?! Apa itu hak asasi manusia?! Apakah dengan bebas menuntut untuk mendapatkan perlakuan istimewa itu adil?! Bila bicara tentang hak asasi manusia maka seharusnya juga bicara tentang kewajiban asasi manusia. Itu baru adil namanya.”

Bisa saya maklumi bila mereka yang masih muda ini kesulitan untuk menjawab pertanyaan saya itu. Memang tidak mudah untuk bisa paham dan mengerti apa itu demokrasi dan apa itu kebebasan. Mereka yang mengaku kaum inteletual, kaum elite, dan kaum yang berkuasa pun pada kenyataannya sama sekali tidak mengerti tentang demokrasi dan juga kebebasan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Kenapa demokrasi itu hanya diartikan sama dengan pemilihan langsung?! Apa benar jika sudah ada pemilihan umum langsung berarti sudah demokratis. Bila sudah memberikan kebebasan kepada setiap partai untuk mengajukan pemimpin dan untuk kemudian dipilih berarti sudah demokratis. Bila yang mayoritas itu berkuasa dan berhak melakukan apa saja atas nama kepentingan suara terbanyak itu sudah benar-benar membebaskan dan adil?! Bila sudah memberikan dan diberikan otonomi dan hak istimewa daerah  berarti sudah adil dan memberikan kebebasan. Apa benar itu sudah sangat demokratis, adil, dan juga bebas?! Alasannya apa?! Sejarah, budaya, potensi kekayaan alam atau kekuasaan?!

Hal ini juga diperburuk dengan sikap media massa yang selalu mengatasnamakan demokrasi dan kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Apakah dengan menayangkan gosip dan mempertontonkan serta memberitakan segala pembodohan itu sudah sangat demokratis dan adil?! Yakin bukan hanya untuk kepentingan materi dan komersialisasi industri semata?! Apa benar sudah membantu memperbaiki kehidupan bangsa dan negara menjadi lebih demokratis dan bebas?!

Jika memang sudah sangat demokratis dan bebas, mana mungkinlah keadaan kita seperti sekarang ini. Apa mungkin karena sudah sangat demokratis dan bebas sehingga kita menjadi seperti sekarang ini?! Apa sebenarnya yang terjadi?!

Menurut saya, semuanya sudah menjadi salah kaprah karena pola pikir dan cara pandang kita semua yang sudah sangat sempit. Rasional hanya diartikan dengan bisa berpikir menggunakan otak di kepala dan semua perbuatan serta tindakan yang rasional adalah yang realistis. Sementara faktor irasional yang sebenarnya merupakan bagian dari rasional yang tidak bisa diabaikan begitu saja, dianggap tidak penting dan tidak realistis sama sekali.

Di sini kita bicara tentang rasional hati, di mana rasional otak yang hanya mampu berpikir 20 % itu menjadi lebih diutamakan dibandingkan dengan rasional hati yang mampu berpikir sampai 60%. Sehingga kemudian rasional yang diyakini sekarang ini sebenarnya hanya sebuah rasionalisasi atas pemikiran yang terbatas saja. Tidak menyeluruh dan bagi saya, sama sekali tidak rasional ataupun realistis. Sangat pendek dan sangat kaca mata kuda.

Di sinilah kemudian permainan pembodohan menjadi lebih mudah dipermainkan karena segala sesuatunya bisa dirasionalisasikan dengan mudahnya. Termasuk juga demokrasi dan kebebasan itu sendiri. Pemahaman atas demokrasi dan kebebasan dibatasi hanya pada pandangan rasional yang diyakini dan juga yang dianggap realistis dalam pandangan yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan langsung pada saat dan waktu tertentu saja.

Benar-benar sudah menjadi manusia penonton  dan manusia pembuat tontonan. Jangka panjang pun hanya menjadi sebuah rasionalisasi atas mimpi di siang bolong. Berkesan sangat realistis namun sebenarnya hanya buang waktu dan energi saja. Pantas dan wajarlah bila perubahan tidak akan pernah terjadi. Berkeringat dari satu kedai kopi ke kedai lainnya pun hanya sekedar untuk saling berbual rasionalisasi saja. Pemimpin, penguasa, masyarakat, yang ditindas, tak ada bedanya. Pembodohan terus berlanjut. Yang membodohi tak tahu telah membodohi dan dibodohi, yang dibodohi pun tak tahu telah dibodohi dan terus melanjutkan pembodohan. Perubahan?! Ouch!!!

Permasalah tidak akan pernah selesai bila tidak dicari dan dimulai dari akarnya. Benang kusut tidak bisa diuraikan bila tidak dimulai dari ujungnya. Demokrasi itu adalah kedaulatan berada sepenuhnya di tangan rakyat, dan kebebasan itu bukan berarti mayoritas bisa berkuasa serta boleh mengabaikan peraturan dan landasan utama pembentukan sebuah negara maupun wilayah.

Keadilan yang seadil-adilnya adalah prinsip dasar demokrasi, di mana pemilihan umum yang dilakukan tanpa sebuah proses yang jujur dan adil, yang hanya mengobral janji, sama sekali tidak demokratis. Otonomi dan hak istimewa yang diberikan kepada daerah atas dasar hak asasi manusia bila tidak mendahulukan kewajiban hak asasi manusia hanyalah sebuah tirani dan bentuk baru dari feodalisme. Otoriter tetap akan berlangsung dan demokrasi serta kebebasan itu tidak ada sama sekali.  Apa harus terus berlanjut?!

Marilah kita sama-sama merendahkan hati dengan terus mau belajar dan belajar. Janganlah tinggi hati dan merasa sudah mengerti serta paham atas semua yang sudah dilihat dan didengar serta dirasakan. Bila memang merasa rasional, janganlah pernah mengabaikan faktor yang dianggap irasional. Rasional dan irasional adalah sebuah kesatuan dalam pemikiran yang membentuk sebuah pandangan modern dalam skala yang lebih luas dan menyeluruh serta berorientasi ke masa depan. Jauh lebih realistis dari hanya sekedar realistis.

Semoga bermanfaat!

Mariska Lubis

Aceh Institute, 20 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s