Bahagia Bagi Bumi

Illustrasi: rhinestonedesignbydenise.com

Tak terasa sudah tiba di hari Natal kembali. Hari di mana semua umat Kristiani dan Katholik sedunia merayakan kelahiran Yesus Hari yang tentunya dipenuhi dengan kebahagiaan untuk semua umatnya di bumi ini.

Belajar dari kisah kelahiran Yesus atau Isa, tentunya ada banyak sekali yang dapat dipetik hikmah dan manfaatnya. Mengapa Yesus justru lahir di palungan yang jelas merupakan tempat makan ternak? Mengapa juga Yesus harus dilahirkan dari seorang Maria yang bukan dari keturunan bangsawan? Namun demikian, Yesus atau Isa ini justru terpilih dan menjadi yang luar biasa. Baik seluruh umat Kristen maupun Islam, sama-sama mengakui pelajaran cinta dan kasih sayang yang diajarkannya.

Berbeda sekali, ya, dengan kita semua ini. Yang sudah mendapatkan kenikmatan luar biasa dan berlebih pun tidak bersyukur. Selalu saja ada kekurangan yang membuat  semua menjadi lupa pada hati kita sendiri. Tinggi hati dan kesombongan telah menghancurkan kebahagiaan yang seharusnya dimiliki semua. Tidak lagi memberikan banyak manfaat lewat sentuhan cinta dan kasih sayang, tetapi selalu sibuk untuk kepentingan diri sendiri.

Begitu juga dengan yang terlahir tanpa sendok dan garpu perak. Terlahir dan hidup di dalam kemiskinan selalu dikeluhkan. Terus saja meminta dan menuntut, lalu menuduh yang kaya telah berlaku tidak adil dan sewenang-wenang. Tuhan pun digugat karena telah memberikan perbedaan. Padahal, menjadi kaya dan miskin sama-sama merupakan anugerah, sama-sama bisa memberikan arti dan manfaat bagi semua. Senyum terindah bukankah lebih berharga dari semuanya?!

Sebuah cerita menakjubkan dari Injil, yang bagi saya sangat penting adalah kisah tentang Zakeus.  Zakeus yang digambarkan sebagai orang “kecil” dan sangat malu bahkan untuk melihat Yesus. Yesus pun menghampirinya saat Zakeus naik ke atas pohon. “Hai, Zakeus, turunlah! Aku akan datang ke rumahmu.”  Betapa bahagianya Zakeus, sebagai orang “kecil”, mendapat kehormatan dihampiri dan disentuh oleh orang “besar” tentunya sangat berarti sekali. Ada banyak keindahan yang kemudian mendorong Zakeus untuk dapat diberikan kepada yang lainnya walaupun orang “kecil” dan bukan harta duniawi yang diterima dan dimilikinya.

Cerita tentang pelacur pun sangat berbekas di hati saya. Saya teringat dalam sebuah kisah di dalam Injil yang bercerita tentang seorang pelacur yang hendak dirajam oleh orang-orang. Perbuatannya dianggap hina dan tercela sehingga pelacur itu patut dibinasakan. Tetapi, Yesus kemudian berkata kira-kira demikian, “Apakah ada di antara kalian yang tidak berdosa?! Jika memang ada, maka rajamlah dia.” Maka, orang-orang itu pun berhenti merajam pelacur itu dan pelacur itu pun menjadi bertobat.

Kisah tentang bagaimana Yesus dikhianati oleh muridnya sendiri dan mati di kayu salib juga sangatlah luar biasa. Yesus bukannya kemudian marah, tetapi justru memaafkan.  Yesus bahkan melarang murid-muridnya yang lain untuk balas dendam, Yesus malah meminta mereka juga untuk memaafkan. Bagaimana dengan kita manusia? Sungguh mudah bagi kita untuk meminta maaf dan berkata memaafkan, tetapi benarkah demikian?!

Jangankan memaafkan, manusia selalu dipenuhi dengan marah, iri hati, dengki, dan dendam.  Manusia sangat mudah menuduh dan paling suka menghukum. Hanya sedikit saja yang memiliki nyali untuk bercermin dan berkaca. Berbagai alasan diuraikan untuk membenarkan perbuatan, bahkan dengan cara-cara yang sangat keji dan kasar. Padahal, semua tidak akan ada yang dapat berubah bila tidak ada hati yang melakukannya. Tidak ada cinta dan kasih sayang yang menyentuhnya. Kekerasan hanya akan berbuah kepedihan dan kepahitan sementara cinta dan kasih sayang berbuah keindahan.

Pertentangan antara umat Kristen dan Islam sekarang ini, bagi saya sangatlah memalukan bagi keduanya karena kedua agama ini merupakan agama yang mengajarkan cinta dan kasih sayang. Jika memang benar-benar meyakini Tuhan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang serta menerapkan semua ajaran yang ada, apakah sampai harus ada saling baku hantam, menghina, merendahkan, dan bahkan membunuh?! Siapakah diri kita ini sesungguhnya sehingga untuk menyapa, memberikan salam, dan memberikan selamat pun dilarang?! Bukankah kita semua hanyalah makhluk Tuhan yang tidak memiliki kuasa atas manusia lainnya?!  Pernahkah Tuhan mengajarkan makhluk ciptaan-Nya untuk tidak saling menghormati dan menghargai?! Siapakah yang sesungguhnya berdosa dan hina?! Siapakah yang sudah menjadi pahlawan atau panglima dan siapakah yang sebenarnya sudah merusak dan menghancurkan?!

Saya memang bukan umat Kristiani ataupun Katholik, saya juga bukan orang yang ahli kitab dan agama. Saya hanyalah manusia biasa yang berusaha keras untuk menjadi seorang muslim yang benar dan yakin hanya pada Dia. Saya dibesarkan oleh keluarga dengan didikan dua agama yang berbeda, dan juga bersekolah di tempat yang penuh dengan berbagai keyakinan berbeda.  Saya bahkan juga pernah merasakan pahitnya diperlakukan berbeda oleh manusia-manusia yang mengaku memiliki agama berbeda tersebut. Disiram air got dan dilempar makanan karena dianggap haram sudah menjadi bagian dalam proses pembelajaran dalam kehidupan saya, dan saya sangat bersyukur pernah merasakannya.

Oleh karena itulah, saya tidak pernah mau berkeyakinan kepada apa yang diyakini manusia. Saya tidak mau menjadi manusia penonton yang sibuk hanya dengan diri sendiri, yang merasa memiliki surga dan berhak untuk menentukan nilai serta menghukum begitu saja. Saya hanya mau berkeyakinan pada Dia. Belajar dan terus belajar adalah merupakan kewajiban yang akan terus saya lakukan karena saya yakin, itulah satu-satunya cara untuk dapat mengisi diri dan menjadi lebih dekat dengan-Nya. Belajar dari apapun, dan siapapun tanpa ada yang dapat membatasinya. Bila saya tidak melakukannya, saya menjadi malu karena itu sama saja artinya saya tidak bersyukur, tidak menghormati, dan menghargai Tuhan.

Semua adalah pilihan dan tidak ada yang dapat memaksa ataupun dipaksakan. Nilai itu hanyalah milik Dia, dan surga atau neraka bukanlah manusia yang menentukan. Adalah hak manusia untuk memilih dan menentukan pilihan, adalah kewajiban manusia untuk menanggung semua resiko dan mempertanggungjawabkannya. Surga dan neraka ada di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Cinta dan kasih sayang yang diajarkan itu seharusnya menjadi bekal dan penuntun bagi semua agar tetap memiliki cinta dan kasih sayang, karena hanya dengan itulah bahagia senantiasa bersama kita semua.

Selamat Hari Natal! Damai di bumi! Bahagialah!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis                                

24 Desember 2011

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s